Bencana Alam dan Ancaman Bencana yang Dibatalkan dalam Al-Quran

Oleh: Ir. Drs. Abdullah, MT.

Fenomena Alam dan Ancaman Bencana

Banyak ayat dalam Kitab Suci Al-Quran yang memuat fenomena alam yang menunjukkan keberadaan dan kekuasan ALLAH SWT., Tuhan Yang Maha Esa. Ayat-ayat tersebut diturunkan oleh-Nya agar manusia mau percaya dan beriman kepada-Nya sekaligus mengajak manusia untuk memikirkan dan mempelajarinya agar dapat memanfaatkan fenomena alam tersebut untuk kesejahteraanya, atau untuk dapat menghindar dari fenomena alam yang kemungkinan dapat menimbulkan bencana alam. Ayat-ayat tersebut merupakan bentuk ketegasan sekaligus peringatan dari ALLAH SWT terhadap manusia supaya tidak berbuat durhaka agar tidak ditimpa bencana sebagai azab atau siksaan atas kedurhakaannya. Beberapa ayat berikut memuat fenomena alam dan ancaman bencana (azab):

  • Quran Surah (QS) An-Nahl ayat 12: “Dan Dia menundukkan bagimu malam dan siang, dan matahari serta bulan, dan bintang-bintang ditundukkannya dengan perintah-Nya, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi yang memahami(nya).”
  • QS An-Naml ayat 88: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan seperti jalannya awan.”
  • QS An-Naba’ ayat 6–7: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?”
  • QS Ar-Ra’d ayat 41: “Apakah mereka tidak melihat bahwa secara berangsur-angsur Kami kurangi bumi itu dari ujung-ujungnya?”
  • QS Al-Qamar ayat 16–17: “Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”
  • QS Al-Qamar ayat 21–22: “Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”
  • QS Al-Hijr ayat 77: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”

Bencana Alam

Dalam sains modern bencana dibagi atas bencana alam, bencana non-alam dan bencana sosial. Bencana alam sendiri dibagi atas bencana geologi dan bencana hidro-meteorologi. Contoh bencana geologi adalah bencana gempabumi, tsunami, likuefaksi, letusan gunungapi, tanah longsor, sinkhole, dan lain-lain. Contoh bencana hidro-meteorologi adalah bencana banjir, banjir bandang, banjir rob, gelombang ekstrim, badai tropis, cuaca ekstrim (hujan deras dengan durasi lama, angin topan/angin kencang/angin ribut, tornado, guntur/petir, suhu ekstrim dan lain-lain), kekeringan, karhutla, dan lain-lain. Al-Quran memuat beberapa kisah kaum durhaka, kemudian kaum tersebut ditimpa bencana alam, baik bencana geologi dan/atau bencana hidro-meteorologi, yaitu:

Pertama. Kaum yang mendustakan Nabi Nuh As. Setelah 950 tahun berdakwah dan hanya sedikit dari mereka yang beriman, ALLAH SWT memerintahkan kepada Nabi Nuh As. untuk membuat bahtera besar di atas gurun/daratan, yang membuat kaumnya semakin mengolok-olok beliau. Kemudian, mereka ditimpa bencana banjir yan sangat dahsyat. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa hujan terjadi selama 40 hari disertai angin topan dan mataair-mataair yang memancar dengan sangat deras. Al-Quran mengabadikan kisah Nabi Nuh As. dan kaumnya dalam beberapa ayat, diantaranya adalah:

  • QS Hud ayat 38: “Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melintasi Nuh, mereka mengejeknya. Nuh berkata, ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)’.”
  • QS Al-Qomar ayat 11–12: “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mataair-mataair, maka bertemulah air langit dan air bumi untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”
  • QS Asy-Syu’ara ayat 119–120: “Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tersisa.”
  • QS Hud Ayat 42–43: “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Hai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ Anaknya menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata, ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”

Kaum durhaka ini diazab dengan lebih dari satu jenis bencana alam, yakni bencana banjir selama 40 hari serta angin kencang dan gelombang ekstirm. Dalam kejadian ini, istri Nabi Nuh As., bernama Walighah, dan putranya yang bernama Kan’an termasuk orang-orang yang diazab. [Setelah banjir surut, diperkirakan bahtera tersebut tedampar di atas bukit Judi di Turki bagian tenggara sekarang (menurut literatur Islam) atau pegunungan Ararat (menurut literatur Yahudi-Kristen). Namun demikian, bisa saja kedua nama tersebut merujuk pada wilayah yang sama].

Ke-2. Kaum Aad yang mendustakan Nabi Hud As. Mereka yang mendiami wilayah semenanjung Arab bagian selatan (sekitar perbatasan Oman – Yaman sekarang) tersebut, ditimpa cuaca ekstrim (angin topan) yang dahsyat. Dalam sebuah riwayat, angin topan ini berhembus selama 7 malam 8 hari. Kisah Nabi Luth As. dan kaumnya diabadikan dalam beberapa ayat Al-Quran, diantaranya adalah:

  • QS Al-A’raf ayat 65–66: “Dan Kami telah mengutus kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain diri-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya? Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam kekurangajaran (kurang akal) dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”
  • QS Hud ayat 53–54: “Mereka berkata, ‘Wahai Hud! Kamu tidak membawa suatu bukti yang nyata kepada kami, dan kami tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena perkataanmu, dan kami tidak akan mempercayaimu. Kami hanya mengatakan bahwa sebagian tuhan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu…”
  • QS Asy-Syu’ara ayat 139: “Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”
  • QS Al-Qomar ayat 19–20: “Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus-menerus, yang membuat manusia bergelimpangan, mereka bagaikan pohon-pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya.”

Kaum durhaka ini diazab dengan satu jenis bencana alam, yakni bencana angin topan selama 7 malam 8 hari.

Ke-3. Kaum Tsamud yang mendustakan Nabi Shaleh As. Mereka mendiami wilayah Al-Hijr atau Al-Hijir (Mada’in Shaleh, barat laut Arab Saudi sekarang). Dalam Al-Quran dikisahkan bahwa kaum Tsamud durhaka kepada ALLAH dan utusan-Nya, yakni Nabi Shaleh As. sehingga mereka diazab. Ayat-ayat yang memuat kisah tersebut, diantaranya adalah:

  • QS Hud ayat 61: “Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia…'”
  • QS Hud ayat 64: “Dan wahai kaumku! Ini unta betina dari Allah sebagai mukjizat untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah…”
  • QS Al-A’raf ayat 77-78: “Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: ‘Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Rasul)’. Karena itu mereka ditimpa gempabumi yang dahsyat, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.”
  • QS Asy-Syams ayat 14: “Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan membinasakan mereka karena dosa-dosa mereka, lalu Dia meratakan mereka (dengan tanah).”
  • QS Hud ayat 67–68: “Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.”
  • QS Fussilat ayat 17: “Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu; maka mereka tersambar oleh petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.”
  • QS Al-Qamar ayat 31: “Kami kirimkan atas mereka satu suara yang mengguntur, maka jadilah mereka seperti reruntuhan pagar pondok tanaman (ranting-ranting kering) yang rapuh.“

Kaum durhaka ini diazab dengan lebih dari satu jenis bencana alam, yakni bencana gempabumi serta petir dan guntur.

Ke-4. Penduduk Kota Sodom (Sadun) yang mendustakan Nabi Luth As. Mereka mendiami wilayah di sekitar Laut Mati (Dead Sea) atau Laut Asin (kadar garamnya sangat tinggi), di sekitar perbatasan Yordania – Israel – Palestina sekarang). Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa kaum Luth sering kali berbuat maksiat dan mempratekkan penyimpangan seksual. Nabi Luth As. menasihati dan mengajak mereka kepada kebenaran tetapi diingkari. Lalu, turunlah azab ALLAH SWT kepada mereka. Kejadian ini diabadikan dalam beberapa ayat, diantaranya adalah:

  • QS Asy-Syu’ara ayat 160–161: “Kaum Luth telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?'”
  • QS Al-Ankabut ayat 28–29: “Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?’ Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”
  • QS Al-Hijr ayat 73–74: “Maka mereka dibinasakan dengan suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”.
  • QS Al-Qomar ayat 34: “Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing”.
  • QS Hud: 82: “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”.

Kaum durhaka ini diazab dengan lebih dari satu jenis bencana alam, yakni bencana gempabumi yang memicu likuefaksi, angin topan dan letusan gunungapi yang melontarkan batu pijar. Dalam kejadian ini, istri Nabi Luth As., bernama Walihah atau Wa’ilah, termasuk orang-orang yang diazab.

Ke-5. Penduduk Madyan yang mendustakan Nabi Syuaib As. Mereka adalah Ashabul Aikah (penduduk Aikah) yang mendiami wilayah yang sekarang termasuk Provinsi Tabuk, di barat laut Arab Saudi. Diceritakan bahwa penduduk Madyan telah durhaka kepada ALLAH SWT dan utusan-Nya, yakni Nabi Syuaib As. Mereka menyembah pohon-pohon besar dan menganggapnya sebagai Tuhan. Mereka juga gemar berbuat maksiat.Mereka pun ditimpa azab yang pedih. Ayat-ayat yang mengabadikan kisah mereka, diantaranya adalah:

  • QS Al-Ankabut: 36–37: “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan, saudara mereka Syuaib, maka ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan”. Maka mereka mendustakan Syuaib, lalu mereka ditimpa gempabumi yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.”
  • QS Al-A’raf ayat 90–92: “Pemuka-pemuka kaum Syuaib yang kafir berkata (kepada sesamanya), “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syuaib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi. Lalu datanglah gempabumi yang dahsyat menimpa mereka, dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. Orang-orang yang mendustakan Syuaib seolah-olah mereka belum pernah tinggal di (negeri) itu. Orang-orang yang mendustakan Syuaib, merekalah orang-orang yang rugi.”
  • QS Hud ayat 94: “Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman berama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur (menggelegar), lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.”

Kaum durhaka ini diazab dengan lebih dari satu jenis bencana alam, yakni bencana gempabumi dan guntur.

Ke-6. Qarun sepupu Nabi Musa As. Mereka adalah Bani Israil yang bermukim di Mesir. Pada awalnya Qarun patuh kepada Nabi Musa As., namun setelah kaya raya ia sombong dan lupa daratan. Kemudian, daratan pun menelannya beserta rumah dan hartanya. Kisahnya diabadikan dalam beberapa ayat Al-Quran, diantaranya adalah:

  • QS Al-Qashash ayat 76: “Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah kamu terlalu bangga (dengan hartamu), sungguh Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.'”
  • QS Al-Qashash ayat 78: “Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu) semata-mata karena ilmu yang ada padaku.”…
  • QS Al-Qashash 81: “Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”

Qarun diazab dengan gempabumi yang memicu likuefaksi yang membenamkan dirinya beserta rumah dan hartanya. Atau, sinkbole besar, yakni amblasan permukaan tanah yang membentuk lubang besar, yang membenamkan apa saja yang ada di atasnya.

Ancaman Bencana yang Dibatalkan

Ada juga ancaman bencana alam terhadap suatu kaum yang dibatalkan oleh Tuhan karena kaum tersebut segera bertobat begitu melihat tanda-tanda bencana akan menimpa mereka. Dalam hal ini, adalah kaum Nabi Yunus As., yang mendiami Ninawa atau Niniwe (Irak bagian utara sekarang), Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa: “Ketika kaum durhaka tersebut, melihat langit sangat gelap (tanda-tanda ancaman bencana cuaca ekstrim), mereka pun begegas keluar rumah dan bertobat serta memohon keselamatan kepada ALLAH SWT. Tobatnya diterima dan doanya dikabulkan. Langit pun kembali cerah seperti semula dan mereka pun selamat. Adapun Nabi Yunus As. sendiri sudah terlanjur meninggalkan kaumnya yang disangkanya pasti akan ditimpa bencana. Tuhan mempersempit perjalanannya dan beliau ditelan oleh ikan paus dan tinggal di dalam perutnya beberapa hari. Kisah Nabi Yunus As. meninggalkan kaumnya diabadikan dalam QS Al-Anbiyaa ayat 87 – 88: “Kisah Dzun Nun (Nabi Yunus As.) yang pergi dalam keadaan marah dan berdoa dalam kegelapan berlapis (perut ikan). ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim’. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”

Nabi Yunus As. dikeluarkan oleh Allah SWT dari perut ikan paus dalam keadaan tetap hidup. (Ini adalah mukjizat tersendiri bagi Nabi Yunus As.). Dari kejadian ini, Nabi Yunus As. mempunyai julukan Dzun Nun (Pemilik Ikan). Beliau pun kembali kepada kaumnya yang telah bertobat. Adapun keadaan kaum Nabi Yunus As. setelah mereka bertobat dijelaskan dalam:

  • QS Yunus ayat 98: “Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.”
  • QS As-Saffat ayat 147 – 148: “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.”

Kaum ini diancam azab berupa cuaca ekstrim. Mereka menyadari kesalahannya dan kemudian bergegas bertobat dan memohon keselamatan. ALLAH SWT menerima tobatnya dan mengabulkan doanya. ALLAH SWT membatalkan ancamannya dan mereka pun selamat. Bahkan, setelah bertobat mereka juga dianugerahi kenikmatan hidup.

Mitigasi Bencana

Dalam konsep mitigasi bencana atau pengurangan risiko bencana dikenal tindakan pencegahan (memisahkan sumber ancaman dengan elemen terdampak atau mengurangi/menghilangkan/menghindari sumber ancaman), mitigasi (fisik dan non-fisik), kesiapsiagaan dan peringatan dini. Dari kisah bencana alam di atas dapat diketahui bahwa:

  • Nabi Luth As. bersama orang-orang beriman menyelamatkan diri dengan cara meninggalkan Kota Sodom sebelum bencana menimpa kota tersebut. Begitu Nabi Luth As. mengetahui bahwa Kota Sodom akan ditimpa bencana, beliau pun bersama orang-orang beriman bergegas meninggalkan (menghindari) kota tersebut. Tindakan seperti ini bisa disebut tindakan pencegahan.
  • Kaum Nabi Yunus As. menyelamatkan diri dengan segera bertobat dan memohon keselematan. Tobatnya diterima dan doanya dikabulkan oleh ALLAH SWT sehingga ancaman bencana yang akan menimpa mereka dihilangkan atau dibatalkan oleh-Nya. Mereka pun selamat. Tindakan kaum tersebut juga bisa disebut tindakan pencegahan, tepatnya pencegahan secara spiritual.  
  • Nabi Nuh As. bersama orang-orang beriman menyelamatkan diri dengan cara membuat bahtera sebagai persiapan menghadapi banjir besar. Menjelang banjir terjadi, Nabi Nuh As. bersama orang-orang beriman naik ke bahtera tersebut agar selamat dari bencana banjir besar. Sebelumnya, berbagai jenis hewan berpasang-pasangan serta perbekalan bahan makanan dan minuman dinaikkan ke bahtera tersebut. Tindakan seperti ini dikategorikan tindakan kesiapsiagaan.

Dari 3 kisah ini diketahui bahwa para Nabi tersebut, untuk selamat dari bencana, mereka tidak pasrah atau hanya berdoa saja memohon keselamatan kepada Tuhannya. Mereka justru berupaya atau berikhtiar melakukan tindakan agar bisa selamat, dan tentu saja disertai doa.

Penutup

  • Secara kumulatif, ayat-ayat Al-Quran yang dituliskan di atas berisi ajakan untuk memikirkan dan mempelajari fenomena alam sebagai tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, ancaman dan azab (bencana) kepada kaum durhaka dan sombong serta ampunan dan pertolongan kepada kaum beriman, termasuk kaum beriman yang sebelumnya tergolong kaum durhaka.
  • Kaum durhaka adalah kaum yang tidak mengindahkan peringatan Tuhan serta menolak dan mendustakan utusan-Nya. Mereka menyembah kepada tuhan-tuhan (berhala) dan/atau hidup dalam kemaksiatan.
  • Dalam literatur Islam dikenal 25 Nabi yang juga berpredikat sebagai Rasul ALLAH. Pertama Nabi Adam As., ke-3 Nabi Nuh As., ke-4 Nabi Hud As., ke-5 Nabi Shaleh As., ke-7 Nabi Luth As., ke-14 Nabi Syuaib As., ke-15 Nabi Yunus As., ke-16 Nabi Musa As. dan ke-25 Nabi Muhammad SAW.
  • Tulisan ini dikembangkan dari makalah “Bencana Alam dalam Al-Quran”, yang penulis sampaikan pada Diksar HMI MPO Sulawesi Tengah pada Senin/28 Februari 2005 di Palu, pasca gempa dan tsunami Aceh (26 Desember 2004) dan gempa Bora Sulawesi Tengah (24 Januari 2005).

Penulis adalah Dosen Prodi Teknik Geofisika Jurusan Fisika dan Matematika dan Kepala Laboratorium Palu-Koro Fakultas MIPA Universitas Tadulako, Palu

Pos terkait