Refleksi 60 Tahun Mercusuar 

  • Whatsapp
9e27e191-3898-4d4f-b98e-d47668902dc1-5791bad6

Pada periode 1982 hingga 1992, tinggal lima surat kabar yang mampu bertahan dari periode sulit sebelumnya, yakni Mercusuar, Nusa Putera, Suluh Nasional, Pelopor Karya dan Alkhairaat. Kelimanya merupakan surat kabar mingguan, namun menurut Idrus Rore, hingga 1992, hanya Mercusuar dan Alkhairaat yang mampu terbit secara kontinyu. Semangat untuk terus eksis, menurut Idrus adalah yang membuat surat kabar di Kota Palu pada periode itu mampu bertahan meskipun dalam keadaan sulit.

Pada 1984, Menteri Penerangan menerbitkan Keputusan Menteri Penerangan RI No. 01/Menpen/1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Surat Kabar. Dalam keputusan tersebut, setiap surat kabar diwajibkan memperoleh Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Dua tahun berselang, Mercusuar memperoleh SIUPP, dengan nomor surat No: 172/SK/MENPEN/A.6/1986.

Berita Terkait

Pada periode ini, Mercusuar mencetak surat kabarnya di Percetakan Negara yang ada di Kota Palu. Namun pada 1989, Rusdi Toana menghentikan kerja sama dengan Percetakan Negara Kota Palu. Mercusuar mencoba untuk mencetak surat kabar sendiri, dengan mesin cetak sederhana.

Transformasi Mingguan ke Harian

Idrus mencatat, sejak 1990, dengan semangat untuk terus eksis dan bermodalkan mesin cetak sendiri, Mercusuar sudah berupaya meningkatkan frekuensi terbit dari mingguan menjadi 8 kali dalam sebulan. Kemudian pada akhir tahun 1992, untuk semakin menunjukkan eksistensi, Mercusuar mengadakan kerja sama dengan Jawa Pos dan menjadi bagian dari Jawa Pos Group. Per 1 Januari 1993, Mercusuar bertransformasi dari surat kabar mingguan menjadi surat kabar harian.

Hal ini menjadikan Mercusuar sebagai surat kabar harian pertama yang terbit di Kota Palu. Dengan dukungan mesin cetak dari Jawa Pos yang diklaim mampu mencetak 25 ribu eksemplar per jam, transformasi Mercusuar dimulai. Dari segi format, Mercusuar terbit dalam ukuran yang lebih besar dengan sesekali edisi berwarna yang memanjakan mata juga memancing animo pengiklan. Oplah per harinya pun tidak main-main, menyasar 2500 hingga 3000 eksemplar per hari.

Wasiat Tonakodi untuk Mandiri

Wakil Pimpinan Umum Mercusuar, Temu Sutrisno, dalam tulisannya berjudul Bangkit dengan Modal Dua Komputer Tua: Refleksi 55 Tahun Mercusuar menulis, kerjasama itu pada akhirnya tidak berlangsung lama. Hanya sekira sepuluh tahun, Mercusuar menarik diri dari Jawa Pos Group. Dimulai tahun 1999, saat Rusdi Toana meninggal, putra ketiganya, Tri Putra Toana yang merupakan saudara kandung Mercusuar, selalu terusik dengan wasiat ayahnya.

Sebelum meninggal, Rusdy Toana membisikkan pada Tri Putra Toana untuk menjaga Mercusuar dan mengembangkannya dengan tangannya sendiri.

“Kelak dari Mercusuar ini, ratusan orang akan menggantungkan hidupnya kepadamu. Jaga keberlangsungan Mercusuar,” kata Tri Putra Toana mengutip wasiat ayahnya.

Akhirnya Februari 2002 menjadi akhir pergulatan pemikiran Tri Putra Toana. Ia memutuskan keluar dari Jawa Pos Group, berniat menjalankan wasiat orangtuanya secara mandiri. Jawa Pos Group pasca mundurnya Tri Putra Toana, mendirikan koran baru dengan nama Radar Sulteng.

Kurun 2002-2004, Mercusuar sebagai korannya rakyat Sulteng istirahat. Mercusuar tidak terbit.

(Kembali) Bangkit Dengan Semangat Tonakodi

Temu menulis, tahun 2005, tepatnya 2 Juni, Mercusuar kembali bangkit dan terbit kembali. Hampir semua aset, sumberdaya manusia dan pelanggan Mercusuar telah beralih ke Radar Sulteng. Dengan talenta dan semangat yang diwariskan Rusdi Toana, Tri Putra atau yang akrab disapa Ongki, memulai penerbitan Mercusuar ala ayahnya.

Ongki sendirian dan tanpa modal. Ongki memanggil beberapa teman dekatnya untuk mengelola redaksi. Setelah beberapa orang siap mengelola redaksi, Ongki meminjam modal dari istrinya, Maya Malania Noor sebesar Rp50 juta. Ongki merakit tiga komputer tua tinggalan Universitas Republik menjadi dua komputer siap pakai. Dengan modal Rp50 juta dan dua komputer bekas, Mercusuar terbit kembali dengan numpang cetak di Percetakan Negara (PNRI). Mercusuar menyediakan kertas sendiri dan hanya membayar biaya cetak di PNRI. Kesulitan yang paling parah adalah, Mercusuar tampil hitam putih dan terbit sore. Sementara kompetitor terbit pagi dan tampil warna. Pelan namun pasti, Mercusuar terus tumbuh dan kembali hadir di hadapan pembaca dan pelanggan setia.

Halaman Selanjutnya

Langkah Menuju yang Terdepan…

Baca Juga