Rusdy Toana, Sang Tadulako HMI

  • Whatsapp
D515A45C-075E-4EE2-8EDA-6A4D2E3AC071

Rusdy juga dibekali semangat intelektual dengan didorong membaca buku dan surat kabar. Surat kabar yang dibacanya ketika itu adalah Pikiran Rakyat, Daulat Rakyat, dan Mingguan Adil Muhammadiyah.
Jiwa nasionalisme itu kemudian terus ditempa saat pria kelahiran Parigi 22 September 1930 itu dikirim ke Manado untuk mangikuti pendidikan di Nippon Gokka. Selama di Manado, Rusdy melahap surat kabar Celebes Sinbun.

Tahun 1947, Rusdy kecil pindah ke Gorontalo untuk bergabung dalam gerakan Merah Putih yang dipimpin Nani Warta Bone, Rusdy Toana tinggal bersama O.R. Onge, seorang tokoh pers dan penerbit Pewarta Gorontalo.
Tahun 1948, Rusdy Toana terlibat langsung dalam pengelolaan media dan diangkat menjadi pemimpin redaksi Mingguan Pelopor yang membawa misi Republik dan menentang NIT (Negara Indonesia Timur) boneka Belanda.

Berita Terkait

Setahun kemudian, Rusdy Toana meneruskan perjuangan di Yogyakarta. Rusdy Toana dipanggil bergabung dengan anggota tentara Pelajar di Yogyakarta bersama Rusli D. Warta Bone di Kesatuan Brigade 16 Yon Matalatta sebagai seksi pelajar Sulawesi.

Berjibaku dengan perjuangan fisik, Rusdy Toana menerbitkan majalah Bakti Suara Pelajar Pejuang Sulawesi, bersama Palangky Dg. Lagu.
Setelah penyerahan kedaulatan RI dari Belanda, Rusdy Toana ditampung oleh Negara melalui Kantor Urusan Demobilisasi Pelajar(KUDP), dan melanjutkan sekolah di SMA khusus untuk eks tentara pelajar. Di SMA tersebut, Rusdy Toana kembali menerbitkan Koran dinding bersama Nugroho Notosusanto, mantan Mendikbud RI.

Tamat SMA tahun 1953, Rusdy Toana melanjutkan kuliah di Fakultas Sosial Politik jurusan hubungan internasional. Di sini, Rusdy Toana mulai ber-HMI.

Di HMI, aktivitas jurnalistik Rusdy Toana tidak berhenti. Rusdy dipanggil pimpinan Mingguan Pelopor Yogyakarta, Drs. M.O. Palapa, untuk membantu mengurus Mingguan Pelopor, dan diberi tugas sebagai Sekretaris Redaksi tahun 1953-1954.
Kemudian pada tahun yang sama, yakni 1953, ia ditunjuk oleh Pengurus Besar (PB) HMI untuk memimpin Majalah Media, bersama Bustanul Arifin dan SK. Efendi. Mereka menjadi pelopor tulis menulis di HMI, yang kini anggotanya berhimpun dalam wadah kekaryaan Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI).

Tahun 1955, Rusdy Toana dipanggil PB HMI ke Jakarta untuk memimpin Harian Abadi. Media corong HMI yang dibreidel tahun 1971.
Lepas dari tugas-tugas Ke-HMI-an, akhir tahun 1960 Rusdy Toana tergabung dalam panitia penuntut dan pembangunan berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah, di Jakarta.

Pada pertengahan tahun 1960, diadakan Musyawarah Besar Mahasiswa dan Pelajar se Indonesia dan Rusdy Toana sebagai pemimpin presidium. Perjuangan mendirikan provinsi Sulteng, akhirnya mewujud tahun 1964.

Setelah kembali di Palu, Rusdy Toana merealisasikan musyawarah mahasiswa dan pelajar yang dipimpinnya, dan merintis berdirinya Universitsas Tadulako.
Pada saat bersamaan Rusdy Toana menerbitkan Mingguan Suara Rakyat Palu, pada tanggal 1 September 1962 melalui Yayasan Suara Rakyat Palu. 10 Januari 1966, media ini diubah namanya menjadi Mercusuar dan bertahan hingga hari ini.

Baca Juga