Sawah di Masama Terancam Puso

Lahan sawah di Kecamatan Masama mengering, akibat musim panas berkepanjangan. FOTO: SUTOPO ENTEDING/MS

BANGGAI, MERCUSUAR – Kekeringan persawahan di Kecamatan Masama, Kabupaten Banggai, semakin parah. Sebulan terakhir wilayah itu nyaris tak lagi dilanda hujan. Terpantau, Kamis (10/9/2026) sekira pukul 11.00 WITA, tanah sawah di Desa Taugi retak karena tak tersuplai air. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Cemerlang dan Tangeban.

Kondisi tersebut dapat memicu kegagalan panen (puso). Padahal, baru memasuki masa tanam pertama tahun 2026. Salah seorang petani, Basri, mengaku sebagian besar tanaman padinya sudah terancam mati.

“Yang dibutuhkan petani saat ini adalah sumur bor,” ujar Basri.

Dia berharap pemerintah bisa membantu membuat sumur bor, untuk menyelamatkan tanaman padi yang masih bisa diselamatkan. Menurutnya, wilayah yang masih memiliki sumber air, dapat menggunakan mesin pompa air.

“Namun untuk wilayah yang tak ada air lagi, sudah harus menggunakan sumur bor,” imbuhnya.

Selain Taugi, Cemerlang, dan Tangeban, krisis air juga terjadi pada sawah di Desa Eteng, Simpangan, Kospa Dwata Karya, Dwata Karya, dan Padangon. Delapan desa tersebut hanya bergantung di Bendungan Waru di Dwata Karya.

Sementara di Minang Andala, Ranga-ranga, Kembang Merta, dan Purwo Agung dilaporkan masih cukup aman karena memiliki sumber air terpisah.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banggai mencatat, tahun 2024 luas baku sawah di Masama sekira 2.938 hektare. Hasil produksinya untuk kebutuhan pangan di Kecamatan Luwuk Timur, Luwuk, sampai Bunta. TOP

Pos terkait