BPDP Bersama BBPP Batangkaluku Latih 99 Pekebun Morowali Olah Pupuk Organik

PALU, MERCUSUAR — Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), menggelar Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik bagi 99 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Pelatihan yang merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Pekebun Kelapa Sawit (SDMPKS) Tahun 2026 itu dibuka di Hotel Aston Palu, Selasa (11/8/2026). Kegiatan berlangsung dalam tiga angkatan, yakni Angkatan III dan IV masing-masing 34 peserta serta Angkatan V sebanyak 31 peserta. Pelatihan dijadwalkan berlangsung hingga 15 Agustus 2026.

Kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi pekebun dalam memanfaatkan bahan organik sebagai sumber pupuk, sekaligus mendorong penggunaan sarana produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Penanggung Jawab Pelatihan, Yuli Nurnaningsih, S.T., M.Si mengatakan, peserta tidak hanya diberikan pemahaman mengenai konsep dan manfaat pupuk organik, tetapi juga dilatih membuat, mengolah, hingga mengaplikasikannya sesuai kebutuhan tanaman kelapa sawit.

“Materi pelatihan akan dilaksanakan melalui perpaduan pembelajaran teori dan praktik, sehingga peserta memperoleh pengalaman langsung yang dapat diterapkan di kebun masing-masing,” ujarnya.

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afghani, S.Pd., M.P mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan alternatif kepada pekebun sawit untuk menekan biaya produksi tanpa sepenuhnya meninggalkan penggunaan pupuk kimia.

Menurutnya, pupuk organik tidak dimaksudkan untuk menggantikan pupuk kimia secara keseluruhan, tetapi mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

“Bukan menghilangkan pupuk kimia, tetapi mengurangi ketergantungan kita,” kata Jamaluddin.

Ia mengatakan, pengurangan penggunaan pupuk kimia hingga 30–40 persen, bahkan 50 persen, berpotensi membantu meningkatkan pendapatan pekebun.

Jamaluddin juga menilai pemanfaatan pupuk organik memiliki keunggulan karena bahan bakunya relatif mudah diperoleh di sekitar lingkungan pekebun. Proses pembuatannya pun dapat dilakukan dengan keterampilan yang diberikan melalui pelatihan.

“Secara ekonomi ini sangat menguntungkan. Secara ketersediaan bahan baku sangat mudah diperoleh. Secara proses pembuatan sangat mudah dilakukan, dan secara aplikasi juga sangat mudah dilaksanakan,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta peserta tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti pelatihan. Peserta diharapkan meneruskan pengetahuan tersebut kepada pekebun lain di daerah masing-masing.

“Jadi, kita melakukan proses duplikasi. Jangan pernah ragu dalam berbagi ilmu,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, Dandy Alfita, S.Pt., M.P., yang mewakili Kepala Dinas mengatakan, pengembangan pupuk organik penting dilakukan karena sektor perkebunan menghadapi kebutuhan sarana produksi yang semakin efisien dan berkelanjutan.

Menurut Dandy, pelatihan tersebut diharapkan menghasilkan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan pekebun, mulai dari pemilihan bahan, proses pengolahan, hingga aplikasi pupuk organik pada tanaman.

“Dengan demikian, para peserta dapat menjadi contoh sekaligus mengembangkan pengetahuan tersebut kepada anggota kelompok tani lainnya,” ujarnya.

Dandy juga mengatakan, pemanfaatan pupuk organik dapat membantu memperbaiki kualitas dan kesuburan tanah serta memanfaatkan limbah dan bahan organik yang tersedia di sekitar lingkungan pekebun.

Selain peningkatan kapasitas pekebun, kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan perkebunan kelapa sawit yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan di Sulawesi Tengah. JEF

Pos terkait