PALU, MERCUSUAR – Ada masa ketika Syalfiah tidak tahu harus melangkah ke mana. Setelah melewati masa sulit dalam kehidupan rumah tangganya, ia harus kembali menata hidup bersama anaknya. Kepercayaan dirinya merosot. Berbicara di hadapan banyak orang saja membuat dadanya berdebar dan tubuhnya gemetar.
Saat itu, ia hanya ingin satu hal, bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Syalfiah tidak pernah membayangkan jawabannya akan datang dari sebungkus keripik pisang.
Jauh sebelum mengenal dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ia sudah membuat camilan sederhana di rumah. Awalnya, keripik pisang itu hanya untuk konsumsi keluarga dan anaknya. Sesekali, ia membuatnya untuk memenuhi pesanan kerabat, terutama menjelang Lebaran.
Suatu hari, seorang tantenya memesan keripik pisang buatannya. Produk itu masih dikemas sederhana dalam plastik kiloan. Sang tante kemudian membawa keripik tersebut pulang dan menyajikannya kepada kerabat yang berkunjung.
Tak disangka, camilan sederhana itu menarik perhatian. Mereka mencicipi dan menyukai rasanya. Dari peristiwa kecil itulah jalan Syalfiah mulai terbuka.
Salah seorang yang mengenal produknya kemudian menghubunginya dan menawarkan kerja sama. Namun, tawaran itu justru membuat Syalfiah kebingungan. Ia belum memahami bagaimana menjalankan usaha secara profesional. Legalitas, pemasaran, hingga pengembangan produk masih terasa asing baginya.
“Saya tidak paham sama sekali UMKM itu apa,” kenangnya.
Orang yang menawarkan kerja sama itu kemudian memberikan kontak pihak Dinas UMKM Kabupaten Sigi. Dari sana, Syalfiah mulai mengenal proses pengurusan legalitas usaha, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB) dan izin yang dibutuhkan untuk produknya.
Ia juga mulai mengikuti berbagai kegiatan pendampingan dan berkenalan dengan komunitas pelaku usaha. Salah satu pintu yang kemudian mengubah perjalanan hidupnya adalah program inkubasi UMKM yang diikutinya pada 2024.
Belajar Bangkit dari Ruang Inkubasi
Ketika hendak bergabung dalam pendampingan usaha melalui program GIAT (Gampiri Inkubasi Usaha Lestari) yang dilaksanakan oleh Gampiri, Syalfiah mengaku belum memiliki keyakinan bahwa dirinya akan lolos. Ia bahkan tidak sepenuhnya memahami apa yang akan dipelajarinya di sana.
Niat awalnya sederhana. Ia ingin keluar dari lingkaran yang selama ini membuatnya merasa kecil. Ia ingin belajar berbicara dengan orang lain, berani tampil di hadapan umum, dan menemukan kembali kepercayaan dirinya. Selama kurang lebih delapan bulan mengikuti inkubasi, ia mendapatkan lebih dari sekadar pengetahuan tentang usaha.
Dukungan moral dari pendamping dan sesama peserta membuatnya merasa tidak sendirian. Ia belajar bahwa membangun usaha bukan hanya perkara menghasilkan produk dan memperoleh keuntungan, melainkan juga keberanian mengambil keputusan, membangun jaringan, serta menghadapi ketidakpastian.

Syalfiah mulai melatih dirinya dengan mengikuti berbagai kegiatan dan pameran. Setiap kesempatan bertemu orang baru menjadi ruang belajar untuk mengatasi rasa minder yang selama ini membatasinya.
Perubahan itu terasa ketika program inkubasi berakhir pada Desember 2024. Dalam acara penutupan yang dihadiri sejumlah pejabat, ia justru ditunjuk untuk menyampaikan kesan dan pengalaman selama mengikuti program. Bagi orang lain, berbicara di atas panggung mungkin hal biasa. Namun, bagi Syalfiah, itu adalah langkah besar.
Ia naik dengan tubuh gemetar. Meski begitu, ia tetap menyampaikan kisahnya sendiri, tentang perjalanan yang tidak selalu mudah dan keinginannya untuk bangkit. Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam hidupnya. Perempuan yang sebelumnya kesulitan berbicara di hadapan orang banyak itu mulai berani memperkenalkan produknya kepada calon pembeli dan mitra usaha. Dari proses itulah ia semakin yakin untuk menekuni UMKM sebagai jalan hidupnya.
“Awalnya saya hanya ingin bisa keluar dan bangkit. Ternyata selama inkubasi, saya mendapat banyak dukungan. Dari situ saya memutuskan untuk fokus di UMKM, khususnya keripik pisang ini,” ujarnya.
Qyata, Nama yang Menyimpan Cerita
Setelah memutuskan serius mengembangkan usaha, Syalfiah mulai membenahi produknya. Keripik pisang yang sebelumnya dijual dalam kemasan sederhana perlahan memperoleh identitas baru.
Ia mengurus legalitas usaha yang mencantumkan tahun 2022, kemudian mengembangkan merek Qyata. Nama itu bukan sekadar penanda produk di rak penjualan. Ada bagian dari kehidupan pribadinya yang ia sematkan di dalamnya.
Nama Qyata diambil dari nama anaknya, Aqila, dan namanya sendiri, serta kata yang berkaitan dengan usaha yang ia bangun. Dengan nama itu, ia membawa sebagian perjalanan keluarganya ke dalam produk yang kini diperjuangkannya.
Perubahan tidak berhenti pada nama. Melalui pendampingan program inkubasi, Syalfiah mendapat fasilitasi pengembangan desain kemasan dan stiker produk. Ia juga memperoleh dukungan dalam pengembangan usaha dari sejumlah mitra, termasuk Telkom, perbankan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kemasan yang lebih menarik membantunya memperkenalkan Qyata ke pasar yang lebih luas. Produk yang semula beredar di lingkungan terdekat mulai masuk ke gerai oleh-oleh dan toko modern.
Kini, keripik pisang Qyata telah dipasarkan melalui sejumlah gerai, di antaranya Grand Hero, Cleo Mart,
Galeri Dekranasda New Baruga Vatulemo, Grand Sya Hotel, dan pusat ole-oleh yang ada di kota Palu. Produk tersebut juga pernah diperkenalkan dalam berbagai kegiatan pameran dan promosi UMKM.
Bagi Syalfiah, masuk ke pasar seperti itu bukan perkara mudah. Ia harus bersaing dengan banyak produk keripik pisang lain yang lebih dahulu dikenal konsumen. Bahkan, ia pernah mendapat tanggapan bahwa dirinya beruntung produknya bisa diterima di tengah banyaknya pilihan keripik pisang di pasaran.
Namun, Qyata memiliki karakter yang berusaha dipertahankannya, kerenyahan keripik yang berasal dari pemilihan bahan baku dan cara pengolahannya.
Menjaga Kerenyahan dengan Cara Sederhana
Syalfiah menggunakan pisang dari Kabupaten Sigi sebagai bahan baku. Salah satu jenis yang diandalkannya adalah pisang pagata berukuran besar. Jenis pisang tersebut dipilih karena dinilai menghasilkan tekstur keripik yang renyah.
Proses produksinya masih dikerjakan secara manual. Pisang dikupas, diparut, kemudian langsung digoreng. Ia tidak menggunakan proses perendaman seperti yang lazim dilakukan sebagian pembuat keripik.

Untuk mengurangi minyak setelah penggorengan, Syalfiah mengandalkan kertas penyerap minyak. Ia belum menggunakan alat peniris minyak atau spinner karena masih menyesuaikan peralatan dengan kebutuhan produksinya.
Keterbatasan peralatan membuat proses kerja belum sepenuhnya efisien. Mesin yang pernah diperolehnya untuk membantu produksi pun belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena pengaturannya belum sesuai dengan kebutuhan pengolahan.
Kendati demikian, ia tetap berusaha menjaga kualitas produk. Jika pisang pagata berukuran besar sulit diperoleh, ia menggunakan jenis pisang lain dengan tingkat kematangan yang disesuaikan agar tekstur keripik tetap terjaga.
Qyata menawarkan beberapa pilihan rasa, termasuk asin, manis, dan original. Untuk varian original, Syalfiah berusaha mempertahankan rasa alami pisang tanpa tambahan gula. Ia juga mulai memperkenalkan produk jahe merah dengan gula sebagai produk pendamping.
Namun, ia belum ingin terburu-buru memperbanyak jenis produk. Baginya, keripik pisang Qyata masih perlu diperkuat sebelum ia mengembangkan usaha ke komoditas lain yang juga banyak ditemukan di Sigi, seperti kopi dan bawang.
“Saya mau fokus di keripik pisang ini dulu,” katanya.
Bertahan Sambil Membuka Jalan
Membangun usaha dengan modal terbatas membuat Syalfiah harus berhitung cermat. Sebelum menekuni keripik pisang, ia pernah berjualan gorengan dan mengambil barang untuk dijual kembali secara daring.
Ia juga memanfaatkan akses pembiayaan perbankan. Pinjaman awal sebesar Rp5 juta menjadi salah satu modal untuk menjalankan usahanya. Sejak 2023, ia menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk mendukung kebutuhan usaha. Dalam perjalanannya, ia telah mengakses pembiayaan tersebut sebanyak tiga kali.
Menurut Syalfiah, nilai pinjaman yang dapat diaksesnya meningkat seiring perkembangan usaha dan hasil survei pihak bank. Ia juga pernah menerima bantuan modal Rp15 juta dari Dinas UMKM yang dimanfaatkan untuk membeli etalase dan mendukung kebutuhan usahanya.
Meski demikian, modal bukan satu-satunya persoalan yang harus ia selesaikan.
Syalfiah masih menangani hampir seluruh pekerjaan sendiri, mulai dari produksi, pengemasan, pengantaran barang, hingga pemasaran. Pesanan dan penitipan produk yang bertambah membuatnya mulai membutuhkan tenaga tambahan.

Pemasaran digital pun menjadi pekerjaan rumah berikutnya. Ia telah mengikuti pelatihan dan kurasi produk, termasuk kegiatan yang mengajarkannya memanfaatkan TikTok. Namun, mengelola media sosial secara konsisten membutuhkan waktu dan tenaga yang belum sepenuhnya ia miliki.
Di sisi lain, ketersediaan bahan baku juga menjadi tantangan. Pisang pagata berukuran besar tidak selalu mudah diperoleh. Ketika pasokan terbatas, ia harus mencari alternatif agar produksi tetap berjalan. Ia menyadari usahanya belum berada pada tahap yang memungkinkan semua persoalan diselesaikan sekaligus. Karena itu, ia memilih berkembang secara bertahap sambil melihat respons pasar.
Pada 2025, ia mulai lebih aktif memperkenalkan merek Qyata melalui berbagai pameran. Memasuki 2026, ia merasa semakin mantap menentukan arah pengembangan usaha, termasuk memperluas pemasaran digital dan menyiapkan kebutuhan tenaga kerja. Namun, ada satu kebutuhan yang tidak kalah mendesak, tempat tinggal dan ruang produksi yang layak.
Saat ini, Syalfiah belum memiliki rumah sendiri. Tempat yang ia tempati masih berupa milik keluarga yang dipinjamkan kepadanya. Kondisi itu membuat rencana memiliki ruang produksi yang lebih memadai harus berjalan beriringan dengan keinginannya untuk mempunyai tempat tinggal sendiri.
“Saya butuh tempat tinggal sendiri dulu. Setelah itu, saya ingin punya ruang produksi yang sesuai,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan itu, ia terus melangkah. Usahanya mulai dikenal di luar Kabupaten Sigi. Produk Qyata juga pernah dibawa ke India dan Pakistan oleh tamu hotel tempat ia menitipkan produknya.
Bagi Syalfiah, setiap kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa usaha kecil yang dirintis dari rumah, memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, ia juga memahami bahwa pertumbuhan usaha membutuhkan konsistensi, dukungan, dan kemampuan untuk terus belajar.
Seperti Kupu-kupu yang Berubah
Ada alasan mengapa logo Qyata kini menampilkan kupu-kupu.
Sebelumnya, logo produk itu berupa pohon dengan banyak ranting. Seiring perjalanan usahanya, Syalfiah memilih mengubahnya menjadi kupu-kupu, simbol perubahan yang ia rasakan dalam hidupnya sendiri. Ia melihat perjalanan kupu-kupu sebagai gambaran proses yang tidak selalu mudah. Ada tahapan yang harus dilalui sebelum akhirnya tumbuh menjadi sesuatu yang berbeda.
Begitu pula dirinya. Ia tidak langsung menjadi pelaku UMKM yang percaya diri dan mampu memperkenalkan produk kepada banyak orang. Ia memulainya dari kondisi penuh keraguan, belajar dari berbagai pendampingan, lalu perlahan berani mengambil peluang.
Bagi Syalfiah, Qyata bukan hanya usaha untuk memperoleh penghasilan. Usaha itu menjadi bagian dari perjalanan memulihkan diri, membangun kemandirian, dan membuktikan bahwa ia mampu menjalani kehidupan bersama anaknya tanpa terus bergantung pada orang lain.
Ia ingin kelak memiliki karyawan yang membantunya berproduksi dan memasarkan produk. Ia ingin Qyata berkembang dengan ruang produksi yang lebih layak. Ia juga ingin menjangkau konsumen lebih luas melalui pemasaran digital. Semua itu masih menjadi pekerjaan yang harus diperjuangkan satu per satu.
Tetapi, jika dulu ia tidak tahu ke mana harus melangkah, kini Syalfiah mulai memiliki arah. Ia memilih keripik pisang sebagai jalan untuk membangun masa depan, sembari terus belajar menjadi pribadi yang lebih berani.
Dari rumah, dari pisang yang diolah dengan tangan sendiri, dan dari kemasan sederhana yang kini mulai menembus pasar oleh-oleh, Syalfiah sedang merawat harapannya. Seperti kupu-kupu dalam logo Qyata, ia percaya bahwa perubahan tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang yang harus dijalani sebelum seseorang benar-benar menemukan sayapnya.***






