Ketika Polisi Menjadi Tempat Pulang
PALU, MERCUSUAR – Siang itu, ruang pelayanan Polsek Mantikulore tampak seperti hari-hari biasa. Sejumlah warga duduk menunggu giliran, sementara beberapa personel sibuk melayani laporan yang datang silih berganti. Di antara keramaian itu, seorang perempuan muda duduk disalah satu ruangan. Jemarinya menggenggam telepon genggam begitu erat, seolah benda kecil itu menjadi satu-satunya pegangan yang masih ia miliki.
Tatapannya gelisah. Ia duduk di kursi pelayanan dengan harapan ceritanya bisa didengar. Ia datang bukan karena kehilangan dompet, bukan pula karena kecelakaan lalu lintas. Sari (Bukan nama sebenarnarnya), datang membawa sesuatu yang jauh lebih berat yaitu rasa takut.
Selama berhari-hari, telepon genggamnya tak pernah benar-benar sunyi. Pesan demi pesan bernada ancaman terus berdatangan dari mantan kekasihnya. Ada kata-kata kasar, makian, panggilan video yang datang tanpa henti, hingga ancaman pembunuhan yang membuatnya hidup dalam kecemasan. Setiap bunyi notifikasi membuat ketakutan. Ia tidak lagi merasa aman, bahkan di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling nyaman di rumahnya sendiri.
Sari mungkin tak pernah membayangkan suatu hari harus melangkahkan kaki ke sana, apalagi membawa kisah yang begitu pribadi.Tetapi siang itu, keberaniannya yang tersisa membawanya ke Polsek Mantikulore.
Ia tidak disambut tatapan yang menghakimi. Sebaliknya, sebuah suara lembut memecah kecemasannya.
“Mbak harus tetap semangat, ya. Jangan patah semangat. Hidup tetap berjalan. Masih banyak laki-laki yang baik. Insya Allah kami akan menangkap pelakunya.”
Kalimat itu sederhana. Namun bagi Sari, itulah pertama kalinya sejak sekian lama ia merasa ada seseorang yang benar-benar mendengar ketakutannya.Ia datang dengan rasa takut, namun pulang dengan secercah rasa percaya.
Polsek Mantikulore langsung bergerak cepat menangkap pelaku di kediamannya, dan membawanya ke kantor Polisi.
Kalimat yang diterima Sari siang itu bukanlah ungkapan spontan yang lahir begitu saja. Bagi Iptu Andi Rampewali, S.Tr.K., M.H, setiap orang yang datang ke kantor polisi sesungguhnya sedang membawa beban yang tidak ringan. Mereka datang dengan kemarahan, kehilangan, kebingungan, atau ketakutan. Karena itu, sebelum berbicara tentang pasal-pasal hukum, ia selalu berusaha memastikan satu hal masyarakat merasa aman untuk bercerita.
“Polisi itu harus menjadi sahabat masyarakat. Harus bisa menjadi pendengar masyarakat. Karena the police are the public and the public are the police. Polisi adalah masyarakat, dan masyarakat adalah polisi. Hari ini saya memakai seragam, tetapi suatu saat saya akan pensiun dan kembali menjadi bagian dari masyarakat juga,” tuturnya.
Filosofi itu menjadi pegangan perempuan yang telah setahun memimpin Polsek Mantikulore, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), salah satu wilayah dengan dinamika keamanan paling kompleks di Kota Palu. Kawasan ini membentang dari pusat kota hingga permukiman padat mahasiswa, kawasan pertambangan rakyat, dan sebelas kelurahan dengan karakter masyarakat yang beragam. Setiap hari, puluhan warga datang ke ruang pelayanan dengan persoalan yang berbeda-beda.
Ada yang kehilangan kendaraan. Ada yang menjadi korban penipuan. Ada pula perempuan yang datang dengan mata sembab karena menjadi korban kekerasan dalam hubungan asmara atau rumah tangga. Dalam sehari, laporan dan pengaduan yang diterima bisa mencapai 20 hingga 30 kasus.
Di tengah padatnya ritme pelayanan itu, Andi Rampewali memilih menanamkan satu pesan yang sama kepada seluruh anggotanya.
“Bekerjalah dengan hati nurani. Ikhlas turun ke lapangan, tulus melayani masyarakat.”
Pesan itu bukan sekadar nasihat dalam apel pagi. Ia ingin setiap personel memahami bahwa seragam cokelat yang mereka kenakan bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah untuk menjaga kepercayaan.
“Aset terbesar seorang anggota polisi itu adalah kepercayaan masyarakat. Kalau kepercayaan itu hilang, mau kita bekerja sebaik apa pun, semuanya menjadi tidak berarti,” katanya.
Bagi Andi Rampewali, kepercayaan tidak dibangun melalui slogan atau kampanye. Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat merasakan sendiri bahwa polisi hadir, mendengar, dan tidak meninggalkan mereka sebelum persoalan benar-benar selesai.

Jangan Setengah-Setengah
Setiap kali melepas anggotanya bertugas, Iptu Andi Rampewali tidak banyak berbicara tentang target penangkapan atau statistik keberhasilan. Ada satu pesan yang terus ia ulang, hingga perlahan menjadi budaya di lingkungan Polsek Mantikulore.
“Kalau membantu orang, jangan setengah-setengah. Tuntaskan.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Andi Rampewali, di situlah kepercayaan masyarakat dipertaruhkan. Menolong warga, menurutnya, bukan sekadar hadir di lokasi kejadian. Bukan pula sebatas menjalankan prosedur. Polisi harus memastikan bahwa orang yang membutuhkan pertolongan benar-benar merasa aman, terbantu, dan tidak ditinggalkan di tengah persoalan yang mereka hadapi.
Andi Rampewali menceritakan pengelamannya ketika seorang warga menghubungi Polsek Mantikulore. Seorang lelaki lanjut usia terjatuh dari sepeda motornya di kawasan Talise. Dadanya terasa sakit. Tubuhnya lemas. Ia terduduk di tepi jalan, kebingungan dan tak mampu melanjutkan perjalanan.
Begitu menerima laporan, Andi Rampewali segera memerintahkan personel piket mendatangi lokasi. Namun yang terjadi setelah itu melampaui instruksi yang ia berikan. Para personel tidak hanya memastikan kondisi korban. Mereka membantu mengurus keperluan yang hendak diselesaikan sang lansia, mengantarnya menggunakan mobil patroli, lalu memastikan ia kembali ke rumah dengan selamat.
Ketika menerima laporan dari anggotanya, Andi Rampewali mengaku justru terharu. Bukan karena perintahnya dijalankan.
Melainkan karena para personelnya memilih berbuat lebih dari yang diminta. Tindakan-tindakan kecil itulah kepercayaan masyarakat perlahan tumbuh.
Sebab bagi perempuan yang memimpin 46 personel di Polsek Mantikulore itu, menjadi polisi bukan sekadar menegakkan hukum. Menjadi polisi berarti hadir ketika masyarakat membutuhkan, lalu tetap tinggal hingga mereka merasa tidak lagi sendirian.

Hadir Sebelum Masalah Datang
Bagi Iptu Andi Rampewali, tugas polisi tidak berhenti pada penegakan hukum. Menjaga keamanan, menurutnya, tidak selalu dimulai dari ruang penyidikan atau penangkapan pelaku kejahatan. Ada kalanya keamanan dibangun jauh sebelum sebuah tindak pidana terjadi.
Keyakinan itu diwujudkan melalui berbagai langkah sederhana yang mendekatkan Polsek Mantikulore dengan masyarakat.
Di Uwentumbu, Kelurahan Kawatuna, misalnya, para personel membangun Rumah Baca sebagai ruang belajar bagi anak-anak di wilayah pelosok. Bagi Andi Rampewali, membuka akses pendidikan juga merupakan bagian dari ikhtiar menciptakan lingkungan yang aman, karena masa depan yang lebih baik lahir dari generasi yang memiliki kesempatan untuk belajar.
Semangat yang sama hadir melalui Gerakan Seribu (Gerbu). Berawal dari seribu rupiah yang disisihkan setiap hari oleh para personel, program itu kemudian diwujudkan menjadi bantuan yang dibagikan kepada masyarakat setiap Jumat.
Nilainya mungkin sederhana, tetapi pesannya jelas, polisi hadir bukan hanya ketika masyarakat tertimpa musibah atau menjadi korban kejahatan, melainkan juga dalam keseharian mereka.
Filosofi itu pula yang terus ditanamkan Andi Rampewali kepada seluruh anggotanya.
Karena itu, hampir tak ada hari tanpa kehadiran personel Polsek Mantikulore di tengah masyarakat. Mereka berpatroli, menyambangi warga, berdialog dengan tokoh masyarakat, membantu mengurai kemacetan, hingga sekadar menyapa pedagang di pinggir jalan. Baginya, kepercayaan publik tidak dibangun melalui slogan atau pencitraan, tetapi dari kehadiran yang konsisten dan pelayanan yang tulus.
“Kita tidak perlu mengatakan bahwa kita baik. Cukup turun saja ke masyarakat. Nanti masyarakat yang menilai,” ujar Andi Rampewali.
Baginya, hubungan antara polisi dan masyarakat tidak boleh terjalin hanya ketika ada persoalan. Hubungan itu harus dipelihara setiap hari, melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus. Sebab, dari sanalah kepercayaan tumbuh perlahan, tetapi mengakar.

Menjawab Stigma dengan Kerja
Di balik setiap senyum yang menyambut warga di ruang pelayanan, Iptu Andi Rampewali menyadari ada pekerjaan yang jauh lebih berat daripada menangani laporan polisi. Membangun kepercayaan.
Ia paham, tidak semua orang memandang polisi dengan cara yang sama. Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, satu kesalahan yang dilakukan segelintir oknum kerap membentuk penilaian terhadap seluruh institusi.
Namun ia memilih untuk tidak menghabiskan energi membantahnya. Ia juga tidak meminta anggotanya sibuk menjelaskan bahwa polisi telah berubah. Sebaliknya, ia selalu mengingatkan mereka untuk tetap bekerja.
“Yang tidak suka polisi itu banyak. Tapi yang masih membutuhkan polisi juga masih banyak,” katanya.
Kalimat itu hampir selalu ia ulang dalam setiap kesempatan. Bukan untuk mengecilkan kritik, melainkan agar anggotanya tidak kehilangan semangat melayani hanya karena penilaian negatif yang mereka dengar. Ia ingin masyarakat melihat polisi dalam kehidupan sehari-hari, menyapa warga, berpatroli di lingkungan permukiman, membantu mengurai kemacetan, berdialog dengan tokoh masyarakat, hingga sekadar menanyakan kabar pedagang di pinggir jalan.
Bagi perempuan yang memimpin 46 personel itu, kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diminta. Kepercayaan harus diusahakan melalui tindakan-tindakan kecil yang mungkin tak pernah menjadi berita. Karena ia percaya, citra Polri tidak akan berubah hanya dengan kata-kata. Citra itu berubah ketika masyarakat pulang dari kantor polisi dengan perasaan yang berbeda dibanding saat mereka datang.***






