DP3A Sulteng Wujudkan Pembinaan Perempuan Berbasis Budaya Kaili

Kepala DP3A Provinsi Sulawesi Tengah, Yudiawati V. Windarrusliana, saat melakukan penandatanganan kerja sama dengan Lembaga Pembina Adat Kaili (LPAK) Sulawesi Tengah, Minggu (2/8/2026). FOTO: RUSTAM/MS

​TALISE VALANGGUNI, MERCUSUAR — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) terus berupaya memperkuat kapasitas, serta kemandirian perempuan di wilayahnya. Salah satu langkah strategis yang kini tengah difokuskan adalah mengintegrasikan program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dengan pelestarian budaya serta kearifan lokal, khususnya tradisi masyarakat Kaili.

​Kepala DP3A Provinsi Sulteng, Yudiawati V. Windarrusliana menyampaikan, kerja sama dan kesepakatan (MoU) dengan Lembaga Pembina Adat Kaili (LPAK) Sulteng, menjadi pijakan penting dalam mewujudkan komitmen tersebut.

​”Setiap kegiatan DP3A dalam rangka pemberdayaan perempuan, tentu berfokus pada peningkatan kapasitas. Kami ingin pemberdayaan ini menyasar seluruh perempuan, baik yang sudah berdaya secara ekonomi maupun yang masih membutuhkan pendampingan khusus, seperti masyarakat pada kelompok desil 1 hingga 4,” ujar Yudiawati, Minggu (2/7/2026).

​Menurut Yudiawati, penguatan kapasitas tidak hanya difokuskan pada aspek ekonomi secara umum, tetapi juga mencakup peningkatan keterampilan (skill) yang mengangkat nilai-nilai lokal. Ia menyoroti potensi kuliner khas Kaili yang menurutnya perlu dikembangkan lebih masif, agar mudah dijangkau masyarakat luas maupun wisatawan.

​”Saat ini untuk mencari makanan khas Kaili seperti uta kelo, duo, dabu-dabu, hingga palumara di ruang-ruang publik masih terbilang belum merata. Melalui program pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kami ingin perempuan-perempuan di Tanah Kaili terampil mengemas dan memasarkan kuliner khas daerahnya secara lebih luas,” tambahnya.

​Selain sektor kuliner, peningkatan keterampilan juga diarahkan pada pembuatan produk kerajinan dan busana adat khas daerah, seperti kain sampolu dan siga. DP3A menilai potensi ini sangat besar untuk menopang perekonomian keluarga, terutama saat ada gelaran acara daerah maupun nasional.

​Tidak kalah penting, Yudiawati menekankan peran strategis perempuan sebagai madrasah pertama dalam keluarga untuk menjaga kelestarian bahasa dan busana adat Kaili sejak usia dini.

​”Perempuan adalah pendidik utama bagi anak-anaknya. Kita perlu menghidupkan kembali kebiasaan penggunaan bahasa daerah dan busana khas Kaili, seperti yang dulu pernah diterapkan di sekolah-sekolah. Jangan sampai identitas dan kearifan lokal kita tergerus zaman,” tegasnya.

​DP3A Sulteng berharap, langkah kolaboratif bersama LPAK dan pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota ini dapat melestarikan warisan budaya Kaili sekaligus meningkatkan kesejahteraan perempuan di Sulawesi Tengah secara berkelanjutan. UTM

Pos terkait