PALU, MERCUSUAR – Institut Teknologi Kesehatan dan Bisnis (ITKESBIS) Graha Ananda Palu memperoleh hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) untuk mengembangkan pangan lokal sebagai upaya pencegahan stunting di Kabupaten Sigi.
Program bertajuk Pendampingan Kader Posyandu melalui Pembuatan Pangan Lokal Tabaro Dange sebagai Upaya Pencegahan Stunting pada Balita tersebut dilaksanakan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi di wilayah kerja UPT Puskesmas Kaleke.
Ketua Tim Pengabdian ITKESBIS Graha Ananda, Andhyka, S.E., M.M., mengatakan hibah tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam mengolah makanan tambahan berbasis pangan lokal dan memberikan edukasi gizi kepada keluarga balita.
“Kepercayaan dari Kemendiktisaintek menjadi motivasi bagi kami untuk menghadirkan pengabdian yang tidak hanya berbasis penelitian, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pencegahan stunting melalui pemanfaatan pangan lokal Sulawesi Tengah,” ujarnya, Jumat (28/8/2026).
Program menyasar delapan kader Posyandu Seroja yang melayani 11 balita teridentifikasi stunting. Kegiatan dilaksanakan selama dua bulan pada April–Mei 2026 melalui penyusunan modul, edukasi, pelatihan, praktik, dan pendampingan pembuatan makanan tambahan.
Inovasi yang dikembangkan berupa snack bar Tabaro Dange, pangan tradisional Sulawesi Tengah berbahan sagu, yang dipadukan dengan tepung ikan teri, daun kelor, kelapa, dan tepung singkong.
Menurut Andhyka, pengembangan tersebut merupakan hilirisasi hasil penelitian dosen ITKESBIS Graha Ananda mengenai pemanfaatan pangan lokal untuk intervensi gizi balita.
“Kami ingin membuktikan bahwa pangan lokal tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga dapat menjadi solusi ilmiah dalam mendukung ketahanan gizi dan pencegahan stunting,” katanya.
Program dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi tepat guna, pendampingan, monitoring, evaluasi, dan pengembangan keberlanjutan. Dalam pelaksanaannya, tim melibatkan dosen dari sejumlah program studi serta mahasiswa sebagai pendamping lapangan, fasilitator, dan evaluator.
Selama satu tahun, pendampingan ditargetkan dilakukan sedikitnya delapan kali kepada mitra. Program juga menghasilkan modul pengabdian yang didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), publikasi ilmiah dan media massa, poster edukasi, serta video dokumentasi.
Andhyka berharap program tersebut dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis pangan lokal yang dapat diterapkan di wilayah lain di Sulawesi Tengah.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi, puskesmas, pemerintah desa, kader Posyandu, dan masyarakat menjadi kunci agar upaya percepatan penurunan stunting dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ujarnya. ABS






