PALU MERCUSUAR Kegiatan Kreasi Sastra, Murid Bersama Guru (MBG) resmi dimulakan, setelah Kepala Balai Bahasa Sulteng, Dr Syarifuddin M Hum, dengan memukul alat musik kakula, di gedung kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kota Palu, Kamis (21/8/2026).
Dalam sambutannya, Dr Syarifuddin, menegaskan dukungannya terhadap kegiatan yang digagas oleh lembaga pemerhati sastra, PlakPlik Ngataku Sulteng, karena kehadirna kegiatan itu, memberikan penguatan pengetahuan sastra kepada publik, khususnya insan pendidikan.
“Sastra adalah bagian yang tidak terpisahkan dari peradaban sebuah bangsa, sastra juga memiliki kekayaan dan keindahan Bahasa, seni dan peradaban. Sastra, tidak terbentuk hari ini, namun terkadang dilupakan. Maka sangat luar biasa, kalau kegiatan ini, hadir dan memberikan pencerahan bagi siswa dan guru,’ urainya.
Dia juga mengucapkan terima kasih kepada PlalPlik Ngataku, yang sudah cukup lama konsen dengan isu-su yang menyangkut dinamika kesastraan di Sulteng, bahkan di Indonesia. Dan kehadirannya, memberikan nilai yang cukup signifikan.
Sementara itu, Direktur PlakPlik Ngataku Sulteng, Dr Agustan SPd MPd, mengatakan, kegiatan yang digelarnya sudah mulai bergerak, sejak tanggal 15 Agustus lalu, dan akan berakhir pada tanggal 15 September 2026 nanti.
“Secara teknis, kegiatan ini sudah berjalan, dan kemudian menyusul seremoni grand openingnya, karena secara timeline kegiatan ini, harus digelar sejak tanggal 15 Agustus lalu, namun disisi lain, kesibukan para pejabat pengampu kegiatan ini, juga tidak bisa dinafikan, karena HUT RI, sehingga kemudian, kami menyesuaikan jadwalnya,” urainya.
Secara umum, kata pria yang akrab disapa Agust T Syam, kegiatan Kreasi Sastra MBG ini, memiliki tujuan, untuk menggaungkan tentang sastra, hingga kemudian semua sudut Sulteng, gemanya memantul di semua dinding lembah di Sulteng, dan momentum kali ini, kata peraih doktor bidang sastra itu, insan pendidik, yang menjadi sasaran utamanya.
“Karena sastra, bermula dari sebuah bangku pendidikan, untuk kemudian digemakan menjadi milik semuanya. Insan Pendidik, harus lebih memahami tentang sastra, sebab dalam segala aspek Pelajaran kabahasaan, sastra ada di dalamnya,” urainya.
Sebagai penutup, kegaiatan grand opening, dilanjutkan dengan workshop sastra, menghadirkan tiga seniman Kota Palu, dengan materi pembuatan naskah monolog, pengantar membuat puisi tradisi dan dasar pengenalan musik dalam konteks musikalisasi puisi tradisi, yang diikuti 94 sekolah, dari jenjang SD hingga SMA atau sederajat. (MBH)







