PALU, MERCUSUAR – Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Sentana Sulteng melakukan anjangsana edukatif ke Kantor Redaksi Harian Mercusuar pada Sabtu (3/10/2026).
Kedatangan para mahasiswa ini bertujuan untuk mempelajari secara langsung seluk-beluk pengelolaan media cetak maupun digital di era modern.
Rombongan mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tersebut diterima langsung oleh anggota Dewan Redaksi Harian Mercusuar, Temu Sutrisno. Suasana diskusi berlangsung interaktif ketika para mahasiswa antusias mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari rekam jejak sejarah Harian Mercusuar, prinsip dasar jurnalistik, hingga penerapan etika di dunia digital.
Menjawab pertanyaan tersebut, Temu Sutrisno memaparkan alur kerja jurnalistik secara komprehensif, baik platform cetak maupun siber. Temu menjelaskan bahwa proses kerja media massa berawal dari pengelolaan isu melalui rapat perencanaan redaksi, penugasan liputan ke lapangan, hingga tahap penulisan dan penyuntingan berita.
“Seluruh proses produksi berita wajib berpedoman pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Produk pers harus berbasis fakta, terverifikasi, berimbang atau cover both side, serta terbebas dari iktikad buruk,” tegas Temu.
Ia juga menekankan pentingnya etika digital di tengah derasnya arus informasi saat ini. Menurutnya, pemahaman atas Etika Jurnalistik dan etika berinternet menjadi benteng utama bagi mahasiswa agar tidak terjebak dalam penyebaran kabar bohong dan ujaran kebencian.
Lebih lanjut, Temu menerangkan perbedaan mendasar antara media pers, media sosial, dan kehumasan (public relations). Media pers bekerja menggunakan standar verifikasi ketat serta dilindungi oleh hukum pers. Sementara itu, media sosial merupakan platform ruang publik yang tidak memiliki penyaring redaksional, dan kehumasan berfokus pada pembentukan citra positif institusi tertentu.
“Perbedaan paling mendasar, pers memiliki kode etik dan wajib berbadan hukum pers Indonesia.”
Sebagai penutup kegiatan anjangsana dan pembelajaran singkat tersebut, Temu memberikan kenang-kenangan berupa buku karya biografi tokoh penting Sulawesi Tengah kepada masing-masing mahasiswa.
Buku berjudul Jejak Perjuangan Rusdy Toana tersebut mengisahkan rekam jejak pendiri Harian Mercusuar yang juga merupakan tokoh pers nasional dan pejuang kemerdekaan. Selain mendirikan Harian Mercusuar, almarhum Rusdy Toana dikenal memiliki kontribusi besar dalam pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah, serta menjadi perintis lahirnya berbagai perguruan tinggi terkemuka di Palu, seperti Unismuh Palu, Universitas Tadulako (Untad), dan UIN Datokarama Palu.
Secara terpisah, melalui sambungan media sosial, Ketua STAH Dr. Agus Budi Wirawan menyampaikan terima kasih kepada Mercusuar atas kesempatan mahasiswanya bertukar pengalaman jurnalistik.
“Terima kasih sudah berkenan berbagi ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa kami,” tulis Ketua STAH.
Hal yang sama juga disampaikan salah satu dosen Dr. I Nyoman Slamet.
“Terima kasih Mas Temu sudah membina anak-anak saya dan Generasi muda.” TMU






