Tahun 1984, Tsunami Senyap Menerjang Surumana Kabupaten Donggala

Oleh: Ir. Drs. Abdullah, MT.

Surumana Sampai Awal 1984

Surumana, Lalombi, Watatu dan Sarjo termasuk kampung tua yang semuanya telah berstatus desa. Tiga desa yang pertama merupakan bagian dari Kecamatan Banawa Selatan Kabupaten Donggala, Sulteng. Adapun Desa Sarjo merupakan bagian dari Kecamatan Sarjo Kabupaten Pasangkayu, Sulbar. Sampai awal tahun 1984, terdapat 2 pelabuhan alam di muara Sungai Surumana, yakni pelabuhan Sarjo (dulu Sulsel, sekarang Sulbar) di bagian selatan dan pelabuhan Surumana (Sulteng) di bagian utara. Dasar perairan di muara dan sekitarnya cukup dalam sehingga bisa disinggahi perahu atau kapal motor yang cukup besar. Kedua pelabuhan tersebut selalu ramai, baik sebagai pelabuhan asal mau pun sebagai pelabuhan tujuan atau transit. Karenanya, aktivitas di Desa Surumana cukup tinggi dan secara umum sebanding dengan aktivitas di Donggala Kota.

Mata pencaharian warga Surumana adalah petani sawah serta kebun kelapa dan kebun campuran, nelayan, pelaut, pedagang, dan lain-lain. Cukup luas lahan sawah dan lahan kebun. Tidak ada lahan tambak. Tetapi, sudah ada 1 orang yang mulai membuat tambak secara manual, yakni menggunakan cangkul, sekop dan linggis, dan lokasinya relatif jauh dari pantai.

Kronologis Tsunami dan Dampak

Hujan deras mengguyur Desa Surumana dsk. (dan sekitarnya), Sungai Surumana meluap dan menggenangi wilayah sekitarnya. Sekitar jam 03 Wita dinihari, dalam suasana gelap, tiba-tiba gelombang laut yang besar, warga menyebutnya gelombang bergulung-gulung, menerjang wilayah yang sedang digenangi luapan air sungai. Gelombang tersebut menyatu dengan genangan dari luapan Sungai Surumana. Tinggi air di darat menjadi setinggi dada orang dewasa.

Warga pun panik dan segera menjauh dari pantai dan dari wilayah yang tergenang air sungai. Setelah itu, diketahui bahwa ada daratan pantai yang hilang menjadi dasar laut, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1. Panjangnya sekitar 3 km, mulai dari muara Sungai Surumana sampai Dusun Baturoko Desa Lalombi. Lebarnya sekitar 300 m. Dampaknya cukup besar. Dua jembatan rusak, masing-masing rusak berat dan rusak ringan. Dua ruas jalan sejajar pantai dengan lebih dari 100 rumah di kedua sisi ruas jalan tersebut serta 2 lapangan sepak bola menjadi dasar laut. Selain itu, lokasi 10 rumah di sekitar muara sungai, lokasi sejumlah toko, pasar, sekolah dan masjid juga hilang menjadi dasar laut. Gelombang yang bergulung-gulung tersebut, juga menggenangi sejumlah petak sawah antara Surumana dengan Lalombi. Tidak ada korban jiwa.

Gambar 1  Wilayah pesisir Desa Surumana Kecamatan Banawa Sealatan (Bansel) yang pernah diterjang tsunami senyap pada 1984

Tidak ada gempabumi yang mendahului gelombang laut yang besar tersebut. Ternyata, gelombang laut tersebut dibangkitkan oleh daratan pantai yang secara tiba-tiba hilang dan menjadi dasar. Fenomena seperti ini bisa disebut downlift, yakni penurunan permukaan tanah yang terjadi secara cepat dan tiba-tiba. Tetapi, umumnya peristiwa seperti ini biasanya terjadi ketika terjadi gempabumi. Sehingga, downlift yang terjadi di Surumana berbeda dengan downlift yang terjadi di tempat lain yang umumnya terjadi ketika terjadi gempabumi. Namun demikian, gelombang laut yang besar tersebut tetap bisa disebut sebagai “tsunami senyap”, karena tidak didahului oleh gempabumi, meski pun hanya gempa yang lemah. 

Tanggal Kejadiannya?

Gunungapi (GA) Colo meletus pada sore menjelang malam 23 Juli 1983. Letusan utamanya pada 25 Juli 1983. Kemudian, berangsur-angsur pulih sampai Oktober 1983. Warga Surumana dan sekitarnya, juga merasakan kiriman debu letusan GA tersebut. Mereka menyebutnya hujan abu. Setelahnya, Surumana diterjang gelombang laut bergulung-gulung sebagaimana disebutkan di atas. Tetapi, tidak ada warga yang mengingat tanggal kejadiannya. Mereka hanya mengingat bahwa bencana tersebut terjadi sesudah GA Colo meletus pada 1983. Bencana tsunami senyap tersebut terjadi pada 1984, kemungkinan besar awal 1984.

Sesudah Kejadian

Semua sawah yang dekat dengan pantai digenangi oleh air tsunami sehingga tidak bisa lagi ditanami padi. Karenanya, sawah-sawah tersebut dikonversi menjadi tambak, lihat Gambar 1. Hal ini sejalan dengan booming pembukaan tambak di sebagian wilayah pesisir Indonesia pada tahun 1980 – 1990-an.

Warga penyintas mendapatkan bantuan rumah semi permanen dari Pemerintah. Tapi yang mendapatkan bantuan hanya 60 KK. Separuhnya tidak mendapatkan. Semua rumah bantuan tersebut dibangun di satu lokasi, yakni di persawahan yang relatif jauh dari pantai, di kampung baru, yang sekarang disebut Dusun I. Hingga saat ini, semua rumah tersebut masih berdiri tetapi semuanya sudah direnovasi, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 2.

Karena jalan poros Donggala – Surumana, khususnya pada segmen Lalombi – Surumana, sebagian manjadi dasar laut, sehingga dibangun jalan baru, jauh dari pantai. Jalan baru tersebut mulai dari tikungan patah di Lalombi sampai tugu Surumana. Jalan ini mulai digunakan sebagai jalan umum sekitar tahun 1990. Sekarang, jalan ini menjadi bagian dari Jl. Trans Sulawesi, poros Palu – Mamuju.

Beberapa tahun yang lalu, di pantai Surumana berdiri Kawasan Wisata Mangrove “Kaombona”, lihat Gambar 1. Penamaan kaombona mengacu kepada downlift yang memicu tsunami senyap tersebut. Kaombona (Bahasa Kaili) bermakna tanah turun atau tanah runtuh.

Selain itu, ada hal yang menarik dari peristiwa bencana tersebut. Ada warga penyintas (korban bencana) meyakini bahwa bencana yang terjadi akibat dari pembuatan tambak yang sedang dilakukan oleh salah seorang warga, yang juga penyintas. Syukurlah, hal ini tidak sampai menimbulkan perselisihan di antara sesama penyintas.

Info Awal dan Responden

Pada 1999 – 2001, PSL [Pusat Studi Lingkungan, sekarang PPLH (Pusat Penelitian Lingkungan Hidup)] UNTAD bekerja sama dengan UCE-CEPI (University Consortium on the Environment – Collaborative Environmental Project in Indonesia) mengadakan penelitian yang berjudul “Penelitian Wilayah Pesisir Banawa Selatan”. Proyek ini dibantu oleh Canada. Wilayah penelitiannya meliputi Desa Tolongano dan beberapa desa di sekitarnya. Basecampnya di Desa Tolongano, di Dusun Lembasada (sekarang Desa Lembasada). Waktu itu, Kecamatan Banawa belum terbagi menjadi 3 kecamatan seperti sekarang. Juga, Desa Tolongano belum terbagi menjadi beberapa desa. Sekitar 10 dosen UNTAD, termasuk penulis, tergabung dalam proyek penelitian ini.

Dari sinilah awalnya penulis mendapatkan informasi samar-samar tentang tsunami yang pernah terjadi di Banawa. Lebih 20 tahun kemudian, barulah penulis menindaklanjuti dengan baik informasi tersebut dan berhasil menemui beberapa penyintas yang kemudian penulis jadikan sebagai responden. Penulis melakukan 3 kali wawancara di 2 tempat, yaitu:

  • Wawancara pada Sabtu/24 Februari 2024 di Dusun I, lihat Gambar 3.
  • Wawancara Minggu, Minggu/04 Juni 2023 dan Sabtu/24 Februari 2024 di Dusun II, lihat Gambar 4.

Hasil wawancara disusun sedemikian rupa agar mudah dipahami oleh para pembaca. Susunannya sebagaimana yang diuraikan di atas. Masih ada sejumlah penyintas lainnya yang bisa dijadikan responden. Di antaranya ada yang bermukim di Desa Sarjo Kabupaten Pasangkayu.

Penutup

  • Dusun I dan Dusun II yang disebutkan di atas, dahulunya adalah persawahan dan lahan yang belum diolah atau dihuni. Keduanya terbentuk menjadi permukiman setelah tsunami senyap 1984.
  • Tanggal kejadian tsunami senyap tersebut, kemungkinan bisa diketahui dengan menelusuri arsip di Dinas Sosial Kabupaten Donggala dan/atau Provinsi Sulawesi Tengah. Karena, 60 rumah bantuan untuk penyintas tersebut berasal dari dinas tersebut.  

Penulis adalah Dosen Prodi Teknik Geofisika Jurusan Fisika dan Matematika, dan Kepala Laboratorium Palu-Koro Fakultas MIPA Universitas Tadulako, Palu

Pos terkait