Investasi Program Sosial Rp70 Miliar, Upaya PT Vale Menghidupkan Desa di Sekitar Tambang

Upaya PT Vale Menghidupkan Desa di Sekitar Tambang dilaksanakan melalui investasi program sosial sebesar Rp70 Miliar. FOTO: HUMAS PT VALE

MOROWALI, MERCUSUAR – Di Desa Onepute Jaya, Kecamatan Bungku Timur, tak lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Di sudut desa, tumpukan sampah yang dulu menjadi persoalan kini berubah menjadi sumber penghidupan baru. Sejumlah warga tampak memilah plastik, mengolah sisa makanan, dan menimbang hasilnya dengan cermat. Di tempat itulah, roda kecil ekonomi mulai berputar-pelan, tapi pasti.

Perubahan itu tak datang begitu saja. Ia tumbuh dari program pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang didukung PT Vale Indonesia Tbk, perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Morowali. Hingga 2025, perusahaan ini telah menggelontorkan sekitar Rp70 miliar untuk program sosial di 17 desa lingkar tambang, mencakup wilayah Bahodopi hingga Bungku Timur.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya statistik. Namun bagi warga seperti yang ada di Onepute Jaya, ia menjelma menjadi fasilitas nyata: sebuah Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang kini dikelola oleh lembaga masyarakat setempat.

“Dulu sampah dibakar atau dibuang begitu saja. Sekarang kami pilah, bahkan bisa dijual,” ujar seorang pengelola TPS3R, sembari menunjuk tumpukan plastik yang siap dikirim.

Hingga pertengahan 2025, fasilitas ini telah mengolah puluhan ton sampah mulai dari organik hingga anorganik. Bahkan, residu yang tersisa pun tercatat dalam jumlah signifikan. TPS3R ini tak hanya menjadi tempat pengolahan, tetapi juga simpul ekonomi: membeli sampah dari pengepul dan menjadi offtaker bagi produk organik warga.

Program ini lahir dari kolaborasi panjang antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan perusahaan. Dalam berbagai laporan sebelumnya tentang kawasan industri Morowali, pengelolaan limbah memang menjadi salah satu isu krusial seiring pesatnya pertumbuhan industri nikel di wilayah tersebut. Kehadiran TPS3R menjadi salah satu jawaban atas kekhawatiran itu meski tentu belum menyelesaikan semua persoalan lingkungan.

Tak jauh dari sana, hamparan sawah di Desa Ululere dan Kolone memperlihatkan wajah lain dari perubahan. Di tengah dominasi industri tambang, sebagian warga justru kembali menanam padi kali ini dengan pendekatan organik.

Program pertanian organik yang digagas bersama dinas terkait ini melibatkan puluhan petani lokal. Mereka tak hanya menanam, tetapi juga belajar dari teknik budidaya hingga sertifikasi.

Hasilnya mulai terlihat. Dalam satu musim tanam, produktivitas padi mencapai lebih dari lima ton per hektare. Sementara kelompok tani sayur mampu menghasilkan ribuan kilogram dari lahan yang relatif kecil.

“Awalnya kami ragu. Tapi setelah panen, hasilnya lebih baik dari yang kami kira,” kata seorang petani di Bahomotefe.

Upaya ini menjadi penting di tengah kekhawatiran tentang ketergantungan ekonomi pada sektor tambang. Sejumlah kajian sebelumnya menyebutkan bahwa daerah tambang sering menghadapi risiko “boom and bust” ketika ekonomi melonjak cepat, lalu rentan anjlok saat sumber daya menipis. Diversifikasi melalui pertanian menjadi salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutan ekonomi lokal.

Di sektor lain, investasi sosial juga menyentuh ruang-ruang yang lebih sunyi: sekolah dan fasilitas kesehatan.

Di beberapa desa, bangunan sekolah diperbaiki, program pendidikan kesetaraan dijalankan, hingga pelatihan vokasional digelar untuk anak-anak muda yang ingin masuk dunia kerja. Sosialisasi tentang bahaya narkoba, HIV, hingga keselamatan berkendara juga menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang lebih siap menghadapi perubahan.

Sementara itu, di Puskesmas Bahomotefe, wajah layanan kesehatan perlahan berubah. Renovasi bangunan, tambahan ambulans, hingga alat medis baru memberi napas segar bagi tenaga kesehatan yang selama ini bekerja dengan keterbatasan.

Tak hanya infrastruktur, pendekatan promotif juga diperkuat. Program Gerakan Masyarakat Sehat menjangkau belasan desa mengajak warga berolahraga, memeriksakan kesehatan, hingga mengenal pola makan yang lebih baik.

Isu stunting, yang masih menjadi tantangan di banyak wilayah Indonesia termasuk Sulawesi Tengah, juga mendapat perhatian. Intervensi dilakukan melalui penyuluhan, pemberian makanan tambahan, hingga pendampingan bagi ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis.

Namun di balik semua capaian itu, pertanyaan besar tetap mengemuka: sejauh mana program-program ini mampu bertahan dalam jangka panjang?

Dalam berbagai pemberitaan sebelumnya tentang industri ekstraktif di Indonesia, keberlanjutan program sosial perusahaan kerap menjadi sorotan. Banyak program yang berjalan baik selama masa operasi aktif, namun melemah ketika intensitas produksi menurun atau kebijakan berubah.

Di Morowali, harapan itu kini bertumpu pada satu hal: sejauh mana masyarakat benar-benar menjadi pelaku utama, bukan sekadar penerima manfaat.

Di TPS3R Onepute Jaya, di sawah-sawah organik, dan di ruang kelas sederhana, tanda-tanda itu mulai terlihat. Warga tak lagi hanya menunggu, tetapi mulai mengelola, memutuskan, dan mengembangkan.

“Kalau program ini berhenti, kami harap kami sudah bisa jalan sendiri,” ujar seorang warga, pelan.

Di antara deru mesin tambang dan lalu lintas truk industri, suara-suara seperti itulah yang mungkin paling penting untuk didengar. Karena pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang investasi besar, tetapi tentang bagaimana ia berakar dan bertahan di kehidupan sehari-hari masyarakat. TIN

Pos terkait