MERCUSUAR — Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, mendapat pelatihan literasi keuangan dan pengelolaan usaha untuk memperkuat kemampuan kelompok dalam menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, mengelola arus kas, serta mengantisipasi risiko usaha.
Pelatihan berlangsung 6–9 Agustus 2026 dan diselenggarakan Forest Programme V (FP V) bersama Wilayah III Balai Perhutanan Sosial (BPS) Banjarbaru. Hannah Asa Indonesia terlibat sebagai Research, Learning & Capacity Development Partner.
Dalam pelatihan, peserta tidak hanya mempelajari konsep keuangan, tetapi menggunakan kondisi dan pengalaman usaha masing-masing sebagai bahan latihan. Materi mencakup perhitungan biaya usaha, Harga Pokok Produksi (HPP), penentuan harga jual, pencatatan keuangan, arus kas, laba, risiko usaha, hingga perencanaan pengembangan bisnis.
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, mengatakan kemampuan menghitung dan menggunakan informasi keuangan menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan usaha.
“Yang penting bukan hanya peserta mengetahui istilah HPP, cash flow, atau laba, tetapi mereka mampu menghitung dan menggunakannya ketika mengambil keputusan dalam usaha,” katanya.
Menurut Hannah Asa Indonesia, keberlanjutan usaha KUPS tidak hanya bergantung pada kemampuan memproduksi dan menjual produk. Kelompok juga perlu memahami risiko produksi, pasar, keuangan, operasional, sumber daya manusia, lingkungan, regulasi, dan reputasi.
Pelatihan turut melibatkan IDX Sulawesi Tengah dan OJK Sulawesi Tengah. Keterlibatan kedua lembaga tersebut memberikan peserta perspektif mengenai pasar modal, jasa keuangan, dan ekosistem keuangan sebagai bagian dari pengembangan usaha.
Hannah Asa Indonesia menilai pelatihan bukan menjadi tahap akhir pengembangan kapasitas. Pendekatan yang digunakan mencakup tahapan assess, learn, practice, coach, implement, monitor, hingga impact, dengan penekanan pada penerapan pengetahuan dalam praktik usaha.
Pengalaman di Sanggau juga menjadi bagian dari pilot learning experience bagi Hannah Asa Indonesia untuk memahami kebutuhan dan tantangan KUPS secara lebih kontekstual. Hasil pembelajaran tersebut akan digunakan untuk mengembangkan materi, perangkat praktis, asesmen, coaching, serta monitoring dan evaluasi pada tahap berikutnya.
Penguatan kapasitas KUPS diarahkan agar kelompok tidak hanya mampu meningkatkan penjualan produk, tetapi juga memahami kondisi usaha, mengambil keputusan secara lebih baik, menghadapi risiko, dan membangun penghidupan yang lebih tangguh. */MAN







