PALU, MERCUSUAR — KARSA Institute bersama NLR Indonesia, Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), dan Mahasiswa KKNT Angkatan IV Universitas Azis Lamadjido (UNAZLAM) menggelar pelatihan kemitraan dan kepemimpinan dalam layanan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM).
Kegiatan yang berlangsung 12–13 Agustus 2026 di Satriya Meeting Room KARSA Institute, Palu, tersebut diikuti perwakilan organisasi penyandang disabilitas dari tingkat Provinsi Sulawesi Tengah, Kota Palu, dan Kabupaten Sigi. Kegiatan mendapat dukungan Liliane Fonds.
Pelatihan merupakan bagian dari Program BEN (Building Effective Networks), yang diarahkan untuk memperkuat ekosistem inklusi disabilitas berbasis komunitas, khususnya dalam peningkatan kapasitas Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis), penguatan jejaring kemitraan, serta perluasan akses terhadap layanan inklusif dan berkelanjutan bagi anak dan remaja penyandang disabilitas.
Peserta mendapatkan materi mengenai kepemimpinan inklusif, advokasi berbasis hak penyandang disabilitas, peran strategis OPDis dalam layanan RBM, komunikasi strategis, pengembangan kemitraan lintas sektor, serta penyusunan rencana tindak lanjut kolaborasi di wilayah masing-masing.
Wakil Dekan I Bidang Akademik Universitas Azis Lamadjido, Dr. I Nyoman Swedana, S.E., M.M., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk ikut meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan di lapangan.
Menurutnya, kemitraan antara perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas perlu diperkuat agar pengetahuan akademik dapat diterapkan untuk menjawab persoalan sosial.
“Sudah waktunya mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman mengenai bagaimana memberdayakan masyarakat, mengubah sudut pandang, serta mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk menjawab berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat,” katanya.
Direktur Eksekutif KARSA Institute, Rahmat Saleh, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam pelatihan menjadi bagian penting dari kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi masyarakat sipil.
Selain memperoleh pengalaman langsung berinteraksi dengan organisasi penyandang disabilitas dan komunitas, mahasiswa juga diharapkan memahami pemberdayaan masyarakat, kepemimpinan, advokasi, dan pentingnya membangun kemitraan yang setara dengan penyandang disabilitas.
Ketua PPDI Sulawesi Tengah, Yusuf Lapagu, mengapresiasi keterlibatan Universitas Azis Lamadjido melalui mahasiswa KKNT dalam kegiatan tersebut.
“Kami menyambut baik kolaborasi dengan pihak kampus. Kami berharap isu-isu inklusivitas, khususnya isu disabilitas, semakin membuka ruang diskusi dan mendorong berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih inklusif,” ujar Yusuf.
Ia berharap perguruan tinggi dapat berperan lebih besar dalam mengampanyekan inklusivitas dan pemenuhan hak penyandang disabilitas.
“Kami berharap perguruan tinggi dapat menjadi salah satu ujung tombak dalam mengampanyekan isu inklusivitas, khususnya pemenuhan hak penyandang disabilitas. Kami juga berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut,” tambahnya.
Pelatihan tersebut ditargetkan menghasilkan penguatan kapasitas kepemimpinan OPDis, kemampuan advokasi berbasis hak, strategi kemitraan lintas sektor, dan rencana aksi untuk mendukung layanan RBM di masing-masing wilayah.
Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat hubungan antara OPDis, pemerintah, fasilitas layanan, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, komunitas, keluarga, dan pemangku kepentingan lainnya.
Melalui Program BEN, penyandang disabilitas didorong tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga sebagai aktor utama dan mitra strategis dalam mendorong perubahan sosial serta pembangunan yang inklusif di Sulawesi Tengah. */JEF







