LERE, MERCUSUAR – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama menggelar edukasi dan pengamatan Rashdul Kiblat melalui metode bayangan matahari sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional Indonesia Berkiblat 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (15/7/2026) itu diikuti mahasiswa Program Studi Perbandingan Mazhab UIN Datokarama, mahasiswa Program Studi Ahwal Syakhsiyyah Universitas Alkhairaat, para pembina, serta santri Pondok Pesantren Anwarul Quran Kota Palu. Acara dibuka oleh Koordinator Program Studi Perbandingan Mazhab, Nursalam Rahmatullah, S.H.I., M.H.
Ketua HMPS Perbandingan Mazhab, Musfira, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan metode sederhana namun akurat dalam menentukan arah kiblat melalui fenomena Rashdul Kiblat.
“Fenomena ini hanya terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada 27/28 Mei dan 15/16 Juli. Karena itu perlu disosialisasikan agar masyarakat dapat memanfaatkannya untuk mengecek arah kiblat rumah, masjid, kantor, maupun pemakaman,” ujarnya.
Materi disampaikan oleh Dosen Ilmu Falak UIN Datokarama sekaligus Ketua Lajnah Falakiyah Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi, Muhammad Syarief Hidayatullah, M.H. Ia menjelaskan konsep Rashdul Kiblat, yakni saat matahari berada tepat di atas Ka’bah sehingga bayangan benda dapat digunakan sebagai acuan penentuan arah kiblat secara akurat.
Selain mendapatkan materi teori, peserta juga mengikuti praktik lapangan menggunakan theodolit untuk mengukur arah kiblat dan membandingkan hasilnya dengan metode pengamatan bayangan matahari.
Muhammad Syarief Hidayatullah menilai edukasi semacam ini perlu diperluas agar semakin banyak masyarakat memahami cara menentukan arah kiblat secara benar.
“Metode mudah penentuan arah kiblat seperti ini harus terus dilaksanakan, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di sekolah, majelis taklim, maupun organisasi kemasyarakatan. Harapannya, setiap muslim di Sulawesi Tengah dapat secara mandiri menentukan ataupun mengecek kembali arah kiblat,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat yang membutuhkan bantuan pengukuran arah kiblat dapat memanfaatkan layanan Laboratorium Ilmu Falak UIN Datokarama maupun Kantor Kementerian Agama di tingkat kabupaten dan kota yang telah memiliki peralatan dan tenaga ahli.
Salah seorang peserta dari Universitas Alkhairaat, Nurfadillah, mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai pentingnya ketepatan arah kiblat dalam pelaksanaan ibadah.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memahami teori Rashdul Kiblat, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik dalam menentukan arah kiblat secara ilmiah. Edukasi ini diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ketepatan arah kiblat sekaligus mendorong pemanfaatan fenomena Rashdul Kiblat sebagai media pembelajaran ilmu falak.






