PALU, MERCUSUAR – Tiga tahun kepemimpinan Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., Asean Eng., sebagai Rektor Universitas Tadulako (Untad), kampus tersebut mencatat berbagai capaian strategis di bidang akademik, tata kelola, pengembangan sumber daya manusia, hingga kerja sama internasional dan infrastruktur pendidikan.
Salah satu capaian utama yang berhasil diraih adalah predikat “Akreditasi Unggul” untuk institusi Untad. Predikat tersebut menjadi tonggak baru dalam sejarah kampus, setelah hampir 42 tahun sebelumnya berada pada kategori akreditasi baik dan baik sekali.
Capaian itu turut menempatkan Untad sejajar dengan sejumlah perguruan tinggi negeri besar lainnya di Indonesia. Pada akhir 2025, Untad juga berhasil masuk dalam jajaran 35 perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Prof Amar mengatakan, berbagai capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika dalam mendorong transformasi institusi secara menyeluruh.
“Semua capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika yang terus bersinergi membangun Untad,” ujarnya.
Selain peningkatan akreditasi institusi, Untad juga mencatat perkembangan signifikan pada aspek sumber daya manusia. Dalam dua tahun terakhir, jumlah guru besar atau profesor bertambah sebanyak 76 orang, sehingga total guru besar aktif Untad saat ini sebanyak 134 orang.
Di bidang tata kelola, Untad memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam pengelolaan keuangan dan administrasi akademik, serta menerima penghargaan keterbukaan informasi dari pemerintah pusat.
Transformasi digital juga menjadi fokus pengembangan kampus. Sistem administrasi perencanaan, pengelolaan keuangan, hingga layanan tridarma perguruan tinggi terus dikembangkan berbasis digital guna mendukung tata kelola yang lebih akuntabel, transparan, dan efisien.
Pada sektor kemahasiswaan, Untad berhasil masuk dalam 25 besar nasional capaian prestasi mahasiswa melalui penguatan pembinaan akademik dan nonakademik.
Untad juga memperluas kerja sama internasional dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga luar negeri di Jepang, China, Jerman, Australia, Serbia, hingga sejumlah negara Eropa lainnya. Kerja sama tersebut diimplementasikan melalui penelitian bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan akademik lintas negara.
Dalam pengembangan infrastruktur, Untad membangun berbagai fasilitas penunjang pembelajaran, mulai dari sarana olahraga, penguatan jaringan internet kampus, peningkatan sistem kelistrikan dan air bersih, hingga pembangunan fasilitas menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH).
Pada 2026, Untad direncanakan mulai membangun asrama mahasiswa berkapasitas 8.000 orang yang dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, termasuk kendaraan listrik hasil kerja sama internasional dengan China. Program tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem kampus modern, terintegrasi, dan ramah lingkungan.
Selain itu, Untad memperoleh bantuan 3.000 buku dari pemerintah China yang menjadikan kampus tersebut sebagai salah satu perguruan tinggi dengan koleksi buku China terbesar di Indonesia.
Penguatan sektor riset juga dilakukan melalui pembangunan Nalodo Research Center yang diproyeksikan menjadi pusat penelitian likuefaksi pertama di Indonesia. Bersamaan dengan itu, pembangunan Rumah Sakit Untad serta embung pembelajaran bidang keairan dan perikanan terus berjalan.
Dari sisi pendapatan institusi, Untad mencatat peningkatan signifikan. Pendapatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang pada 2022 berada di kisaran Rp76 miliar meningkat menjadi sekitar Rp228 miliar pada akhir 2025, meskipun jumlah mahasiswa relatif stabil.
Peningkatan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan juga menjadi bagian dari transformasi institusi melalui penguatan sistem remunerasi yang disebut termasuk salah satu yang tertinggi di kawasan timur Indonesia untuk perguruan tinggi negeri.
“Kami ingin Untad menjadi kampus yang unggul, tangguh, dan adaptif,” tegas Prof Amar.
Ia menambahkan, berbagai capaian tersebut masih menjadi bagian awal dari agenda besar transformasi institusi yang akan terus dilanjutkan demi memperkuat posisi Untad sebagai pusat pendidikan, riset, inovasi, dan pengembangan kawasan timur Indonesia.
Menurutnya, penguatan kualitas akademik, tata kelola modern, internasionalisasi kampus, serta peningkatan kesejahteraan sivitas akademika akan tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan universitas ke depan. Untad juga terus mendorong penguatan kolaborasi dengan pemerintah, dunia industri dan mitra internasional, guna memperluas peluang penelitian, pengembangan teknologi, serta peningkatan daya saing lulusan di tingkat nasional maupun global. */JEF






