Berdayakan Masyarakat Adat, KUPS Topehvu Inovasikan Budidaya Madu Trigona

Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Topehvu di Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, mengembangkan inovasi budidaya madu trigona berbasis konservasi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat adat Desa Masewo sekaligus menjaga kelestarian hutan adat, Minggu (14/6/2026). FOTO: DOK IST

SIGI, MERCUSUAR – Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Topehvu di Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, mengembangkan inovasi budidaya madu trigona berbasis konservasi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat adat Desa Masewo sekaligus menjaga kelestarian hutan adat.

Upaya tersebut mendapat dukungan pendanaan melalui program Small Grants FOLU Terra dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Bantuan ini menjadi momentum bagi KUPS Topehvu untuk meningkatkan kualitas produksi dan kapasitas manajemen usaha madu trigona yang selama ini menjadi komoditas unggulan masyarakat setempat.

Kegiatan penguatan kapasitas yang berlangsung selama dua hari itu diikuti sekitar 100 peserta. Narasumber yang dihadirkan adalah Lukas, praktisi madu trigona asal Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, yang telah berpengalaman lebih dari 25 tahun. Ia membagikan metode budidaya tradisional yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi alam setempat.

Direktur Karsa Institute, Rahmat Saleh, S.Hut., M.Pwp., mengatakan pendampingan yang dilakukan lembaganya bertujuan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan. Menurutnya, KUPS Topehvu diharapkan dapat menjadi model pengelolaan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang berkelanjutan di Sulawesi Tengah.

Sementara itu, Ketua KUPS Topehvu, Delsy Friani, menyampaikan bahwa program tersebut mendapat sambutan antusias dari anggota kelompok. Madu trigona dari hutan adat Desa Masewo kini ditargetkan dapat menembus pasar yang lebih luas dengan rantai distribusi yang lebih terjamin.

“kami tidak berbicara tentang keuntungan, tetapi juga bagaiman madu ini menjadi simbol keberhasilan warga Maswewo dalam menjaga hutan. Terima kasih kepada BPDLH dan Karsa institute yang telah membuka jalan bagi kami untuk berkembang,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi antara masyarakat, BPDLH, dan Karsa Institute, KUPS Topehvu diharapkan menjadi contoh pengelolaan hasil hutan bukan kayu yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian hutan. IKI/*

Pos terkait