PALU, MERCUSUAR – Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (PERHATI-KL) Cabang Sulawesi Tengah menggelar seminar nasional bertajuk Simposium Sleep Apnea Syndrome: Dari Tidur yang Terganggu Menuju Berbagai Gangguan Kesehatan di Hotel Grandsyah Palu, Selasa (16/6/2026).
Seminar nasional tersebut dirangkaikan dengan pelantikan pengurus PERHATI-KL dan BKEK Cabang Sulawesi Tengah periode 2025–2028, serta menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI).
Simposium diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa kedokteran dan coass, dokter umum, hingga dokter spesialis. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya minat untuk memperdalam pengetahuan mengenai gangguan tidur yang kini semakin banyak ditemukan di masyarakat.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes ini sekaligus melantik pengurus PERHATI-KL yang diketuai oleh dr. Bastiana, M.Kes., Sp.THT-BKL dan BKEK Cabang Sulawesi Tengah dipimpin dr. Benyamin Franklyn Lumban Sitio, M.Sc.,.Pelantikan juga dihadiri oleh Ketua Perhati-KL Wilayah Timur, dr Tjandar Manukbua, Sp.THTBKL.

Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peningkatan pengetahuan dan kolaborasi antar tenaga kesehatan dalam mendeteksi serta menangani berbagai penyakit, termasuk gangguan tidur yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Dua narasumber hadir menyampaikan materi dalam simposium tersebut, yakni Prof. Dr. dr. Sutji Pratiwi Raharjo, Sp.THT-BKL, Subsp.LF(K), dan dr. Bastiana, M.Kes., Sp.THT-BKL. Keduanya memaparkan berbagai aspek terkait Sleep Apnea Syndrome, mulai dari faktor risiko, gejala, metode diagnosis, hingga penanganan yang tepat.
Prof. Sutji Pratiwi Raharjo menjelaskan bahwa Sleep Apnea Syndrome merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan berhentinya napas secara berulang saat tidur. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, hipertensi, stroke, diabetes, hingga penurunan kualitas hidup penderitanya.

Sementara itu, dr. Bastiana menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala awal gangguan tidur, seperti mendengkur keras, rasa kantuk berlebihan di siang hari, dan kelelahan yang berkepanjangan. Menurutnya, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat.
Selain menjadi wadah pengembangan ilmu pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi momentum penguatan organisasi profesi melalui pelantikan pengurus PERHATI-KL dan BKEK Cabang Sulawesi Tengah masa bakti 2025–2028. Diharapkan kepengurusan yang baru dapat semakin meningkatkan pelayanan kesehatan, khususnya di bidang Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher (THT-BKL), serta memperkuat peran organisasi dalam pengabdian kepada masyarakat.
Melalui penyelenggaraan simposium ini, para tenaga kesehatan di Sulawesi Tengah diharapkan semakin siap menghadapi tantangan penyakit terkait gangguan tidur dan mampu memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat guna mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik. IKI






