Ketika Gelap Menyerah di Pedalaman Lindu

Bertahun-tahun hidup dengan penerangan terbatas, warga Desa Olu di pedalaman Sulawesi Tengah akhirnya menikmati listrik selama 24 jam. FOTO : DOK PLN

Bertahun-tahun hidup dengan penerangan terbatas, warga Desa Olu di pedalaman Sulawesi Tengah akhirnya menikmati listrik selama 24 jam. Kehadiran listrik PLN bukan sekadar mengakhiri gelap, tetapi juga menghemat pengeluaran keluarga, menghidupkan usaha kecil, dan membuka harapan baru bagi perekonomian desa.

Oleh : Kartini Nainggolan/Mercusuar

BAGI Frans (45), malam di Desa Olu, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pernah menjadi waktu yang serba terbatas. Ketika matahari tenggelam, keluarganya harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan berbagai aktivitas sebelum penerangan di rumah kembali padam.

Bertahun-tahun, mesin generator menjadi satu-satunya sumber listrik yang bisa diandalkan keluarganya. Itu pun hanya dinyalakan sekitar tiga hingga empat jam setiap malam. Waktu yang singkat tersebut harus dibagi untuk berbagai kebutuhan. Anak-anak belajar, keluarga makan malam, dan pekerjaan rumah tangga diselesaikan sebelum mesin generator dimatikan.

“Kami tidak pernah bermimpi Listrik akan masuk di desa kami. Bertahun-tahun kami hanya andalkan generator dan lampu pelita untuk penerangan,” kata Frans, Sabtu (26/10/2026).

Bukan tanpa alasan Frans membatasi waktu penggunaan listrik. Setiap jam mesin generator menyala, ada bahan bakar yang harus dibeli. Semakin lama digunakan, semakin besar pula biaya yang mesti dikeluarkan.

Padahal, untuk menikmati penerangan yang terbatas itu, Frans harus merogoh kocek sekitar Rp2 juta – Rp3 juta setiap bulan hanya untuk membeli bahan bakar generator.

Bagi sebagian keluarga lainnya, memiliki mesin generator pun bukan pilihan yang mudah. Mereka terpaksa mengandalkan lampu pelita berbahan bakar minyak tanah untuk menerangi rumah ketika malam tiba. Begitulah kehidupan yang selama bertahun-tahun dijalani sebagian masyarakat Desa Olu. Gelap bukan sekadar keadaan ketika malam datang, tetapi juga batas bagi banyak aktivitas warga.

Frans bahkan tidak pernah membayangkan jaringan listrik PLN suatu hari akan menjangkau desanya. Namun, penantian panjang itu akhirnya berakhir. Pada Juli 2025, jaringan listrik PLN di wilayah Kecamatan Lindu diresmikan. Desa Olu menjadi salah satu wilayah yang akhirnya dapat menikmati pasokan listrik sepanjang hari.

Perubahan itu segera terasa dalam kehidupan keluarga Frans. Kini, ia tidak perlu lagi menghitung berapa jam mesin generator dapat dinyalakan atau berapa banyak bahan bakar yang harus disediakan agar keluarganya bisa menikmati penerangan.

Anak-anak pun memiliki waktu lebih leluasa untuk belajar pada malam hari, tanpa khawatir lampu akan padam karena generator harus dimatikan. Perubahan paling nyata juga terlihat dari pengeluaran rumah tangganya.

Jika sebelumnya Frans menghabiskan sekitar Rp2 juta – Rp 3 juta setiap bulan untuk bahan bakar generator, kini ia hanya perlu mengeluarkan sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu untuk membeli token listrik PLN.

Artinya, pengeluaran listrik keluarganya berkurang sekitar Rp1,6 juta hingga Rp2,7 juta setiap bulan. Uang yang sebelumnya habis untuk membeli bahan bakar kini dapat dialihkan untuk kebutuhan keluarga lainnya.

Namun, bagi Frans, manfaat listrik tidak berhenti pada penghematan biaya dan penerangan rumah. Ia juga menyaksikan bagaimana kehadiran listrik perlahan mengubah kehidupan ekonomi masyarakat desanya.

Dari Penerangan Rumah ke Penggerak Ekonomi Desa

Desa Olu berada di Kecamatan Lindu, wilayah Kabupaten Sigi yang memiliki potensi perikanan air tawar. Sebagian masyarakat menggantungkan penghidupan pada hasil tangkapan ikan.

Sebelum listrik tersedia sepanjang hari, keterbatasan energi turut membatasi aktivitas produktif masyarakat. Kini, situasinya mulai berubah.

Menurut Frans, sejak listrik PLN masuk, sejumlah warga mulai membuka usaha kecil. Ada yang memproduksi dan menjual es batu untuk membantu pengawetan ikan hasil tangkapan nelayan air tawar. Ada pula warga yang merintis usaha air minum isi ulang.

Usaha-usaha tersebut membutuhkan pasokan listrik yang stabil agar dapat beroperasi. Sesuatu yang sebelumnya sulit dipenuhi ketika masyarakat hanya mengandalkan generator dengan waktu penggunaan terbatas.

Kehadiran listrik membuka kesempatan bagi warga untuk mengembangkan kegiatan ekonomi tanpa harus terus-menerus bergantung pada bahan bakar generator. Aktivitas masyarakat pada malam hari pun semakin ramai. Rumah-rumah yang sebelumnya hanya diterangi beberapa jam, kini dapat menikmati listrik hingga pagi.

Bagi Frans, perubahan itu merupakan sesuatu yang pernah terasa jauh dari jangkauan masyarakat Desa Olu. Kini, listrik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, menghadirkan kenyamanan sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan penghasilan.

Demikian pula yang disarakan Santi, Ibu rumah tangga di desa Olu, telah bertahun tahun mengandalkan pelita untuk penerangan di rumahnya. Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena listrik PLN sangat membantu kehidupannya.

“Terima kasih PLN sudah ada di Desa Olu, sebelum ada PLN saya hanya menggunakan pelita kini lebih tenang karena listrik sudah ada,” ujar Santi.

Sebagai kepala desa sekaligus pelaku usaha, Saidin Ali mengetahui betul bagaimana keterbatasan listrik selama bertahun-tahun memengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat. FOTO : IST

Perubahan serupa dirasakan Kepala Desa Olu, Saidin Ali.

Sebagai kepala desa sekaligus pelaku usaha, Saidin mengetahui betul bagaimana keterbatasan listrik selama bertahun-tahun memengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat. Ia memiliki usaha yang dalam proses produksinya membutuhkan tenaga listrik. Sebelum jaringan PLN masuk, kegiatan usaha tersebut hanya mengandalkan mesin generator.

Persoalannya bukan sekadar mahalnya bahan bakar. Kapasitas dan waktu penggunaan generator juga membatasi proses produksi. Pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat harus dilakukan secara bertahap karena tidak semua peralatan dapat digunakan secara bersamaan.

“Persoalannya kalau pakai generator tidak bisa satu kali hidup ini alat elektronik seperti kulkas dan alat pengisian galon. Jadi durasinya untuk produksi itu lama. Ya, lama sekali,” tutur Saidin, mengenang kondisi usahanya sebelum listrik PLN hadir.

Saat masih mengandalkan generator, biaya yang dikeluarkannya mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta setiap bulan. Kini, setelah listrik PLN tersedia, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp400 ribu per bulan.

“Alhamdulillah, ya betul-betul artinya bisa lah untuk peningkatan ekonomi,” ujarnya.

Bagi Saidin, listrik telah menjawab salah satu persoalan mendasar yang selama ini dihadapi masyarakat desanya. Ia bahkan masih mengingat betapa besar rasa bahagianya ketika mengetahui listrik PLN akhirnya hadir di Desa Olu.

Selama bertahun-tahun, masyarakat Desa Olu harus menerima kenyataan bahwa wilayah tempat tinggal mereka tidak mudah dijangkau jaringan listrik. Kondisi geografis Kecamatan Lindu menjadi salah satu tantangan dalam menghadirkan infrastruktur kelistrikan. Namun, keterbatasan tersebut akhirnya dapat dilalui.

Sebagai kepala desa, Saidin menyampaikan apresiasinya kepada PLN yang telah berupaya menghadirkan listrik bagi masyarakat.

“Kalau kita lihat secara geografis, mungkin Olu ini sulit untuk dijangkau listrik. Tapi dengan segala upaya, PLN tanpa patah semangat bisa memasukkan listrik di Desa Olu. Alhamdulillah, terima kasih,” katanya.

Membuka Akses Energi

Hadirnya listrik di Desa Olu merupakan bagian dari pembangunan infrastruktur kelistrikan PLN untuk memperluas akses energi bagi masyarakat di Kecamatan Lindu.

Untuk melistriki Desa Olu, Dusun Paili di Desa Tomado, serta Dusun Paku di Desa Anca, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 23,58 kilometer sirkuit (kms) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 10,64 kilometer sirkuit (kms).

PLN juga membangun gardu distribusi dengan total kapasitas 550 kilovolt ampere (kVA) untuk mendukung kebutuhan listrik masyarakat di wilayah tersebut.

Bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada perikanan air tawar di desa Olu, ketersediaan listrik memungkinkan tumbuhnya usaha pendukung, seperti produksi es batu untuk membantu menjaga kualitas hasil tangkapan.

Manfaat listrik pun bergerak dari rumah ke rumah, menjangkau kegiatan ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Di Desa Olu, energi berkeadilan mulai menemukan wujudnya. Bukan semata-mata karena jaringan listrik telah menjangkau wilayah yang selama ini sulit diakses, melainkan karena masyarakat kini memiliki kesempatan lebih besar untuk memanfaatkan energi bagi kehidupan mereka.

Gubernur Sulteng Anwar Hafid menghidupkan sekring listrik di salah satu rumah warga di Desa Olu, Kecamatan Lindu, Jumat (18/7/2025).FOTO : BIRO ADPIM PEMPROV SULTENG

Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, memandang kehadiran listrik bukan semata-mata sebagai keberhasilan pembangunan infrastruktur, melainkan sebagai fondasi untuk membuka peluang pembangunan di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses energi.

Saat meresmikan penyalaan listrik di Desa Olu pada 18 Juli 2025, Anwar menyampaikan apresiasi kepada PLN yang terus berupaya menghadirkan layanan kelistrikan hingga ke wilayah terpencil Sulawesi Tengah.

“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada PLN yang terus bekerja menerangi Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah. Ini bukan sekadar janji, tetapi tindakan nyata PLN yang terus menunjukkan semangat melayani hingga ke pelosok Sulawesi Tengah. Desa Olu kini memiliki akses terhadap energi dan ini akan menjadi pondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan pariwisata di wilayah ini,” ujarnya.

Anwar menyadari bahwa menghadirkan listrik hingga ke Kecamatan Lindu bukan pekerjaan yang dapat dilakukan satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, pemerintah desa, dan PLN untuk menjangkau masyarakat yang selama ini belum menikmati layanan listrik secara memadai.

“Ini kolaborasi nyata antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, desa, dan PLN, sebab listrik merupakan kebutuhan dasar yang memiliki peran vital dalam berbagai aspek kehidupan,” katanya.

Baginya, manfaat listrik harus menjangkau berbagai sisi kehidupan masyarakat. Selain mendukung aktivitas ekonomi, ketersediaan energi juga diharapkan meningkatkan kenyamanan beribadah dan mendukung pelayanan kesehatan yang lebih optimal.

Namun, harapan pemerintah terhadap Lindu tidak berhenti pada terpenuhinya kebutuhan listrik. Wilayah yang memiliki potensi pertanian, perikanan air tawar, dan pariwisata itu juga diproyeksikan menjadi salah satu kawasan pengembangan ekonomi di Sulawesi Tengah.

Anwar menyebutkan bahwa Lindu akan diprioritaskan dalam program cetak sawah 10 ribu hektare untuk mendukung peningkatan produksi pertanian di Sulawesi Tengah.

“Cetak sawah ini mulai berjalan tahun ini dan kita siapkan kawasan Lindu sebagai lumbung pangan di masa mendatang,” ujarnya.

Di sektor pariwisata, pemerintah daerah juga mendorong pengembangan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung, mulai dari rencana pembangunan SMK Pariwisata, pelatihan pemandu wisata lokal, hingga pengembangan homestay berbasis kearifan lokal.

“Kita dorong pembangunan SMK Pariwisata, pelatihan pemandu lokal dan pengembangan homestay agar Lindu menjadi destinasi wisata kelas dunia yang berakar pada kearifan lokal,” katanya.

Rencana tersebut menunjukkan besarnya peluang yang dapat dikembangkan di Lindu. Ketersediaan listrik menjadi salah satu prasyarat penting untuk mendukung kegiatan pertanian, pengolahan hasil usaha, pelayanan publik, hingga fasilitas wisata yang membutuhkan pasokan energi.

Menembus Perbukitan dan Rawa, Menghadirkan Keadilan Energi

Terang yang kini dinikmati masyarakat Desa Olu tidak datang begitu saja. Di balik nyala lampu yang menerangi rumah-rumah warga, ada perjalanan panjang pembangunan jaringan listrik yang harus melewati bentang alam Kecamatan Lindu.

Wilayah yang dikelilingi perbukitan dan kawasan rawa di sekitar Danau Lindu itu menyimpan tantangan tersendiri bagi pembangunan infrastruktur kelistrikan. Kondisi geografis membuat upaya menghadirkan listrik tidak semudah menarik jaringan ke wilayah yang memiliki akses transportasi memadai.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkah PLN untuk menjangkau masyarakat yang selama bertahun-tahun mengandalkan mesin generator dan lampu pelita.

USMAN BANGUN

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (UID Suluttenggo), Usman Bangun, mengakui bahwa pembangunan jaringan listrik menuju Desa Olu bukan pekerjaan mudah.

“Akses menuju Desa Olu sangat menantang dengan jalur perbukitan juga rawa, di sekeliling Danau Lindu. Berkat semangat dan sinergi dengan pemerintah dan berbagai pihak, PLN berhasil membawa terang ke Desa Olu,” tutur Usman.

Untuk menghadirkan listrik di wilayah tersebut kata Usman, PLN membangun JTM sepanjang 23,58 kms dan JTR sepanjang 10,64 kms. Pembangunan itu juga dilengkapi delapan gardu distribusi dengan total kapasitas daya 550 kVA.

Infrastruktur tersebut tidak hanya melayani masyarakat Desa Olu, tetapi juga menjangkau Dusun Paku di Desa Anca dan Dusun Palili di Desa Tamado, yang berada di sepanjang jalur jaringan menuju Desa Olu.

Dengan beroperasinya jaringan tersebut, seluruh lima desa di Kecamatan Lindu kini telah terjangkau layanan listrik PLN. Rasio Desa Berlistrik (RDB) PLN di kecamatan itu pun mencapai 100 persen.

Capaian ini menjadi tonggak penting bagi pemerataan akses energi di wilayah Lindu. Masyarakat yang sebelumnya harus mengeluarkan biaya besar untuk mengoperasikan generator kini memiliki pilihan energi yang lebih terjangkau dan dapat digunakan sepanjang hari.

“Desa Olu kini tidak hanya terang secara fisik, tetapi juga menyala dengan harapan baru menuju masa depan yang lebih sejahtera,” ujar Usman.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa pemerataan akses listrik menjadi salah satu bentuk kehadiran negara dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam menyediakan energi, PLN berkomitmen memperluas akses listrik secara merata di seluruh Indonesia. Ketika listrik menyala 24 jam, yang tumbuh bukan hanya penerangan, tetapi masa depan. Anak-anak bisa belajar tanpa batas waktu, usaha kecil bisa berkembang, dan warga bisa terkoneksi dengan dunia. Inilah makna sejati keadilan energi,” ucap Darmawan melalui keterangan tertulisnya, Senin (4/8/2025).

Pernyataan itu menemukan gambaran nyatanya dalam kehidupan masyarakat Desa Olu.

Frans, yang sebelumnya harus mengeluarkan sekitar Rp2 juta setiap bulan untuk bahan bakar generator, kini cukup menyediakan Rp300 ribu hingga Rp400 ribu untuk kebutuhan listrik keluarganya. Saidin Ali, kepala desa yang juga menjalankan usaha, tidak lagi harus membatasi waktu produksi karena ketergantungan pada generator. Sementara sejumlah warga lainnya mulai memanfaatkan listrik untuk mengembangkan usaha.

Perubahan-perubahan tersebut memperlihatkan bahwa akses energi tidak hanya berkaitan dengan tersedianya infrastruktur, tetapi juga dengan kesempatan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengembangkan potensi ekonomi mereka.

Usman Bangun menyebut kehadiran listrik di Desa Olu sebagai bagian dari komitmen PLN untuk membuka akses energi bagi masyarakat yang sebelumnya belum terjangkau jaringan kelistrikan.

“Penyalaan listrik di Desa Olu adalah komitmen kami untuk terus membuka akses energi di wilayah yang sebelumnya belum terjangkau. Kami percaya bahwa dengan menghadirkan listrik, akan membuka jalan bagi tumbuhnya ekonomi lokal, peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan dan sektor lainnya,” ungkapnya.

Di Kecamatan Lindu, pemerataan energi kini bukan lagi sekadar angka pencapaian pembangunan. Manfaatnya mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, dari pengeluaran rumah tangga yang berkurang hingga kegiatan usaha yang semakin leluasa dijalankan.

Dan bagi masyarakat Desa Olu, yang bertahun-tahun menanti jaringan listrik menjangkau kampung mereka, kehadiran PLN telah membuka kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.***

Pos terkait