Oleh: Kartini Nainggolan/Wartawan Mercusuar
Di antara keriuhan Gedung Jodjokodi Convention Center (JCC) Palu siang itu, Kamis (16/4/2026), seorang gadis dengan seragam khas Madrasah Aliyah (MA) Alkhairaat Pusat Palu tampak terpaku. Namanya Aulia (17) pelajar kelas XII. Matanya yang jernih dengan teliti menyapu deretan produk yang tertata rapi di atas meja kayu yang estetik.
Tidak ada bongkahan bijih nikel yang kasar atau maket alat berat yang kaku mendominasi pandangannya. Di hadapannya, justru berjajar “harta karun” dari pesisir dan kaki gunung Morowali. Botol-botol bening berisi Virgin Coconut Oil (VCO) yang jernih, kemasan beras organik dengan jenama Moroa Rice yang elegan, hingga deretan minuman herbal tradisional seperti Wedang Sapu Jagad, Kunyit Asem, dan Temulawak yang menggoda untuk dicicipi.
Aulia berhenti cukup lama di depan stoples-stoples Sambal Ikan Asap. Meski aroma ikannya terkunci rapat dalam kemasan kedap udara demi standar higienitas, imajinasi Aulia terbang jauh melintasi batas kota menuju kampung halamannya di Morowali.
Bagi Aulia, stand pameran PT Vale Indonesia Tbk pada ajang Nambaso Fest 2026 yang dilaksanakan 14-17 April 2026 adalah sebuah kejutan kecil yang manis. Sebagai pelajar yang tumbuh di era informasi, ia sering melihat perusahaan tambang besar lebih senang memamerkan kecanggihan mesin atau angka-angka produksi.
“Jujur, saya terkesan. Biasanya kalau perusahaan tambang ikut pameran, yang dipajang pasti hasil tambangnya, alat-alat canggihnya. Tapi di sini, PT Vale justru menonjolkan produk UMKM. Unik sekali, perusahaan yang sangat peduli pada ekonomi masyarakat,” ungkap Aulia sambil tersenyum kecil.
Kekaguman Aulia bukan tanpa alasan. Ia memiliki keluarga besar di Morowali, dan melihat bagaimana produk lokal diangkat ke level profesional seperti ini memberinya rasa bangga. Baginya, produk seperti Moroa Rice atau Sambal Ikan Asap bukan sekadar komoditas, melainkan martabat para pelaku usaha kecil di desa yang kini memiliki daya saing dan dengan bangga di pamerkan oleh PT Vale di acara besar Hari Ulang Tahun (HUT) ke 62 Provinsi Sulawesi Tengah.
Rasa penasaran Aulia membawanya melangkah lebih dalam. Di dinding stand, terpampang dokumentasi foto yang bercerita tentang lebih dari sekadar aktivitas pertambangan. Ia melihat potret anak-anak sekolah yang antusias mengikuti edukasi kebencanaan, program kesehatan masyarakat, hingga pelatihan parenting bagi orang tua di desa-desa sekitar area operasional.
Sambil sesekali menatap layar televisi yang memutar profil perusahaan, Aulia menyaksikan bagaimana teknologi nikel berkelanjutan diintegrasikan dengan upaya pelestarian lingkungan. Dokumentasi itu seolah menjadi jendela yang memperlihatkan bahwa di balik operasional industri besar, ada denyut nadi pembinaan desa yang terus berdetak.
“Apa yang dilakukan PT Vale di Morowali melalui foto-foto ini mulai dari pendidikan sampai pemberdayaan, membuat saya merasa perusahaan ini sangat sehat dan manusiawi,” tambahnya.
Harapan pun tumbuh di hati siswi Alkhairaat ini. Sambil memegang salah satu produk herbal binaan, Aulia berbisik pelan tentang mimpinya.
Ia berharap, suatu saat nanti setelah menyelesaikan studinya, ia bisa menjadi bagian dari keluarga besar PT Vale. Sebuah impian yang lahir bukan karena megahnya industri, melainkan karena ia melihat sebuah model bisnis yang menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus memanusiakan Masyarakat, khususnya keluarga besarnya di Morowali.
Kemitraan yang Menyentuh Akar
Perspektif tulus dari seorang pelajar seperti Aulia adalah validasi nyata bagi PT Vale. Hal ini selaras dengan apa yang dirasakan oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid yang turut hadir dalam ajang tersebut. Menurut sang Gubernur, pembinaan UMKM oleh PT Vale telah berlangsung secara konsisten sejak tahun 2000-an.
“Kelebihannya Vale itu luar biasa. Mereka membina dari hulu ke hilir. Tidak hanya produk jadinya, tapi sampai bagaimana menghasilkan produk itu semua didampingi,” ujar Gubernur ketika mengunjungi stand pameran milik PT Vale.
Saat ditanya mengenai produk yang paling ikonik, ia menyebut Ikan Asap sebagai ciri khas yang harus terus dikawal agar menjadi identitas kuat Sulawesi Tengah.
Head of External Regional & Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma mengamini hal tersebut. Baginya, stand pameran ini adalah representasi dari komitmen perusahaan dalam local empowerment. Di bawah naungan Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, perusahaan tidak hanya memberikan bantuan, tetapi melakukan transformasi mental dan keterampilan.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional. Sudah menjadi tanggung jawab kami untuk meningkatkan daya saing mereka. Seperti Sambal Ikan Asap itu, kami bantu dari sisi produksi, pengemasan, hingga pemasaran agar mereka bisa mandiri,” jelas Endra.
Endra Kusuma menyatakan bahwa keikutsertaan dalam ajang Sulteng Nambaso 2026 adalah bagian dari tanggung jawab moral perusahaan.
“Kami menghadirkan produk UMKM binaan, khususnya dari Morowali, sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat ekonomi masyarakat. UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional, sehingga sudah menjadi tanggung jawab kami untuk ikut meningkatkan daya saing mereka,” jelas Endra, Rabu (15/4/2026).
Warisan untuk Masa Depan
Kisah di JCC Palu empat hari bukan hanya tentang transaksi produk, melainkan tentang pertemuan harapan. Di satu sisi, ada korporasi yang berusaha menjalankan tata kelola yang baik dan berkontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Disisi lain, ada warga seperti petani di Desa Kolono dan pengolah ikan di Laroue yang sedang menjemput kemandirian.
Produk Moroa Rice yang kini telah mengantongi sertifikasi organik adalah bukti nyata. Dengan luasan lahan 11,03 hektar yang dikelola 44 petani binaan, PT Vale telah membantu memproduksi lebih dari 8,5 ton beras sehat hingga pertengahan 2024. Ini adalah langkah nyata menuju kedaulatan pangan yang ramah lingkungan.
Bagi pengunjung seperti Aulia, pameran ini telah mengubah persepsinya. Tambang bukan lagi sekadar lubang di tanah, melainkan katalisator yang menghidupkan dapur-dapur warga.
Semangat Sulteng Nambaso, Sulteng yang Hebat terasa nyata saat sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat bertemu dalam satu meja pameran.
Apa yang dilihat Aulia di Palu adalah buah dari strategi local empowerment yang konsisten di 13 desa pemberdayaan melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali. PT Vale tidak menggunakan pendekatan “pukul rata”, melainkan tumbuh bersama potensi unik masing-masing wilayah.
Mari menengok Desa Laroue. Di desa pesisir ini, kelimpahan kelapa dan hasil laut selama ini hanya dijual mentah dengan nilai tambah yang rendah. Melalui pendampingan intensif dari tim Community Development PT Vale, warga dilatih mengubah pola pikir. Mereka belajar mengolah air kelapa menjadi nata de coco yang kenyal dan menyulap ikan tangkapan menjadi Sambal Ikan Asap ‘Lumako’.
Prestasi Sambal Lumako bukan sekadar bumbu dapur biasa. Produk ini sukses menyabet gelar Juara Favorit dalam Festival Sambal Nusantara yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri tahun 2024. Sebuah pencapaian besar bagi produk UMKM lokal yang dikelola oleh komunitas desa, membuktikan bahwa sentuhan manajerial yang tepat dapat membawa produk tradisional ke panggung nasional.
Bergeser ke Desa Ululere, potensi buah pala yang selama ini hanya diambil bijinya untuk rempah, kini dimanfaatkan secara holistik. Daging buah pala yang biasanya dibuang, kini disulap menjadi selai pala bernilai jual tinggi. Selain itu, pelatihan pengembangan tanaman herbal juga digelar, membuka jalan bagi lahirnya produk kesehatan berbasis alam khas Morowali.
“Kami membantu dari sisi produksi, pengemasan, hingga pemasaran. Harapannya, UMKM ini bisa mandiri,” ujar Endra Kusuma, Head of External Regional & Growth PT Vale.
Salah satu pilar kemandirian yang paling kokoh tercermin dalam keberhasilan program pertanian organik melalui metode System of Rice Intensification (SRI). Program ini bukan sekadar tentang cara menanam padi, melainkan tentang memulihkan ekosistem tanah yang selama puluhan tahun terkontaminasi bahan kimia sintetis.
Hingga Juni 2024, program ini telah mencatatkan capaian yang sungguh konkret dengan merangkul 44 petani dari enam desa binaan, mulai dari Desa Kolono, Ululere, Bahomoahi, Bahomotefe, Onepute Jaya, hingga Desa Le-le. Sinergi ini berhasil mengolah lahan seluas 11,03 hektar yang memproduksi sebanyak 8.500 kilogram beras sehat.
Bahkan, kualitasnya kini tak perlu diragukan lagi karena seluas 6,8 hektar lahan diantaranya telah mengantongi sertifikat resmi dari INOFICE sebuah pengakuan formal bahwa produk lokal Morowali kini telah sejajar dengan standar kualitas nasional.
Surya Darma, Ketua Kelompok Tani Bangka Mofu’u, mengenang masa-masa sulit saat petani ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya kian mencekik.
“Awalnya kami ragu. Tapi sekarang, dengan bimbingan PT Vale, kami membuktikan bahwa beras organik Morowali mampu bersaing. Kami percaya bahwa beras organik adalah masa depan pertanian yang ramah lingkungan,” tuturnya dengan bangga.
Data menunjukkan bahwa produk beras organik lokal mengalami peningkatan permintaan sebesar 25% dalam satu tahun terakhir. Ini membuktikan adanya pergeseran gaya hidup konsumen yang lebih memilih produk sehat, dan petani binaan PT Vale berada di garis depan untuk menangkap peluang tersebut.
Pameran di JCC Palu mungkin berakhir setelah empat hari, namun semangat yang terpancar dari stan PT Vale tidak surut. Keberhasilan meraih dua penghargaan dalam ajang Indonesia Corporate Sustainability Award (ICSA) 2024 kategori Best Practice in Community atas budidaya pertanian organik dan Innovative Human Capital Management, menjadi bukti sahih bahwa apa yang dilakukan di Morowali adalah sebuah praktik terbaik yang diakui secara nasional.
Bagi pengunjung seperti Aulia, pameran ini telah memberikan lebih dari sekadar informasi, ini memberikan inspirasi. Bahwa di tengah deru mesin tambang, ada kelembutan tangan-tangan ibu di Desa Laroue yang mengolah sambal, ada ketekunan petani di Desa Kolono yang menjaga kemurnian tanah, dan ada komitmen sebuah korporasi untuk tidak sekadar mengambil hasil bumi, tapi juga menanam harapan.
Langkah PT Vale melalui IGP Morowali membuktikan bahwa industri pertambangan bisa menjadi motor penggerak kesejahteraan tanpa harus menanggalkan kelestarian. Seperti aroma ikan asap yang tetap melegenda meski kemasannya belum dibuka, begitulah janji kemandirian dari Morowali nyata, mengakar, dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat inilah yang menjadi fondasi kuat bagi Sulawesi Tengah untuk terus maju, sejalan dengan semangat “Sulteng Nambaso”.***






