Oleh : Moh Rifki
SULAWESI TENGAH, MERCUSUAR – Sebuah truk bermuatan penuh durian montong melaju tenang, membelah kabut pagi yang masih menggelayuti perbukitan Desa Sausu Trans. Roda-rodanya tak lagi selip. Tidak ada lagi deru mesin yang dipaksa meraung hingga berasap, atau keputusasaan petani yang menatap buah-buah ranumnya membusuk di tepi jalan akibat terjebak lumpur hisap.
Jalan sepanjang 5 kilometer yang membelah perkebunan itu kini telah bersolek. Kerikil-kerikil yang tertata rapi menjadi saksi bisu bagaimana sebuah takdir sunyi di Parigi Moutong kabupaten yang dibelah langsung oleh garis imajiner khatulistiwa kini ditulis ulang.
Tiga puluh hari yang lalu, jalur ini adalah garis pembatas antara harapan dan keterisolasian. Namun, sebuah operasi bakti bertajuk Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 1306/Kota Palu datang memecah keheningan bumi lintang nol derajat ini, mengubah keluh kesah menjadi simfoni gotong royong yang bertenaga.

- Ketika Lumpur Menyerah Pada Peluh
Semuanya bermula pada Rabu, 22 April 2026. Di atas bentangan tanah subur yang berjarak 52 kilometer dari ibu kota kabupaten tersebut, sebuah lanskap sosial yang luar biasa merekah. Sebagai wilayah yang berada tepat di perlintasan jalur khatulistiwa, terik matahari di Parigi Moutong terkenal menyengat, namun di balik itu ada berkah kesuburan tanah yang luar biasa. Di sinilah, sinergi lintas sektoral melebur tanpa sekat seragam loreng TNI, seragam cokelat Polri, komponen pemerintah daerah, hingga pakaian harian para petani menyatu dalam satu ritme kerja menantang cuaca tropis yang ekstrem.
Di bawah payung Korem 132/Tadulako dan Kodam XXIII/Palaka Wira, operasi bakti ini dirancang untuk mengubah wajah desa dalam waktu tiga puluh hari. Dansatgas TMMD, Kolonel Inf Yudhi Hendro Prasetyo, sejak awal menegaskan bahwa penentuan lokasi ini tidak lahir dari meja birokrasi yang dingin, melainkan dari denyut nadi musyawarah terbawah (bottom-up).
“Penentuan lokasi TMMD dilakukan melalui musyawarah bersama pemerintah daerah dengan prioritas wilayah yang masih tergolong pra-sejahtera. TMMD bukan sekadar membangun sarana fisik, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong dan ketahanan sosial masyarakat,” urai Kolonel Inf Yudhi optimis.
- Oase Air Jernih dan Atap yang Menatap Langit
Jika jalan adalah urat nadi ekonomi, maka program TNI AD Manunggal Air Bersih yang diusung sebagai program unggulan Kasad adalah napas kehidupannya. Di 5 titik pemukiman, teknologi sumur bor memancarkan air jernih yang memotong jarak dan menghilangkan dahaga menahun warga saat musim kemarau khatulistiwa tiba.
“Pembangunan sumur bor ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan air bersih warga, khususnya di Desa Sausu Trans, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong,” ungkap Sadewo, salah seorang warga lokal dengan mata berkaca-kaca.

- Salah satu RTLH yang menjadi sasaran kegiatan TMMD
Kebaikan itu menjalar hingga ke rumah Maryoto (50). Petani sekaligus pekebun bersahaja itu kini tidak perlu lagi khawatir saat angin malam berembus kencang. Rumah bambunya yang reyot telah berganti menjadi salah satu dari 5 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang direnovasi menjadi hunian semi-permanen sehat berukuran 6×6 meter.
Ditambah dengan pembangunan 5 unit MCK Umum, pembukaan 1 hektare lahan ketahanan pangan cepat panen, pembagian 100 paket stunting, serta layanan medis dasar gratis untuk 100 warga, desa ini perlahan menjelma menjadi wilayah yang mandiri dan berdaya secara fisik.

- Menyemai Benih Jiwa, Merajut Ketahanan Bangsa
Namun, Satgas TMMD ke-128 menyadari sepenuhnya bahwa mendirikan bangunan kokoh akan sia-sia jika jiwa manusianya rapuh. Bersamaan dengan hantaman palu di lokasi fisik, balai desa dan rumah ibadah Sausu Trans disulap menjadi ruang-ruang kelas peradaban. Sebanyak tujuh program penyuluhan strategis digelar secara maraton, laksana menyemai benih pemikiran baru di tanah khatulistiwa.
Mengingat letak geografis Sausu yang berdiri di atas daerah rawan pergeseran lempeng bumi dan ketidakpastian iklim tropis, Penyuluhan Mitigasi Bencana dihadirkan. Warga diajarkan membaca sandi-sandi alam dan cara evakuasi mandiri. Sementara di sudut ruang lain, kesehatan masa depan desa dijaga ketat melalui Penyuluhan Stunting dan KB Kesehatan, membekali para ibu tentang pentingnya nutrisi emas sejak janin bernyawa.
Sebagai mozaik transmigrasi yang mempertemukan berbagai suku di tengah pulau Sulawesi, potensi gesekan sosial diredam lewat Penyuluhan Bela Negara serta Pelayanan Wawasan Kebangsaan (Wasbang). Generasi muda diingatkan kembali bahwa keberagaman di Sausu Trans adalah kekayaan, bukan pemisah. Jiwa tertib hukum pun dipertebal melalui Penyuluhan Hukum & Kamtibmas demi kedamaian lingkungan.

Terakhir, sektor pertanian yang menjadi urat nadi diperkuat via Penyuluhan Ketahanan Pangan (Hanpangan), tempat para ahli kedinasan dan TNI mentransfer teknologi tani modern untuk durian dan nilam. Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, melihat keterpaduan materiil dan spiritual ini sebagai sebuah mahakarya pembangunan yang paripurna.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran TNI dalam mendukung percepatan pembangunan di wilayah pedesaan. Sinergi materiil dan non-materiil inilah yang sesungguhnya menyelamatkan masa depan generasi kita di daerah keterbatasan akses,” tutur Bupati Erwin penuh syukur.
- Ikhtiar Mengawal Kualitas dan Akuntabilitas
Keberhasilan sebuah mahakarya tidak hanya diukur dari megahnya bangunan atau riuhnya penyuluhan, melainkan dari bagaimana setiap prosesnya dipertanggungjawabkan secara jujur kepada rakyat. Guna memastikan seluruh pengerjaan fisik maupun non-fisik berjalan sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan, Tim Pengawasan dan Pemeriksaan (Wasrik) turun langsung menembus pedalaman Sausu Trans.
Ketua Tim Wasrik, Kolonel Inf Heri BW, melakukan peninjauan mendalam ke setiap titik pengerjaan, mulai dari pengerasan jalan, bangunan RTLH, hingga fasilitas sumur bor. Kehadiran tim ini menjadi jaminan bahwa setiap rupiah anggaran dari Pemda Parimo dikonversi menjadi kualitas bangunan terbaik.
“Program TMMD ini bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga bentuk kemanunggalan TNI dengan rakyat. Karena itu, kami ingin memastikan semuanya berjalan maksimal dan tepat sasaran,” tegas Kolonel Inf Heri BW di hadapan awak media dan Satgas.

Prinsip transparansi ini berjalan lurus dengan visi Komandan Korem 132/Tadulako, Brigjen TNI Suntara Wisnu Budi H. Baginya, TMMD adalah wadah pengabdian yang mempertemukan doktrin militer dengan kearifan lokal demi kepentingan pertahanan negara yang bertumpu pada kesejahteraan rakyat. Sekat antara aparat dan sipil benar-benar runtuh seiring momen kebersamaan harian warga dan prajurit di lapangan.
- Parade Kemanunggalan di Bawah Langit Khatulistiwa
Waktu tiga puluh hari akhirnya mengalir ke muara akhir. Lapangan Desa Sausu Trans yang biasanya sunyi, mendadak bergemuruh oleh riuh rendah ribuan warga yang tumpah ruah. Hari itu menjadi puncak dari seluruh peluh yang telah tertumpah.
Langkah tegap penuh wibawa Pangdam XXIII/Palaka Wira, Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar, memasuki mimbar upacara penutupan. Di sisinya, berdiri Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, yang hadir langsung dengan binar syukur yang tak bisa disembunyikan. Kehadiran kedua pimpinan tertinggi ini menjadi simbol paripurnanya kolaborasi antara komando kewilayahan dan pemerintah daerah di tanah khatulistiwa.
Suasana haru menyeruak saat lembar naskah penyerahan hasil proyek TMMD ditandatangan bersama oleh jajaran Forkopimda. Di hadapan pasukan yang berbaris rapi, Pangdam XXIII/PW menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan penuh dari pemerintah kabupaten.

“Terima kasih dan penghargaan kepada Bupati serta Pemerintah Kabupaten Parimo yang telah mengalokasikan anggaran untuk program TMMD ini,” ujar Pangdam. “Proyek fisik ini bisa saja selesai dalam tiga puluh hari, tetapi kemanunggalan TNI dan Rakyat yang telah terajut di Sausu Trans harus abadi melintasi generasi. Jaga jalan ini, rawat air bersih ini, karena di setiap jengkalnya ada keringat persaudaraan kita,” tegas Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar.
- Air Mata di Batas Senja
Saat peluit panjang tanda berakhirnya operasi bakti ditiupkan, truk-truk militer mulai menghidupkan mesin. Di sinilah momen paling menguras air mata terjadi. Tidak ada lagi jarak antara aparat dan sipil. Ibu-ibu desa memeluk erat para prajurit yang selama sebulan penuh sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Di bawah pohon-pohon durian tempat mereka biasa makan siang bersama, kata selamat tinggal diucapkan dengan berat.
Ketika senja perlahan meredup di ufuk barat Parigi Moutong, memantulkan cahaya keemasan di atas jernihnya air bor buatan tentara dan kokohnya jalan baru desa, Sausu Trans tidak lagi sama.

Mereka ditinggalkan bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan sebuah prasasti hidup sebuah desa yang kini siap melangkah tegak, berdaya secara fisik, dan merdeka secara pemikiran di bawah kepak sayap kemandirian. Selamat jalan para pejuang kemanunggalan, benih yang kau tanam di lintasan khatulistiwa ini kini telah menjadi pohon harapan yang rindang bagi seluruh rakyat.***






