Menjadi ‘Maulid’ yang Sebenarnya dari Kota Palu

Ibnu Mundzir

Oleh Ibnu Mundzir

Setiap memperingati Maulid Nabi SAW, kita disadarkan bahwa, kelahiran Beliau bukan hanya peringatan kemeriahan semata, tapi juga amanat untuk meneladani akhlak mulia beliau. Nabi Muhammad adalah seseorang yang tidak pernah berkata, kecuali sudah terpraktikkan dalam kehidupan kesehariannya. Sehingga, agama dan risalah yang dibawakannya benar-benar organik dan inklusif serta terasa mudah untuk terejawantahkan.

Setiap Maulid Nabi Muhammad SAW, Kita diingatkan kembali, bahwa bukan sekadar hanya mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi momentum untuk mematrikan kembali semangat untuk meneladani akhlak, kesabaran, kasih sayang, dan kepemimpinan beliau dalam kehidupan kita.

Di tengah berbagai persoalan dan musibah yang dihadapi negeri ini, kita bisa belajar dari Rasulullah SAW bahwa kesabaran bukan berarti fatalisme pasif menyerah. Sabar adalah resultante dari kemampuan untuk tetap teguh, tidak mudah terprovokasi, tidak kehilangan harapan, dan akal sehat, serta terus berikhtiar memperbaiki keadaan, sekecil apapun kontribusi yang bisa kita berikan.

Beragam musibah yang menimpa negeri ini, mulai dari gempa bumi di NTT, kebakaran hutan di Kalimantan, banjir di Sumatra, kesemua hal tersebut, hendaknya tidak membuat kita saling menyalahkan dan mencari kambing hitam.

Justru pada saat-saat sulit seperti ini, kita membutuhkan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa yang semakin kuat. Perbedaan pilihan, latar belakang, suku, agama, maupun pandangan politik tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh dan mempertajam perpecahan.

Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa masyarakat yang kuat dibangun di atas kasih sayang, keadilan, penghormatan terhadap sesama, dan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan, khususnya kepada kaum marginal atau mustad’afin.

Semangat itulah yang perlu kita bawa dalam membangun Kota yang kita cintai ini.

Kota Palu adalah rumah kita bersama, kebanggan provinsi ini, karenanya, pembangunan Kota Palu sebagai ibu kota, tidak boleh hanya sekedar menjadi catatan kaki belaka, khususnya tentang prioritas, kebanggaan sejarah dan etalase terbaik provinsi ini. Pembangunannya bukan hanya berupa jalan, gedung, investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang sumber daya manusianya serta keberlanjutan lingkungannya.

Tentang penghargaan pada setiap warganya, dilibatkan, dilindungi dan memiliki kesempatan yang lebih untuk berkembang, layaknya ibu kota dengan standarisasi kota kota terbaik, dinegeri ini.

Kota Palu yang kita cita-citakan adalah kota yang inklusif, maju dan berkeadaban—kota yang tidak akan pernah meninggalkan kaum mustad’afin, kelompok yang lemah, memberikan ruang bagi anak muda untuk berkarya, memberikan kesempatan kepada perempuan, dan anak anak serta lansia, memperhatikan penyandang disabilitas, menghormati keberagaman, serta memastikan masyarakat di setiap wilayah memperoleh manfaat pembangunan secara adil dan berkeadaban

Harusnya, membangun Palu itu dengan kesadaran bahwa lingkungan adalah bagian dari amanah. Menjaga kebersihan, memperbanyak ruang terbuka hijau, mengurangi sampah, menjaga air, tanah dan udara, serta merawat alam bukan hanya urusan pemerintah kota. Itu adalah bagian dari tanggung jawab moral kita sebagai manusia yang berkehidupan di daerah ini

Spirit Maulid Nabi SAW, mengajarkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan akhlak dan kepedulian. Pemerintah membutuhkan masyarakat, masyarakat membutuhkan pemerintah, dan keduanya membutuhkan dunia usaha, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda serta seluruh elemen kota untuk bergerak bersama dalam artian yang sebenarnya.

Maulid SAW, mengajarkan upaya berketerusan untuk terus memperkuat ukhuwah, toleransi, gotong royong dan kepedulian sosial. Serta spirit untuk terus belajar…, bahwa Jika ada musibah, kita bersabar. Jika ada perbedaan, kita saling menghormati. Jika ada persoalan, kita mencari jalan keluar bersama. Jika ada kekurangan dalam pembangunan, kita perbaiki bersama. Dan jika ada kesempatan untuk berbuat baik, jangan kita tunda.

Semoga melalui keteladanan Rasulullah SAW, kita bisa menghadirkan Kota Palu yang tidak hanya semakin maju secara fisik, tetapi juga semakin matang secara sosial; kota yang kuat menghadapi segala cobaan, damai dalam perbedaan, peduli terhadap lingkungan, dan inklusif bagi seluruh warganya.

Karena membangun Palu bukan hanya membangun raga kotanya semata, tetapi membangun jiwa kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Semoga kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada ucapan, tetapi hadir dalam akhlak, pelayanan, kepedulian dan tindakan nyata kita sehari-hari. Wallahu alam bishawab. ***

Penulis adalah ASN, Sekretaris DLH Kota Palu

Pos terkait