Oleh: Syukur Umar*
Bayangkan jika kita harus mengetahui apa yang tersimpan di dalam kawasan hutan seluas puluhan bahkan ratusan ribu hektare. Di mana tegakannya rapat, di mana biomassa paling tinggi, kawasan mana yang potensial untuk pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK), dan bagian mana yang memiliki nilai penting untuk jasa lingkungan. Jika semua pertanyaan itu harus dijawab dengan cara masuk hutan dari satu lokasi ke lokasi lain, berapa lama waktu dan biaya yang harus dikeluarkan?
Dulu, hampir tidak ada pilihan lain. Hutan harus didatangi, diukur, dicatat, kemudian hasilnya dibawa pulang untuk dianalisis. Cara ini tetap penting sampai sekarang. Namun, perkembangan teknologi telah membuka cara baru untuk “melihat” hutan dari angkasa.
Persoalan dan peluang inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam Workshop “Inovasi dan Diversifikasi Usaha Kehutanan untuk Meningkatkan Daya Saing PBPH” yang diselenggarakan oleh BPHL XIV Palu di Hotel Best Western Palu, 19–20 Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, penulis berkesempatan menjadi salah satu narasumber dan menyampaikan bagaimana teknologi penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan hutan di era Multiusaha Kehutanan.
Di hadapan para peserta workshop, dibahas bagaimana Sentinel-2 dan GEDI dapat menjadi bagian dari pendekatan baru dalam mengenali potensi kawasan hutan secara lebih cepat dan berbasis data. Sentinel-2 dapat dibayangkan seperti kamera raksasa yang berada di angkasa. Satelit ini secara berkala merekam permukaan bumi melalui berbagai spektrum cahaya. Dari rekaman tersebut kita dapat melihat pola tutupan lahan, tingkat kehijauan vegetasi, kondisi tanaman, hingga perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Dengan Sentinel-2, kita dapat melihat hutan dalam perspektif dua dimensi. Kita dapat mengetahui di mana hutan berada, bagaimana penyebarannya, dan bagaimana kondisi vegetasinya dalam bentang kawasan yang sangat luas. Tetapi ada satu persoalan. Foto dari atas tidak selalu mampu menjawab pertanyaan: seberapa tinggi tegakan hutan tersebut dan bagaimana susunan vegetasinya secara vertikal? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita membutuhkan “mata” yang berbeda.
Ketika laser membaca struktur hutan
Di sinilah GEDI berperan. GEDI (Global Ecosystem Dynamics Investigation) bukan satelit, melainkan instrumen LiDAR yang ditempatkan pada International Space Station (ISS). Instrumen ini menggunakan pulsa laser untuk membaca struktur vertikal vegetasi.
Bayangkan kita menyorotkan laser dari atas ke sebuah hutan. Sebagian pulsa akan mengenai bagian atas tajuk, sebagian mengenai lapisan vegetasi di bawahnya, dan sebagian lagi mencapai permukaan tanah. Pantulan pulsa tersebut kemudian direkam dan diolah menjadi gambaran mengenai struktur vertikal hutan.
Dari sini kita dapat memperoleh informasi mengenai tinggi tajuk dan distribusi ketinggian vegetasi. Parameter seperti RH25, RH50, RH75, dan RH95, misalnya, membantu menggambarkan bagaimana struktur vegetasi tersusun dari bagian bawah hingga bagian atas tajuk. Kalau Sentinel-2 membantu kita melihat hutan dari atas, GEDI membantu kita membaca struktur hutan secara vertikal. Keduanya ibarat dua mata yang melihat objek yang sama dari sudut yang berbeda.
Dari dua dimensi menjadi pemahaman tiga dimensi
Kekuatan sebenarnya muncul ketika kedua teknologi tersebut digabungkan. Sentinel-2 memiliki keunggulan berupa cakupan kawasan yang luas dan informasi spektral yang kaya. GEDI memiliki keunggulan dalam memberikan informasi struktur vertikal hutan. Data GEDI dapat digunakan sebagai referensi untuk membangun hubungan antara karakteristik spektral Sentinel-2 dengan struktur tegakan yang diukur oleh LiDAR.
Hasilnya dapat digunakan untuk membuat model dan menghasilkan informasi struktur hutan pada wilayah yang lebih luas. Dengan kata sederhana, GEDI membantu kita mengetahui “seperti apa struktur hutan” pada titik-titik pengukuran, sementara Sentinel-2 membantu memperluas pengetahuan tersebut ke seluruh bentang kawasan. Di sinilah teknologi tersebut menjadi sangat menarik bagi pengelolaan hutan.
Apa manfaatnya bagi PBPH?
Bagi pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), informasi semacam ini bukan sekadar peta yang indah. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk mengambil keputusan. Misalnya, kawasan dengan struktur tegakan dan biomassa tinggi dapat menjadi informasi penting untuk perencanaan pengelolaan karbon. Kawasan dengan karakteristik vegetasi tertentu dapat menjadi indikasi awal potensi HHBK. Kawasan yang memiliki fungsi ekologis penting dapat dipertimbangkan dalam pengembangan jasa lingkungan. Dengan demikian, teknologi ini membantu mengubah cara pandang terhadap kawasan hutan.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar: “Berapa luas hutan yang kita kelola?” Tetapi menjadi: “Apa yang terdapat di dalam hutan tersebut, di mana lokasinya, bagaimana kondisinya, dan nilai apa yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan?” Pertanyaan terakhir inilah yang sangat relevan dengan Multiusaha Kehutanan.
Dari hutan menjadi portofolio usaha
Paradigma Multiusaha Kehutanan mendorong kita melihat hutan secara lebih utuh. Hutan tidak hanya menghasilkan kayu. Di dalamnya terdapat HHBK, karbon, air, keindahan alam, keanekaragaman hayati, wisata, dan berbagai jasa ekosistem lainnya. Masalahnya, potensi tersebut tidak selalu terlihat secara kasat mata.
Teknologi penginderaan jauh membantu membuat potensi tersebut lebih “terlihat”. Data dapat diolah menjadi informasi spasial. Informasi kemudian dapat digunakan untuk melakukan zonasi potensi. Dari zonasi tersebut, PBPH dapat menentukan pilihan usaha yang sesuai dengan karakteristik kawasan. Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan:
Data → Informasi → Zonasi Potensi → Pilihan Usaha → Diversifikasi → Nilai Tambah.
Dalam konteks workshop yang diselenggarakan BPHL XIV Palu tersebut, pendekatan ini menjadi penting karena peningkatan daya saing PBPH tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan produksi. Daya saing juga ditentukan oleh kemampuan mengenali potensi, melakukan inovasi, melakukan diversifikasi, dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya hutan.
Bukan menggantikan manusia
Namun, ada satu hal yang perlu ditegaskan. Teknologi satelit dan LiDAR tidak berarti manusia tidak lagi diperlukan. Inventarisasi lapangan tetap penting. Pengukuran lapangan tetap dibutuhkan untuk verifikasi dan meningkatkan keandalan informasi. Justru, teknologi penginderaan jauh dapat membuat pekerjaan lapangan menjadi lebih efisien.
Jika sebelumnya petugas harus mendatangi kawasan secara relatif luas untuk mencari tahu kondisi hutan, kini citra satelit dan data LiDAR dapat membantu menentukan lokasi mana yang perlu didatangi terlebih dahulu. Dengan kata lain, teknologi tidak menggantikan orang yang bekerja di lapangan. Teknologi membantu mereka bekerja lebih cerdas.
Menuju PBPH berbasis kecerdasan data
Pada akhirnya, persoalan terbesar dalam pengelolaan hutan bukan lagi semata-mata bagaimana memperoleh data. Kita sudah memasuki era ketika data tersedia dalam jumlah yang sangat besar.
Tantangannya adalah bagaimana mengubah data menjadi informasi, informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi keputusan.
Sentinel-2 dan GEDI merupakan salah satu contoh bagaimana perkembangan teknologi dapat membantu proses tersebut. Hutan yang dahulu harus dijelajahi dari dalam untuk dipahami, kini sebagian rahasianya dapat dibaca dari angkasa. Bukan berarti kita tidak perlu lagi masuk hutan. Sebaliknya, kita masuk hutan dengan pertanyaan yang lebih tepat, lokasi yang lebih tepat, dan tujuan yang lebih jelas.
Pembahasan tersebut menjadi salah satu pesan penting yang penulis sampaikan dalam workshop BPHL XIV Palu pada 19–20 Agustus lalu: daya saing PBPH di era Multiusaha Kehutanan sangat ditentukan oleh kemampuan menggabungkan pengetahuan kehutanan, teknologi, inovasi, dan keberanian untuk melihat potensi hutan secara berbeda. Sebab, masa depan pengelolaan hutan bukan hanya tentang seberapa luas hutan yang kita kelola, tetapi juga tentang seberapa baik kita memahami hutan yang kita kelola dan seberapa cerdas kita mengubah pemahaman tersebut menjadi nilai tambah yang berkelanjutan.
*Penulis merupakan akademisi/professor ekonomi kehutanan dan lingkungan pada Fakultas kehutanan Universitas Tadulako.







