MERCUSUAR – Di tengah laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang konsisten berada di atas rata-rata nasional, pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 menjadi momentum penting untuk membaca arah perkembangan dunia usaha secara lebih komprehensif. Sensus yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap sepuluh tahun ini bukan sekadar pendataan, melainkan instrumen strategis yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi, investasi, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sulawesi Tengah dalam beberapa tahun terakhir menjelma sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Ditopang industri pengolahan berbasis nikel, pertambangan, konstruksi, perdagangan, pertanian, hingga sektor jasa yang terus berkembang, provinsi ini mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 8,32 persen (year-on-year) pada Triwulan I-2026. Angka tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi yang tetap ekspansif meski dihadapkan pada dinamika ekonomi global.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu menggambarkan kondisi seluruh pelaku usaha. Di balik besarnya kontribusi industri hilirisasi mineral, terdapat jutaan aktivitas ekonomi yang dijalankan UMKM, pedagang, pelaku ekonomi kreatif, perusahaan jasa, koperasi, hingga usaha rumah tangga yang juga berperan menggerakkan roda perekonomian daerah. Karena itu, Sensus Ekonomi 2026 hadir untuk memotret keseluruhan struktur usaha tersebut secara menyeluruh.Melalui pendataan ini, BPS akan mengidentifikasi jumlah unit usaha, skala usaha, bidang kegiatan ekonomi, persebaran geografis, hingga karakteristik pelaku usaha di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah. Informasi tersebut akan menjadi fondasi dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Bagi Sulawesi Tengah, data hasil sensus akan memberikan gambaran apakah pertumbuhan ekonomi yang selama ini didorong sektor industri besar juga diikuti peningkatan kapasitas usaha kecil dan menengah. Pemerintah dapat mengetahui sektor mana yang berkembang pesat, wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan baru, hingga daerah yang masih membutuhkan dukungan investasi, infrastruktur, maupun akses pembiayaan.
Hasil sensus juga penting bagi dunia perbankan dan lembaga keuangan. Dengan mengetahui persebaran pelaku usaha beserta karakteristiknya, perbankan dapat menyusun strategi penyaluran kredit yang lebih efektif. Produk pembiayaan untuk UMKM, kredit investasi, maupun layanan digital dapat dikembangkan sesuai kebutuhan riil pelaku usaha di lapangan.
Tidak kalah penting, investor memperoleh referensi yang lebih akurat dalam menentukan lokasi dan sektor investasi potensial. Data resmi yang dihasilkan BPS menjadi rujukan terpercaya dalam melihat potensi pasar, tenaga kerja, hingga rantai pasok yang tersedia di suatu daerah.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid saat kegiatan apel akbar Sensus Ekonomi 2026, di lapangan Vatulemo, Kota Palu, Minggu (21/6/2026), menegaskan kegiatan Sensus Ekonomi menjadi dasar Pemerintah dalam mengambil kebijakan dalam menentukkan arah pembangunan ke depan. Dasar kebijakan yang disusun harus berdasarkan data yang konkret sehingga bisa dipertanggungjawabkan dalam kebijakan yang diambil tidak salah sasaran.
“Data ini bukan hanya kebutuhan BPS, tetapi kebutuhan kita semua, khususnya pemerintah daerah. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat merancang program pembangunan yang benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat dan kebutuhan daerah.
Ia menekankan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap pendataan ekonomi berkaitan dengan perpajakan. Padahal, menurutnya, sensus ekonomi bertujuan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi ekonomi masyarakat dan dunia usaha.
Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 juga mendapat dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan di Sulawesi Tengah. BPS telah melakukan sosialisasi kepada pelaku usaha, pemerintah daerah, hingga kawasan ekonomi strategis seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu agar proses pendataan berjalan optimal dan menghasilkan data berkualitas.
Lebih dari sekadar kegiatan statistik, Sensus Ekonomi merupakan cermin perjalanan ekonomi daerah. Data yang dihasilkan tidak hanya menggambarkan kondisi saat ini, tetapi juga menjadi kompas dalam merancang arah pembangunan ekonomi Sulawesi Tengah untuk satu dekade ke depan.
Dengan basis data yang semakin akurat, pembangunan diharapkan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada pemerataan manfaat ekonomi. Ketika seluruh pelaku usaha—mulai dari usaha mikro hingga perusahaan besar—terdata dengan baik, maka kebijakan yang lahir pun akan semakin tepat sasaran. Pada akhirnya, Sensus Ekonomi 2026 menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa geliat ekonomi Sulawesi Tengah benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. HAI







