JAKARTA, MERCUSUAR – PT Indosat Tbk membukukan pendapatan sebesar Rp45,8 triliun sepanjang Januari-September 2026. Angka tersebut tumbuh 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).
Di periode yang sama, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp4,9 triliun atau meningkat 37,2 persen secara tahunan. Sementara itu, EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) tercatat sebesar Rp21,1 triliun.
Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan bisnis inti telekomunikasi serta pengembangan layanan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, mengatakan bisnis telekomunikasi tetap menjadi fondasi utama perusahaan dalam mengembangkan sumber pertumbuhan baru, termasuk layanan AI.
Menurut dia, investasi pada jaringan dan spektrum serta peningkatan pengalaman pelanggan menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat bisnis sekaligus mendukung pengembangan teknologi AI.
“Bisnis inti telekomunikasi yang kuat merupakan fondasi utama transformasi kami. Fokus kami tetap pada peningkatan pengalaman pelanggan, penguatan monetisasi, serta mengoptimalkan investasi pada jaringan dan spektrum,” kata Vikram dalam keterangan perusahaan.
Dia mengatakan investasi Indosat di bidang AI mulai memberikan kontribusi terhadap bisnis perusahaan. Indosat juga mengembangkan infrastruktur dan solusi AI untuk memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia maupun global.
Dari bisnis seluler, rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) gabungan meningkat 16,5 persen secara tahunan menjadi Rp46.000. Pertumbuhan ini sejalan dengan kenaikan trafik data sebesar 16 persen menjadi 14.829 petabyte.
Indosat mengaitkan pertumbuhan tersebut dengan pemanfaatan teknologi AI untuk memahami perilaku pelanggan dan menghadirkan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna. Perusahaan juga melanjutkan investasi pada kualitas jaringan, pemanfaatan spektrum, serta pengembangan teknologi 5G.
Kembangkan Bisnis Infrastruktur AI
Selain memperkuat bisnis telekomunikasi, Indosat mulai mengembangkan AI sebagai salah satu sumber pendapatan baru.
Pendapatan dari solusi Indosat AI Cloud mencapai 50 juta dolar AS selama sembilan bulan pertama 2026. Capaian tersebut melampaui pendapatan sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 28 juta dolar AS.
Perusahaan memperkirakan pendapatan dari lini bisnis tersebut dapat mencapai 100 juta dolar AS hingga akhir 2026. Proyeksi ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap komputasi AI dan layanan cloud.
Untuk mendukung pengembangan bisnis tersebut, Indosat membangun ekosistem AI terintegrasi yang mencakup konektivitas, jaringan fiber optik, pusat data, kapasitas komputasi, model AI, hingga aplikasi untuk kebutuhan perusahaan.
Salah satu infrastrukturnya adalah RAIA Grid yang memiliki jaringan fiber optik sepanjang 86.000 kilometer. Infrastruktur ini dikembangkan untuk menghubungkan sumber daya komputasi dengan berbagai kebutuhan penerapan teknologi AI.
Indosat juga mengembangkan Zankore, infrastruktur AI generasi berikutnya, dengan ambisi jangka panjang mencapai kapasitas AI hingga 1 gigawatt (GW).
Untuk memperluas pemanfaatan teknologi tersebut di kalangan pelaku usaha, Indosat menghadirkan Indosat Intelligence Suite melalui kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi F5.
Layanan ini memberikan akses kepada pelanggan korporasi terhadap model dan infrastruktur AI melalui satu sistem terintegrasi. Solusi tersebut dirancang untuk membantu perusahaan mengelola penggunaan AI, mengendalikan biaya, serta memperluas penerapannya sesuai kebutuhan bisnis.
Melalui pengembangan infrastruktur dan layanan tersebut, Indosat berupaya memperluas kontribusi bisnis AI di samping layanan telekomunikasi. Perusahaan juga menargetkan pengembangan ekosistem teknologi yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha di Indonesia.TIN






