BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem Perparah Dampak Gempa di Pasigala

Dialog Jurnalis dengan tema "Menguatkan Narasi Media tentang Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim di Lanskap Palu–Sigi–Donggala” yang digelar oleh Pokja Advokasi dan Kampanye Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Lanskap, Sabtu (13/6/2026). FOTO: KARTINI NAINGGOLAN/MS

TALISE, MERCUSUAR – Krisis iklim diperkirakan akan memperbesar risiko bencana di wilayah Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala) yang selama ini rawan gempa akibat keberadaan Sesar Palu-Koro. Karena itu, upaya mitigasi perlu bergeser dari sekadar pembangunan infrastruktur menuju pendekatan berbasis ekosistem dan peningkatan literasi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, dalam Dialog Jurnalis bertema Menguatkan Narasi Media tentang Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim di Lanskap Palu–Sigi–Donggala, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Asep, perubahan iklim kini menjadi faktor pengganda risiko yang memperburuk kerentanan geologis Pasigala. Berdasarkan proyeksi iklim 2020–2049, suhu maksimum tahunan diperkirakan meningkat lebih dari 3 derajat Celsius, sementara intensitas hujan lebat naik 5–25 persen.

Kondisi tersebut berpotensi memicu bencana turunan seperti banjir, longsor, kekeringan, gagal panen, hingga meningkatkan risiko likuefaksi saat gempa terjadi. Selain itu, kualitas udara di Lembah Palu juga terancam akibat fenomena inversi termal yang menyebabkan polutan dari aktivitas pertambangan dan galian C terperangkap di wilayah lembah.

Untuk mengurangi risiko tersebut, BMKG mendorong penerapan Ecosystem-based Disaster Risk Reduction (Eco-DRR). Beberapa langkah yang disarankan antara lain penguatan sabuk mangrove di pesisir, penanaman vetiver dan bambu di kawasan rawan longsor, penerapan konsep sponge city di perkotaan, serta restorasi lahan kritis melalui penghijauan berkelanjutan.

Namun, Asep menegaskan keberhasilan mitigasi tidak hanya bergantung pada infrastruktur. Literasi dan kesadaran masyarakat menjadi faktor utama agar warga mampu memahami risiko dan bertindak cepat saat bencana terjadi.

“Semua perangkat keras yang kita bangun tidak akan efektif tanpa perangkat lunak berupa literasi masyarakat. Warga harus menjadi bagian dari solusi dan mampu menjadi responden pertama ketika bencana terjadi,” ujarnya.
Ia menambahkan, masa depan Pasigala bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan menyelaraskan mitigasi geologi, adaptasi perubahan iklim, penegakan tata ruang, dan penguatan kapasitas masyarakat.

“Alam adalah benteng pertama, tetapi kesadaran kita adalah pertahanan terakhir,” pungkasnya. TIN

Pos terkait