Untad Perkuat Pendampingan Pasien TB

Rapat koordinasi di Ruang Rapat Rektor Untad, Senin (10/8/2026). FOTO: DOK HUMAS UNTAD

TONDO, MERCUSUAR – Universitas Tadulako (Untad) memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TB) di Sulawesi Tengah melalui Program Pendampingan Keluarga Pasien TB Paru “Berani Magaya”.

Program yang diinisiasi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad tersebut dibahas dalam rapat koordinasi di Ruang Rapat Rektor Untad, Senin (10/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari konsorsium perguruan tinggi “KITA Sulteng” dan diarahkan untuk mendukung target eliminasi TB 2030.

Program Berani Magaya berfokus pada peningkatan kepatuhan pengobatan pasien TB sekaligus pencegahan penularan melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Pelaksanaannya melibatkan perguruan tinggi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pemerintah daerah.

Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., mengatakan penanggulangan TB tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan, tetapi juga membutuhkan pencegahan penularan dan dukungan terhadap pasien serta keluarganya.

“Kita tidak boleh melihat persoalan TB hanya dari sisi pengobatan ketika seseorang sudah sakit. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mencegah risiko penularan, melindungi keluarga, dan memastikan pasien mendapatkan pendampingan sampai menyelesaikan pengobatannya,” ujarnya.

Menurut Amar, mahasiswa dapat mengambil peran langsung di masyarakat melalui edukasi dan pendampingan pasien secara humanis tanpa stigma.

Dekan FKM Untad, Prof. Dr. Rosmala Nur, S.K.M., M.Si., menjelaskan program tersebut dirancang untuk menghubungkan pembelajaran mahasiswa dengan kebutuhan masyarakat. Sebanyak 650 mahasiswa semester 5 dari perguruan tinggi yang berkolaborasi akan terlibat sebagai family companion, didampingi 100 dosen pembimbing.

“Berani Magaya kita desain bukan sekadar sebagai kegiatan lapangan mahasiswa, tetapi sebagai model kolaborasi yang menghubungkan pembelajaran di perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat,” kata Rosmala.

Mahasiswa akan mendampingi pasien TB dan keluarga kontak erat, memberikan edukasi, memantau kepatuhan pengobatan OAT dan TPT, mengidentifikasi kendala pengobatan, serta membantu menghasilkan data surveilans berbasis keluarga.

Kegiatan tersebut juga terintegrasi dengan mata kuliah Surveilans Kesehatan Masyarakat dan Teknologi Kesehatan Digital. Mahasiswa akan dibekali materi TB, OAT, TPT, komunikasi, etika data, serta penggunaan aplikasi KOBO sebelum melakukan pendampingan di lapangan.

Pendampingan dijadwalkan berlangsung Agustus hingga Desember 2026. Mahasiswa akan melakukan kunjungan dua kali sepekan, follow-up melalui SMS atau WhatsApp, serta mendapat supervisi dosen.

Program menargetkan sedikitnya 90 persen pasien patuh OAT, 80 persen kontak erat patuh TPT, 90 persen mahasiswa konsisten turun ke lapangan, dan 90 persen dosen melaksanakan supervisi mingguan.

Selain meningkatkan kepatuhan pengobatan dan TPT, program tersebut diarahkan untuk menekan Lost to Follow Up, meningkatkan Treatment Success Rate (TSR), serta mengurangi potensi kasus TB baru pada kontak erat. */JEF

Pos terkait