Oleh: Ir. Drs. Abdullah, MT.
Kecepatan Cahaya
Sains modern menyebutkan bahwa kecepatan gelombang cahaya, lebih sering disebut kecepatan cahaya, di ruang hampa (vacuum) adalah 300.000.000 m/detik atau 300.000 km/detik atau 1,08 miliar km/jam. Inilah kecepatan terbesar di alam semesta. Di luar angkasa (outer space), kecepatannya dianggap sama karena penurunan kecepatannya hanya sekitar 0,03%. Bandingkan kecepatan cahaya dengan kecepatan-kecepatan besar lainnya seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut:

Saat ini, benda tercepat hasil karya manusia adalah rudal Fattah-2 buatan Iran, lihat tabel di atas. Tetapi, jika dibandingkan dengan kecepatan cahaya maka perbandingannya adalah kecepatan cahaya 58.268 kali lebih cepat daripada kecepatan maksimal rudal Fattah-2. Atau, kecepatan rudal Fattah-2 sama dengan 0,0000171621 kali kecepatan cahaya.
Pada saat tulisan ini dibuat, perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, yang bermula pada 28 Februari 2026, masih sedang berlangsung. Secara ilustrasi, jarak Teheran (Iran) dengan Tel Aviv (Israel) sekitar 1.600 km. Rudal Fattah-2membutuhkan waktu sekitar 5 menit 11 detikuntuk sampai ke target di Tel Aviv, sementara cahaya hanya butuh waktu 0,0053 detik untuk menempuh jarak yang sama.
Alam Semesta dan Langit
Alam semesta adalah kesatuan ruang tanpa batas beserta segala isinya, termasuk materi, energi, galaksi, bintang, planet, satelit, atom hingga partikel subatom, serta segala bentuk kehidupan di dalamnya. Langit adalah ruang luas yang terbentang di atas bumi dan mencakup atmosfer serta luar angkasa tempat benda-benda angkasa. Langit bukanlah sebuah benda berbentuk kubah, melainkan konsep pandangan terbuka ke atas tanpa batas. Dengan demikian, berdasarkan sudut pandang manusia di bumi: “alam semesta = bumi + langit“.
Dari konsep pandangan terbuka ke atas tanpa batas tersebut, kemudian muncul kiasan “di atas langit masih ada langit”, yang maknanya sehebat, sepandai, atau sekaya apa pun seseorang, pasti selalu ada orang lain yang lebih hebat, lebih pandai, atau lebih kaya dari dia. Kiasan ini merupakan peringatan kepada semua orang tentang pentingnya sikap rendah hati dan menghindari kesombongan. Selain itu, kata langit juga sering digunakan sebagai ungkapan untuk suatu batas atas atau sesuatu yang tinggi. MIsalnya, langit-langit mulut yang menunjukkan bagian atas rongga mulut. Atau, langit-langit rumah yang menunjukkan plafon rumah.
ALLAH SWT telah menciptakan alam raya atau alam semesta ini dengan tanpa batas Hanya sedikit pengetahuan manusia tentangnya. Sebagian yang sudah diketahui oleh manusia adalah bahwa di alam semesta ini terdapat milyaran galaksi. Salah satu dari galaksi tersebut adalah galaksi Bima Sakti (Milky Way). Galaksi ini merupakan gumpalan raksasa yang terdiri dari miliaran bintang serta gas, debu, dan materi gelap yang terikat oleh gaya gravitasi.

Gambar Ilustrasi bentuk galaksi Bima Sakti, masing-masing dilihat dari atas atau dari bawah dan dari samping serta ukurannya
Salah satu dari bintang tersebut adalah “Matahari kita” dengan planet-planet dan satelit-satelitnya yang mengorbit mengelilingi matahari tersebut. Salah satu dari planet tersebut adalah Bumi. Sistem Matahari – planet-planet tersebut biasa disebut Tata Surya (Solar System). Sehingga, diduga kuat terdapat milyaran Tata Surya di galaksi Bima Sakti. Kemungkinan besar, hal yang sama juga berlaku pada galaksi-galaksi lainnya.
Gumpalan raksasa galaksi Bima Sakti tersebut berbentuk cakram yang biasa dipakai berolah raga, lihat Gambar 1. Diameter atau panjang galaksi bima sakti sekitar 100.000 tahun cahaya (946 quadriliun km = 9,46 × 10¹⁷ km) dan tebal atau lebar maksimunya sekitar 20.000 tahun cahaya (189,2 quadriliun km = 1,892 × 10¹⁷ km).
Bandingkan dengan jarak Matahari dengan Bumi yang jaraknya sekitar 8,3 menit cahaya atau 8 menit 20 detik cahaya. Jika jarak ini dikonversikan ke dalam satuan tahun cahaya, jaraknya sangat kecil yaitu sekitar 0,0000158 tahun cahaya. Adapun jarak rata-rata Matahari ke Bumi adalah sekitar 149,6 juta km. Bandingkan juga dengan jarak Bumi dengan Bulan yang jaraknya sekitar 1,3 detik cahaya.
Tahun cahaya (light-year), menit cahaya (light-minute) dan detik cahaya (light-second) adalah satuan ukuran jarak, bukan ukuran waktu. Satuan ukuran tersebut biasa digunakan dalam astronomi untuk menuliskan jarak yang sangat jauh di alam semesta berdasarkan jarak yang ditempuh oleh seberkas cahaya di luar angkasa dalam kurun waktu tertentu.
Sebagai ilustrasi. Jika dinyalakan satu sumber cahaya di salah satu tepi galaksi Bima Sakti, nanti 100.000 tahun kemudian barulah cahaya tersebut tiba di tepi galaksi yang bersebelahan. Jika Matahari bisa di-off-kan, kemudian di-on-kan kembali, nanti 8,3 menit kemudian barulah sinar (cahaya) Matahari tersebut dilihat oleh orang di Bumi. Ketika sinar Matahari menerpa Bulan, nanti 1,3 detik kemudian barulah cahaya dari Bulan tersebut dilihat oleh orang di Bumi.
Isra Miraj
Peristiwa Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-12 kenabian (sekitar tahun 621 Masehi). Peristiwa ini terjadi setelah wafatnya Abu Thalib yang disusul wafatnya Siti Khadijah di Mekah, penolakan dan penghinaan warga Taif kepada Nabi Muhammad SAW, dan sebelum beliau hijrah ke Medinah. Setiap tahun umat Islam memperingati peristiwa Isra Miraj. Pada tahun ini, umat Islam di Indonesia memperingatinya pada 27 Rajab 1447 H yang bertepatan dengan Jumat/16 Januari 2026.
Peristiwa Isra Miraj dijelaskan dalam Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Quran, peristiwa Isra Miraj dijelaskan di dua tempat berbeda, yakni Surat Al-Isra’ ayat 1untuk peristiwa Isra dan Surat An-Najm ayat 13–18untuk peristiwa Miraj.
Peristiwa Isra, dalam Surat Al-Isra’ ayat 1: “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.“
Peristiwa Miraj, dalam Surat An-Najm ayat 13–18:
- Ayat 13–14: “Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratulmuntaha,”
- Ayat 15–16: “Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihatnya) ketika Sidratulmuntaha diselubungi oleh sesuatu yang menyelubunginya,”
- Ayat 17–18: “Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”
Adapun Hadis yang yang meriwayatkan tentang peristiwa Isra Miraj, salah satunya adalah: “Didatangkan kepadaku Buraq… saya pun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis… Kemudian datang kepadaku Jibril ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi khamr (arak) dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, lalu Jibril berkata: ‘Engkau telah memilih fitrah.’ Lalu Jibril membawaku naik ke langit.” (HR. Muslim).
Salah satu peristiwa besar yang dijalani oleh Nabi Muhammad SAW adalah “Isra Miraj. Dalam hal ini, beliau di-Isra-kan dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem Palestina. Kemudian, beliau di-Miraj-kan dari Masjidil Aqsa ke Sidratulmuntaha. Setelah itu, kembali turun ke Masjidil Aqsa dan selanjutnya ke Masjidil Haram. Peristiwa ini terjadi pada suatu malam dengan waktu kurang dari 10 jam.
Dari literatur-literatur Islam diketahui bahwa dalam miraj tersebut, beliau melewati 7 lapis atau 7 tingkat langit. Pada setiap tingkatan langit beliau bertemu dengan Nabi terdahulu. Pada langit pertama, beliau bertemu dengan Nabi Adam As. dan seterusnya, hingga pada langit ketujuh beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim As. Selanjutnya, beliau “naik” ke Sidratulmuntaha, batas terjauh yang tidak bisa dicapai oleh makhluk apapun kecuali Nabi Muhammad SAW. Di sini, beliau ‘berdialog’ dengan Sang Maha Pencipta (ALLAH SWT) dan menerima perintah ‘shalat’ dan yang terkait dengannya.
Dari peristiwa Miraj tersebut diketahui bahwa di atas langit ke 7 masih ada sesuatu yang lebih tinggi lagi, yakni Sidratulmuntaha. Jika merujuk kepada pengertian langit maka sesuatu yang lebih tinggi tersebut juga bisa disebut “langit” [wallahu a’lam bish-shawab (hanya ALLAH yang paling tahu kebenaran yang sebenarnya)].
Jarak Mekah – Yerusalem
Masjidil Aqsa terletak di Kota Yerusalem, atau dikenal sebagai Al-Quds, tepatnya di kawasan Kota Tua (Old City) di Tepi Barat, Palestina. Masjidil Haram terletak di Kota Mekah, Arab Saudi. Dari berbagai sumber, didapatkan informasi bahwa jarak dan waktu tempuh antara kedua kota tersebut adalah:
- Jarak garis lurus antara Mekah dan Yerusalem sekitar 1.234 km. Waktu tempuh dengan penerbangan langsung sekitar 1,5 jam.
- Jarak jalur darat berkisar antara 1.465 – 1.798 km, tergantung jalur jalan yang dipilih. Waktu tempuh dengan kendaraan bermotor antara 15 – 20 jam. Adapun waktu tempuh dengan kuta atau unta antara 30 – 40 hari.
Saat di-isra-kan atau diperjalankan dari Masjidil Haram – Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melewati beberapa kafilah dagang, ada yang sedang berjalan dan ada yang sedang berisirahat.
Sementara itu, waktu tempuh gelombang cahaya dari Mekkah ke Yerusalem adalah sekitar 0,0041 detik atau 4,1 milidetik, atau 0,0082 detik atai 8,2 milidetik, untuk pergi dan pulang.
Namun demikian, dalam isra tersebut kecepatan Buraq (kendaraan imajiner, yang bisa saja bukan dari lisan Nabi Muhammad SAW, tetapi dari lisan perawi hadis) yang membawa Nabi Muhammad SAW pastilah lebih cepat dibanding kecepatan perjalanan berkendaraan kuda atau unta pada masa tersebut, tetapi jauh di bawah kecepatan cahaya. Kenapa demikian? Karena waktu tempuhnya lebih cepat dibanding perjalanan dengan kuda atau unta dan Nabi Muahammad SAW masih bisa melihat dengan jelas kondisi sesuatu yang dilewatinya termasuk menjelaskan perjalanan beberapa khalifah dagang yang beliau lewati. Bahkan beliau bisa menjelaskan dengan tepat kapan waktunya, salah satu dari kafilah dagang tersebut, memasuki Kota Mekah. Dan, seandainya kecepatan kendaraan imajiner tersebut mendekati atau sama dengan kecepatan cahaya, pastilah seseorang di kendaraan tersebut akan suit melihat dan menjelaskan kondisi sesuatu yang dia lewati.
Jarak Yerusalem – Sidratulmuntaha
Di atas telah dijelaskan tentang:
- Alam semesta yang tak bertepi dan bahwa di atas langit masih ada langit.
- Langit ke 7 yang masih ada di atasnya, yakni Sidratulmuntaha.
Sampai saat ini, sains modern belum bisa menjelaskan tentang batas alam semesta dan berapa jaraknya dari permukaan bumi. Atau, berapa jarak antara permukaan bumi dengan setiap tingkatan langit sampai ke langi yang paling tinggi. Sains modern baru bisa menjelaskan tentang beberapa galaksi yang terdapat di alam semesta dan sudah bisa mengeksplorasi bentuk dan dimensi galaksi Bima Sakti, yakni galaksi dimana matahari kita dan bumi yang kita huni termasuk dalam keluarga besar galaksi tersebut. Sampai saat ini, sains modern belum bisa memberi informasi berapa jumlah galaksi yang sebenarnya, berikut bentuk, dimensi dan jarak antar galaksi. Kemungkinan besar, sains modern tidak akan pernah bisa memberi informasi yang dimaksud.
Juga, tidak ada gambaran fisik tentang langit yang bertingkat-tingkat yang disebut dalam Miraj Nabi Muhammad SAW serta berapa jarak langit pertama dengan permukaan bumi, berapa jarak antara 2 langit yang berurutan, dan seterusnya. Bahkan, petunjuk dari ulama tafsir Al-Quran pun tidak ada yang mengarah ke sana.
Oleh karena batas alam semesta tidak bisa diketahui oleh sains modern dan seperti apa itu susunan langit yang disebut dalam miraj tersebut, maka mustahil bisa mempertemukan antara dua hal yang sama-sama tidak diketahui batasannya. Dengan demikian, mustahil mengetahui jarak antara Yerusalem di permukaan bumi dengan Sidratulmuntaha yang berada di atas langit ketujuh (wallahu a’lam bish-shawab).
Waktu Tempuh Yerusalem – Sidratulmuntaha
Jarak antara 2 titik terjauh yang saling bersebelahan pada galaksi Bima Sakti adalah 100.000 tahun cahaya. Perhatikan posisi M (matahari kita) pada gambar di atas. Tampak jarak posisi M dengan tepi terdekat galaksi adalah ¼ atau 0,25 x 100.000 tahun cahaya = 25.000 tahun cahaya dan jarak posisi M dengan tepi terjauh galaksi adalah ¾ atau 0,75 x 100.000 tahun cahaya = 75.000 tahun cahaya.
Jika Bumi menempati posisi Matahari, yang jarak antar keduanya hanya sekitar 8,3 menit cahaya atau 8 menit 20 detik cahaya, maka jarak Bumi dengan titik terjauh galaksi Bima Sakti adalah 75.000 tahun cahaya. Lantas, berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh gelombang cahaya dari permukaan bumi ke Sidratulmuntaha, yang diyakini melampaui semua batas galaksi? Jawabnya: Karena mustahil mengetahui jarak antara Yerusalem di permukaan bumi dengan Sidratulmuntaha yang berada di atas langit ketujuh, maka mustahil pula mengetahui waktu tempuh cahaya dari Bumi ke Sidratul Muntaha (wallahu a’lam bish-shawab).
Tetapi, atas kuasa ALLAH SWT, Nabi Muhammad SAW bisa menempuh perjalanan miraj dari Masjidil Aqsa di Bumi ke Sidrratulmuntaha yang berada di atas langit ketujuh (pergi dan pulang) hanya dalam waktu kurang dari 10 jam, termasuk perjalanan isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Agsa dan tiba kembali di Masjidil Haram. Atas kejadian yang suprarasional (di luar hukum alam) inilah sehingga peristiwa Isra Miraj dianggap sebagai salah satu “Mujizat” Nabi Muhammad SAW.
Penutup
Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW telah menarik banyak perhatian dari kalangan ulama dan saintis modern untuk membahasnya dengan masing-masing menggunakan pendekatan keagamaan dan keilmuan. Saintis Fisika pun tidak ketinggalan dalam upaya mempertemukan antara perjalanan miraj yang suprarasional dengan konsep Fisika Teori yang rasional. Meski sains tidak bertujuan untuk “membuktikan” kebenaran Isra Miraj, beberapa konsep dalam Fisika Teori sering digunakan sebagai pendekatan analogi dalam upaya memahami perjalanan supercepat tersebut, yang jauh melampaui kecepatan cahaya.
Ada beberapa konsep Fisika Teori yang biasa dikaitkan dengan peristiwa miraj, 2 diantaranya adalah:
- Teori Relativitas Umum Einstein (Kelengkungan Ruang-Waktu). Dalam teori ini, ruang dan waktu bersifat fleksibel serta bisa melengkung akibat energi atau massa yang besar.Di bawah kehendak ALLAH SWT selaku pemegang kendali ruang-waktu, jarak yang sangat jauh (alam semesta berdiameter miliaran tahun cahaya) dapat “dilipat” atau dipersingkat. Hal ini menjelaskan mengapa Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan yang sangat jauh yang batasnya tidak diketaui dan kembali ke tempat semula dalam waktu kurang dari satu malam (wallahu a’lam bish-shawab).
- Konsep Lubang Cacing (Wormhole) dan Dimensi Tambahan. Dalam fisika teoretis, terdapat konsep wormhole atau lubang cacing. Wormhole adalah jalan pintas hipotetis yang menghubungkan dua titik ruang-waktu yang sangat berjauhan di alam semesta. Melalui jalur non-linier ini, perjalanan antargalaksi yang membutuhkan jutaan tahun cahaya dapat ditempuh secara instan. Hal ini juga menjelaskan mengapa Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan yang sangat jauh yang batasnya tidak diketaui dan kembali ke tempat semula dalam waktu kurang dari satu malam (wallahu a’lam bish-shawab).
Pendekatan Fisika Teori tentang Isra Miraj hanya berfungsi sebagai alat bantu manusia untuk bertafakur mengenai fleksibilitas ruang dan waktu. Sementara itu, ulama berpendapat bahwa tujuan utama Isra Miraj adalah untuk memperlihatkan tanda kekuasaan ALLAH SWT yang mutlak agar manusia bertafakkur dan memuji-NYA.
Bahan Tulisan
- Al-Quran, Kitab Suci Umat Islam.
- Pengetahuan penulis sebagai seorang Muslim, Sarjana Fisika dan Megister Teknik Geofisika.
- Beberapa narasi dalam Artificial Intelligence (AI)tanggal 08 Agustus 2026, yang kemudian dikoreksi dan direvisi untuk penyempurnaan dan penyesuaian.
Penulis adalah Dosen Prodi Teknik Geofisika dan Kepala Laboratorium Palu-Koro, Jurusan Fisika dan Matematika Fakultas MIPA Universitas Tadulako, Palu





