DONGGALA, MERCUSUAR – Potensi perikanan merupakan salah satu sumber daya lokal yang dapat dikembangkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat desa. Agar hasil tangkapan ikan memberikan nilai tambah yang lebih besar, diperlukan keterampilan, inovasi, serta dukungan teknologi pengolahan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) Tahun 2026, upaya tersebut diwujudkan melalui pendampingan pengolahan ikan menjadi produk abon dan bakso ikan bagi masyarakat Desa Lende Tovea, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala.
Program tersebut didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI.
Sosialisasi, pembukaan program, dan penyerahan peralatan kepada mitra dilaksanakan pada 18 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Lende Tovea, Sofian beserta jajaran, Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Kosabangsa DPPM yang diwakili Prof. Dr. Ir. H. Bakhrani A. Rauf, M.T., IPU, ASEAN Eng.
Tim pelaksana dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu diketuai Dr. Rukhayati, S.E., M.M. bersama anggota Drs. Muh. Jufri, M.Si., dan Meggi Rahayu, S.Pd., M.Pd.. Sementara Tim pendamping dari Universitas Negeri Makassar (UNM) diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Bakhrani A. Rauf, M.T., IPU, ASEAN Eng. bersama Dr. Ir. Faisal Amir, M.Pd., dan Dr. Purnawati.
“Kehadiran para pihak terkait memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat agar program dapat berjalan sesuai tujuan serta memberikan manfaat nyata,” kata Ketua Tim Pelaksana Dr. Rukhayati, S.E., M.M. kepada Mercusuar, baru-baru ini.
Program tersebut menyasar Kelompok Nelayan dan Pokdarwis sebagai mitra. Rukhyati menjelaskan, pengolahan ikan menjadi abon dan bakso dipilih sebagai langkah untuk memperluas pemanfaatan hasil perikanan lokal.
“Ikan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi, cita rasa yang beragam, dan peluang pemasaran yang lebih luas. Inovasi ini diharapkan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha produktif berbasis potensi desa,” jelasnya.
Ia juga berharap, dukungan peralatan pengolahan dapat membantu mitra menjalankan proses produksi secara lebih efektif dan terarah.
Dalam pembuatan abon ikan, tahapan pengolahan dilakukan dengan memperhatikan kebersihan bahan, pemasakan, pemisahan duri, pencabikan daging, pembumbuan, serta pengeringan atau penggorengan hingga mencapai tekstur yang sesuai.
Sementara itu, pembuatan bakso ikan memerlukan pemilihan bahan baku yang segar, penggilingan daging ikan, pencampuran bumbu dan bahan pendukung, pembentukan adonan, serta pemasakan. Setiap tahapan perlu menerapkan prinsip higiene dan sanitasi agar produk yang dihasilkan aman, bermutu, dan layak dipasarkan.
“Pengembangan abon dan bakso ikan bukan sekadar memperkenalkan cara mengolah bahan pangan, melainkan juga membangun keterampilan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Melalui pelatihan dan pendampingan, mitra diharapkan mampu menjaga konsistensi rasa, tekstur, kebersihan, kemasan, dan mutu produk. Pengemasan yang baik serta pencantuman informasi produk yang sesuai juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan mendukung perluasan pemasaran,” tutur Rukhayati.
Ia juga berharap, kolaborasi lintas perguruan tinggi dapat memperkuat pelaksanaan program melalui dukungan keilmuan, pendampingan teknis, dan pemantauan berkelanjutan.
Rukhayati menyebut, keberhasilan kegiatan dapat dilihat dari kemampuan mitra menghasilkan abon dan bakso ikan secara konsisten, peningkatan jumlah produksi, perluasan jangkauan pemasaran, serta tumbuhnya pendapatan dan kerja sama kelompok. Evaluasi tersebut penting agar dukungan teknologi benar-benar memberi dampak bagi kehidupan masyarakat.
Ia berharap, melalui dukungan DPPM Kemdiktisaintek serta kolaborasi Unismuh Palu dan UNM, Program Kosabangsa 2026 dapat menjadi pijakan bagi tumbuhnya usaha pengolahan ikan yang berkelanjutan di Desa Lende Tovea.
Dengan pendampingan yang konsisten, semangat gotong royong, dan pengelolaan usaha yang bertanggung jawab, potensi perikanan lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Pada akhirnya, inovasi pengolahan ikan menjadi abon dan bakso bukan hanya menghadirkan produk baru, tetapi juga membuka peluang, memperkuat kemandirian kelompok, dan menumbuhkan harapan bagi kesejahteraan masyarakat desa.
Sementara itu, Kepala Desa Lende Tovea, Sofian menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Program Kosabangsa, yang diharapkan mampu mendorong peningkatan perekonomian masyarakat. Ia berpesan agar peralatan yang diberikan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama, dikelola sebagai aset kelompok, dan tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi.
Sofian menegaskan, keberhasilan program tidak berhenti pada penyerahan alat, tetapi ditentukan oleh komitmen bersama dalam menjaga dan mengembangkan pemanfaatannya. Ke depan, keberlanjutan program memerlukan keterampilan dalam mengoperasikan dan merawat peralatan, menjaga kualitas produk, mengelola biaya produksi, menentukan kemasan, serta membangun jaringan pemasaran.
Mendorong Pembuatan Minyak Kelapa dengan Proses Cepat dan Daya Simpan Lebih Panjang
Program serupa juga dijalankan Tim Pelaksana di Desa Lende Tovea, dengan mendorong pengembangan kelapa sebagai sumber penghasilan masyarakat, yang dapat diolah dengan teknologi dan pengelolaan usaha yang tepat.
Dukungan penerapan Teknologi Tepat guna (TTG) dalam program ini, membantu proses pembuatan minyak kelapa secara lebih cepat. Program ini juga didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI.

Tim pelaksana dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu diketuai oleh Dr. Rukhayati, S.E., M.M., bersama anggota Drs. Muh. Jufri, M.Si., dan Meggi Rahayu, S.Pd., M.Pd. Tim pendamping dari Universitas Negeri Makassar (UNM) diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Bakhrani A. Rauf, M.T., IPU, ASEAN Eng., bersama Dr. Ir. Faisal Amir, M.Pd., dan Dr. Purnawati.
Sosialisasi, pembukaan program, dan penyerahan peralatan kepada mitra dilaksanakan pada 18 Oktober 2026. Kegiatan dihadiri Kepala Desa Lende Tovea, Sofian beserta jajaran, Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Kosabangsa DPPM yang diwakili oleh Prof. Dr. Ir. H. Bakhrani A. Rauf, M.T., IPU, ASEAN Eng.
Ketua Tim Pelaksana, Dr. Rukhayati, S.E., M.M. menyebut nilai ekonomi kelapa dapat ditingkatkan melalui pengolahan menjadi minyak kelapa yang lebih praktis diproduksi, bermutu, dan memiliki daya simpan lebih panjang.
Salah satu fokus kegiatan adalah pemanfaatan alat parut kelapa, alat pemeras santan, dan alat penyaring minyak untuk mendukung tahapan produksi minyak kelapa. Penggunaan peralatan tersebut diharapkan membantu mempercepat pekerjaan, mengurangi beban tenaga manual, dan membuat proses pengolahan lebih efisien.
“Melalui pendampingan teknis, masyarakat juga didorong untuk menerapkan langkah produksi yang bersih dan teratur, mulai dari pemilihan bahan baku, pemarutan kelapa, pemerasan santan, pengolahan, hingga penyaringan dan pengemasan minyak,” jelas Rukhyati.
Ia menjelaskan, program tersebut menargetkan pengembangan minyak kelapa dengan proses pembuatan yang lebih cepat dan daya simpan hingga satu tahun.
“Untuk mencapai mutu dan masa simpan tersebut, proses produksi perlu memperhatikan kebersihan bahan serta peralatan, pengendalian kadar air, proses pengolahan yang konsisten, dan penggunaan kemasan yang sesuai. Kepastian daya simpan satu tahun tetap perlu didukung oleh pengujian mutu atau uji penyimpanan, sehingga informasi masa simpan yang dicantumkan pada produk dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya.
Dampak yang diharapkan dari program tersebut, lanjut Rukhayati, tidak hanya berupa tersedianya peralatan, tetapi juga tumbuhnya keterampilan baru dan peluang usaha bagi masyarakat. Minyak kelapa yang dihasilkan dapat dikembangkan sebagai produk kelompok, dipasarkan secara bertahap, dan menjadi sumber tambahan pendapatan. Dengan pengelolaan produksi, penentuan harga, pengemasan, dan pemasaran yang baik, kegiatan ini berpotensi mendorong usaha lokal yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Menurut Prof. Dr. Ir. H. Bakhrani A. Rauf, M.T., IPU, ASEAN Eng., yang mewakili Tim Monitoring dan Evaluasi Program Kosabangsa DPPM, penerapan teknologi tepat guna perlu diarahkan agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan.
Ia menegaskan, dukungan peralatan harus disertai pendampingan, pengelolaan kelompok, serta pemantauan pemanfaatannya.
“Dengan demikian, teknologi yang diberikan tidak berhenti sebagai bantuan sarana, tetapi dapat digunakan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas produksi, membuka peluang usaha, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat sasaran,” ujar Bakhrani.
Sementara itu, Dr. Ir, Faisal Amir, M.Pd. selaku anggota Tim pendamping dari UNM menyebut penerapan TTG dalam pelaksanaan kegiatan Kosabangsa sangat tepat sasaran, karena berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat penerima manfaat.
Teknologi yang diterapkan meliputi alat parut kelapa, pemeras santan, dan penyaring minyak untuk mendukung proses pembuatan minyak kelapa yang lebih cepat. Ia menekankan melalui pemanfaatan teknologi tersebut, masyarakat diharapkan memperoleh manfaat nyata, meningkatkan keterampilan, mengembangkan usaha produktif, serta memperkuat perekonomian kelompok sasaran
Dr. Rukhayati, S.E., M.M. selaku Ketua Tim Pelaksana dari Unismuh Palu menjelaskan, program Kosabangsa 2026 merupakan upaya untuk menghubungkan pengetahuan dan teknologi perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat.
“Pembuatan minyak kelapa dengan dukungan alat yang sesuai diharapkan membantu mitra meningkatkan efisiensi kerja, menghasilkan produk dengan mutu yang lebih terjaga, serta mengembangkan potensi kelapa menjadi kegiatan ekonomi produktif. Ke depan, pendampingan akan menjadi bagian penting agar masyarakat tidak hanya mampu menggunakan peralatan, tetapi juga dapat mengelola produksi dan usaha secara mandiri,” tuturnya lagi.
Anggota Tim Pelaksana, Drs. Muh. Jufri, M.Si. menekankan keberhasilan program perlu ditopang oleh keterampilan masyarakat dalam menjalankan setiap tahapan produksi dan menjaga kualitas produk.
Penggunaan alat parut, pemeras santan, dan penyaring minyak perlu diiringi dengan penerapan kebersihan, pengemasan yang baik, pencatatan biaya, serta strategi pemasaran.
“Apabila dikelola secara konsisten, kegiatan ini berpeluang memperluas nilai guna kelapa, meningkatkan produktivitas kelompok, dan membuka kesempatan usaha yang dapat memberi manfaat ekonomi bagi keluarga,” tegas Jufri.
TTG bukan semata-mata tentang penggunaan mesin, melainkan tentang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar, berinovasi, membangun usaha, dan meningkatkan kemandirian ekonomi. Dengan pemanfaatan peralatan yang bertanggung jawab dan pendampingan yang berkesinambungan, pembuatan minyak kelapa secara lebih cepat dan bermutu diharapkan memberi dampak jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat desa.
Kepala Desa Lende Tovea, Sofian menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Program Kosabangsa dan berharap peralatan yang diberikan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama.
“Peralatan tersebut perlu dikelola sebagai aset kelompok, dirawat secara berkala, dan digunakan untuk kegiatan produktif. Dukungan pemerintah desa dan kerja sama antaranggota kelompok menjadi unsur penting untuk menjaga keberlangsungan program,” kata Sofian.
Ke depan, lanjut dia, manfaat program diharapkan terlihat melalui meningkatnya keterampilan mitra, proses produksi yang lebih efisien, mutu minyak kelapa yang terjaga, bertambahnya jumlah produksi, terbukanya akses pasar, serta peningkatan pendapatan kelompok.
Untuk mewujudkannya, diperlukan pendampingan berkelanjutan, pembagian tugas yang jelas, pengelolaan usaha yang transparan, dan evaluasi berkala. Daya simpan hingga satu tahun harus dipastikan melalui pengendalian proses dan pengujian yang memadai sebelum dinyatakan sebagai klaim produk.
Melalui dukungan DPPM Kemdiktisaintek dan kolaborasi Unismuh Palu dengan UNM, Program Kosabangsa 2026 diharapkan menjadi langkah nyata dalam mengembangkan potensi kelapa di Desa Lende Tovea. */IEA






