SIGI, MERCUSUAR – Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu melalui program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) tahun 2026, menghadirkan dukungan teknologi pengolahan hasil pertanian dan pemanfaatan limbah organik bagi masyarakat Desa Sibalaya Barat, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi.
Ketua Tim Pelaksana, Dr. Ir. Sitti Sabariyah D., M.Si. mengatkan program tersebut merupakan upaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, serta mengembangkan dan mendorong ekonomi masyarakat desa melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Program tersebut didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, dilaksanakan oleh Unisa Palu dengan pendampingan dari Universitas Negeri Makassar (UNM).
Sosialisasi, pembukaan program, sekaligus penyerahan peralatan kepada mitra dilaksanakan pada 5 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dihadiri Camat Tanambulava, Suaib dan jajaran, serta Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Kosabangsa DPPM, Prof. Dr. Ir. H. Bakhrani A. Rauf, M.T., IPU, ASEAN Eng., yang turut memberikan arahan terkait pelaksanaan program.
Dua kelompok masyarakat menjadi mitra kegiatan, yaitu Kelompok Tani Maliuntinuvu dan kelompok ibu-ibu PKK Usaha Singgani.
“Program diarahkan untuk mendukung pengembangan kegiatan produktif melalui pemanfaatan potensi lokal, khususnya jagung, kelapa, dan limbah organik,” jelas Sabaria kepada Mercusuar, baru-baru ini.
Dalam kesempatan sosialisasi, sejumlah peralatan diserahkan kepada mitra, meliputi mesin pipil jagung, mesin giling kelapa, mesin peras santan, alat fermentasi santan, mesin serut sabut kelapa, alat serut sapu lidi, mesin pencacah sampah untuk mendukung pembuatan pupuk organik, serta beberapa peralatan pendukung lainnya.
Mesin pipil jagung membantu memisahkan biji jagung dari tongkolnya sehingga proses penanganan hasil panen berpotensi lebih efisien. Mesin giling kelapa dan mesin peras santan mendukung pengolahan daging kelapa menjadi santan sebagai bahan baku produk minyak kelapa tradisional tahan simpan.
Sabaria menuturkan, pemanfaatan sabut kelapa dan lidi turut membuka peluang pengembangan produk rumah tangga. Sementara itu, mesin pencacah sampah membantu memperkecil ukuran bahan organik untuk mempermudah proses pengomposan.
Ia menjelaskan, pengolahan menjadi pupuk organik tetap memerlukan pengaturan kelembapan, aerasi, dan waktu penguraian yang sesuai. Teknologi tersebut diharapkan membantu kelompok mitra mengembangkan kegiatan produktif berbasis sumber daya lokal.
“Penerapannya juga sejalan dengan prinsip ekonomi hijau (green economy) melalui optimalisasi pemanfaatan bahan dan pengurangan limbah,” imbuh Sabaria.
Tim Pelaksana beranggotakan Spetriani, S.TP., M.Sc. dan Dr. Marjun, S.E., M.M. Sementara Tim Pendamping dari UNM diketuai Dr. Ir. Yasdin, S.Pd., M.Pd., M.Sc., IPM, dengan anggota Dr. Ir. Drs. H. Alimuddin Sa’ban Miru, M.Pd. dan Dr. Ir. Edy Sabara, M.Si., IPM.
Kehadiran Tim Monev DPPM dalam kegiatan pembukaan turut menjadi bagian dari pemantauan dan pemberian arahan agar pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan kelompok mitra diharapkan mendukung penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Penyerahan peralatan menjadi langkah awal penerapan teknologi di tingkat masyarakat. Keberlanjutan program memerlukan keterampilan pengoperasian, pemeliharaan peralatan, pengembangan produk, serta pengelolaan usaha yang baik.
Keberhasilan program nantinya perlu dinilai berdasarkan pemanfaatan alat, mutu dan jumlah produk, efisiensi proses, serta perkembangan pemasaran dan pendapatan mitra.
“Indikator tersebut penting untuk memastikan bahwa teknologi yang diberikan benar-benar memberikan manfaat,” ujar Sabaria.

Dalam sambutannya, Camat Tanambulava, Suaib, S.S., M.M. menyampaikan apresiasi terhadap Program Kosabangsa, yang disebutnya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Ia berpesan agar seluruh peralatan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama, bukan menjadi milik pribadi, melainkan dikelola sebagai aset kelompok.
Melalui dukungan DPPM Kemdiktisaintek dan kolaborasi Unisa Palu dengan UNM, Program Kosabangsa 2026 diharapkan membuka peluang pengembangan usaha berbasis potensi lokal di Desa Sibalaya Barat. Dengan pengelolaan yang bertanggung jawab dan pendampingan berkelanjutan, teknologi diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat keterampilan, kemandirian kelompok, dan ekonomi masyarakat desa. */IEA






