LOLU SELATAN, MERCUSUAR – Pihak SMA Kristen Gamaliel Palu akhirnya membuat surat pernyataan bersalah, terkait insiden yang dialami salah seorang siswa berinisial JZ. Surat tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala SMA Kristen Gamaliel Palu, Indra Matunggu dan Guru PJOK, I Made Yosua.
Dalam surat pernyataan itu, pihak sekolah menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang terjadi terhadap siswa tersebut. Selain itu, pihak sekolah juga berjanji akan lebih profesional dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik.
Direktur Yayasan Sekolah Kristen Gamaliel, Deby Sunaris mengatakan, pihak yayasan telah mengambil langkah pembinaan dan meminta seluruh pihak untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara baik.
“Kami juga sudah memberikan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku di Yayasan Gamaliel Palu mulai dari Surat Peringatan (SP1) hingga berbagai tahapan lainnya. Jadi dengan adanya kejadian ini kami akan berupaya untuk menjadi lebih baik dalam memberikan pendidikan dan pembinaan kepada para siswa,” katanya, Jumat (29/5/2026).
Menurut Deby, surat pernyataan tersebut dibuat sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen sekolah dalam memperbaiki pelayanan pendidikan kepada siswa.
“Kami berharap persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik dan menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujarnya.
Dalam isi surat tersebut juga disebutkan bahwa pihak sekolah tetap akan memberikan hak pendidikan kepada JZ hingga menyelesaikan proses pendidikannya di SMA Kristen Gamaliel Palu. Selain itu, pihak sekolah mengaku siap membuka ruang diskusi dengan orang tua siswa terkait perkembangan pendidikan Jonathan ke depan. Surat pernyataan tersebut dibuat dengan kesadaran penuh tanpa adanya paksaan dan telah ditandatangani di atas materai.
Sementara itu, orang tua siswa JZ, Vera mengaku sudah merasa puas dengan langkah yang diambil pihak sekolah dan yayasan dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
“Saya melihat pihak sekolah dan yayasan sudah menunjukkan itikad baik dan mau bertanggung jawab atas kejadian ini. Kami juga sudah berdiskusi dengan baik dan mendapatkan penjelasan secara langsung,” katanya.
Vera menilai langkah pemberian sanksi dan surat pernyataan tersebut menjadi bukti bahwa pihak sekolah serius dalam menegakkan aturan serta melakukan evaluasi terhadap para tenaga pendidik.
“Kami berharap ke depan komunikasi antara sekolah dan orang tua semakin baik sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Yang terpenting saat ini anak kami tetap bisa melanjutkan pendidikan dengan nyaman,” ujarnya.
Sebelumnya SMA Gamaliel Palu diduga melaksanakan pemaksaan olahraga kepada para siswa sehingga membuat salah satu siswa terpaksa dilarikan IGD RS Anutapura Palu. Kejadian tersebut membuat orang tua siswa langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Yayasan Kristen Gamaliel Palu. UTM







