KARSA Institute Sosialisasikan Program KUBIK 2.0 di Sigi, Dorong Kemandirian Ekonomi Penyandang Disabilitas

PALU, MERCUSUAR — KARSA Institute dengan dukungan NLR Indonesia menggelar sosialisasi Program KUBIK (Kelompok Usaha Bisnis Inklusif) 2.0, sebagai langkah awal implementasi program pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas dan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) di Kabupaten Sigi.

Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor KARSA Institute, Kamis (23/4/2026), dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah, organisasi penyandang disabilitas, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Direktur Eksekutif KARSA Institute, Rahmat Saleh, dalam sambutannya menyampaikan, Kabupaten Sigi memiliki perhatian terhadap isu disabilitas, meskipun implementasinya masih terus perlu diperkuat.

“Beberapa daerah sudah memiliki perda disabilitas, tetapi belum terlihat aksi nyata. Di Sigi, meskipun belum sempurna, sudah ada ikhtiar yang baik. Hari ini, KARSA berkesempatan untuk melanjutkan dan mewujudkan rencana aksi tersebut dalam bentuk program konkret,” ujarnya.

Program KUBIK merupakan inisiatif pengembangan usaha inklusif yang menyasar pemuda penyandang disabilitas dan OYPMK berusia 18 hingga 25 tahun. Program ini akan dilaksanakan selama tiga tahun dengan target menciptakan sedikitnya 25 usaha baru di sembilan desa yang tersebar di Kecamatan Dolo dan Sigi Biromaru.

Melalui program ini, peserta akan mendapatkan pendampingan dalam pengembangan usaha berbasis minat, mulai dari penyusunan rencana bisnis hingga akses permodalan. Selain itu, peserta juga akan dibekali dengan pelatihan keterampilan, termasuk penguatan kapasitas sosial dan emosional sebagai bagian dari kesiapan berwirausaha.

Koordinator Program KUBIK, Florensius mengungkapkan, salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan program adalah keterbatasan data, khususnya terkait OYPMK yang masih dipengaruhi oleh stigma di masyarakat.

“Pendataan masih menjadi kendala karena stigma yang melekat. Ini menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama dalam memastikan program tepat sasaran,” jelasnya.

Dalam tahap awal, sebanyak 25 calon penerima manfaat telah melalui proses asesmen dan akan dikelompokkan berdasarkan minat serta jenis usaha yang akan dikembangkan. Mereka juga akan didampingi oleh mentor dalam menyusun proposal usaha sebagai bagian dari proses pengembangan bisnis.

Perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang hadir dalam kegiatan tersebut menyoroti pentingnya pemerataan program ke wilayah lain di Kabupaten Sigi, mengingat banyaknya intervensi lembaga non-pemerintah yang kerap beririsan.

Sementara itu, pihak Dinas Sosial Kabupaten Sigi menyampaikan, hingga saat ini belum tersedia data spesifik terkait OYPMK dan program yang ada masih bersifat umum untuk penyandang disabilitas. Mereka juga menekankan pentingnya penguatan mental bagi penyintas kusta agar mampu beradaptasi dan tidak merasa terpinggirkan.

Di sisi lain, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) menyatakan, isu disabilitas telah masuk dalam dokumen rencana strategis daerah, sehingga diharapkan dapat mendukung keberlanjutan program ke depan.

Program KUBIK sebelumnya telah diimplementasikan di Medan dan Manggarai dan kini diperluas ke wilayah Sigi sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi inklusif berbasis komunitas.

Melalui sosialisasi ini, diharapkan terbangun kesamaan pemahaman dan komitmen antar pemangku kepentingan dalam mendukung implementasi program, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam mendorong kemandirian ekonomi bagi kelompok rentan di Kabupaten Sigi. JEF

Pos terkait