PARIGI MOUTONG, MERCUSUAR – Aksi Palu–Parigi Road Clean yang dimulai sejak Kamis (30/7/2026) hingga Minggu (2/8/2026) menjadi gerakan kolaboratif lintas organisasi pecinta alam.
Kegiatan tersebut digagas sebagai upaya membangun kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan di sepanjang jalur Trans Sulawesi, yang menghubungkan Kota Palu dan Kabupaten Parmout.
Sejumlah organisasi pecinta alam yang terlibat antara lain KEPAL Tokalaka, OPA Kalibamba, LSA Gagantu Wild Indonesia, KPA Mosintomu, dan LPAP El Capitan Indonesia. Aksi juga mendapat dukungan dari organisasi pecinta alam asal Kota Palu, yakni KPA Oryza Sativa dan Mapala Epy Liger Poltekkes Palu.
Koordinator Aksi, Moh. Abduh menjelaskan kegiatan bersih-bersih jalur Trans Sulawesi Palu–Parigi direncanakan berlangsung hingga 17 Agustus 2026.
“Aksi ini sebagai bentuk keresahan kami terhadap banyaknya sampah yang berserakan di sepanjang jalan Palu–Parigi. Rencananya, kegiatan pada 17 Agustus nantinya akan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Mulai dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pelaku UMKM, komunitas, hingga para pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA,” ujar Abduh.
Untuk lokasi pelaksanaannya, membentang dari pintu gerbang perbatasan Parigi–Donggala hingga pertigaan Desa Toboli Kecamatan Parigi Utara, sekira 17 kilometer. Setiap hari, para relawan melakukan pembersihan mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WITA.
Setelah mengumpulkan sampah, seluruh hasil pembersihan juga didata secara sistematis. Sampah yang terkumpul terlebih dahulu ditimbang untuk mengetahui total berat hasil pembersihan selama satu hari, kemudian dipilah berdasarkan jenisnya.
Abduh menerangkan, pihaknya juga mengidentifikasi berat masing-masing jenis sampah serta menelusuri asal produk dan alamat produsennya melalui kemasan yang ditemukan. Langkah ini dilakukan untuk menghasilkan data yang dapat menjadi bahan informasi, sekaligus evaluasi bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengelolaan sampah yang lebih efektif.
“Hasil identifikasi ini diharapkan menjadi bahan evaluasi sekaligus ekspos bagi pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Sulawesi Tengah, dalam menyusun formulasi pengelolaan persampahan yang lebih baik,” jelas Abduh.
Selama empat hari pelaksanaan aksi yang dimulai dari batas wilayah Parigi-Donggala hingga kilometer 14, tercatat total sampah yang dikumpulkan mencapai 845,92 kilogram. Menurut Abduh, jumlah tersebut menjadi gambaran masih tingginya volume sampah yang dibuang sembarangan di sepanjang jalur Trans Sulawesi, khususnya pada rute Palu–Parigi.
Selain membersihkan kawasan, Palu–Parigi Road Clean juga menjadi media edukasi dan kampanye kepada pelaku UMKM, pemerintah desa, serta seluruh pengguna jalan agar tidak lagi membuang sampah sembarangan. Abduh berharap, mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Ia menegaskan, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan bersih-bersih. Melainkan diperlukan kebijakan yang berkelanjutan serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Tujuannya, agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif.
“Harapannya, upaya ini membuat seluruh pemerintah di wilayah Sulawesi Tengah dapat menyusun formulasi khusus terhadap pengelolaan persampahan. Selain itu, membangun gerakan kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan di jalur Trans Sulawesi, khususnya pada rute Palu–Parigi. Karena kelestarian lingkungan itu lahir dari kesadaran,” pungkas Abduh. AFL







