Oleh : Kartini Nainggolan/Mercusuar
Pukul satu dini hari, Minggu (13/9/2026), ketika sebagian besar kota masih tertidur, sebuah warung makan di Bahodopi justru dipenuhi antrian. Para pekerja yang baru menyelesaikan shift malam memesan kopi, nasi, dan mie goreng. Di sudut lain, pengemudi ojek online terus menerima pesanan. Lampu-lampu toko kelontong masih menyala, menandai denyut ekonomi yang nyaris tak pernah berhenti.
Eka, pemilik Warung Prasmanan FF di Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi, memahami betul ritme tersebut. Warung yang dirintisnya sekitar dua tahun lalu itu tidak mengenal hari libur. 24 jam sehari, dapurnya tetap menyala.
Bukan tanpa alasan. Di Bahodopi, pergantian shift pekerja industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), berarti pergantian pelanggan. Mereka yang datang pada pagi hari akan berganti dengan pekerja yang pulang pada sore atau malam hari. Sebagian bahkan kembali lagi untuk membeli makanan pada waktu berbeda dalam satu hari.
Awal dibuka, Warung Prasmanan FF belum seperti saat ini. Bangunan sederhana hanya beratapkan terpal berukuran sekitar 3 x 4 meter di pinggir jalan. Hanya ada empat orang yang menjalankan usaha, termasuk dirinya, tukang masak, dan penjaga warung yang bekerja dalam dua shift.
Omzetnya ketika itu sekitar Rp800 ribu per hari. Kini, angkanya bisa mencapai Rp 8 juta per hari.
Pertumbuhan itu ikut mengubah ukuran usaha yang dirintis Eka. Dari yang semula hanya mengandalkan beberapa orang, kini lebih dari 30 tenaga kerja terlibat untuk mengurus dapur dan melayani pembeli.
Sebagian besar pelanggan datang dari kalangan pekerja di kawasan industri milik PT IMIP dan masyarakat sekitar. Sekali datang, seorang pekerja bahkan bisa kembali lagi pada hari yang sama, membeli makanan ketika hendak berangkat kerja dan kembali ketika pulang.
Harga makanan di warung itu berkisar Rp15 ribu hingga Rp 25 ribu per porsi, tergantung menu yang dipilih. Ada nasi kuning, nasi campur, kopi, teh, es jeruk, dan berbagai pilihan makanan lain. Pagi menjadi salah satu waktu tersibuk. Begitu pula sore, ketika pergantian shift membuat arus pekerja kembali bergerak.
Bagi Eka, ramainya warung bukan sekadar bertambahnya jumlah pembeli. Di balik setiap porsi makanan yang terjual, ada bahan baku yang harus dibeli. Sayur, ikan, dan kebutuhan dapur lainnya diperoleh dari pedagang di sekitar Bahodopi.
Artinya, uang yang masuk ke warung tidak berhenti di meja kasir.
Sebagiannya kembali mengalir ke pedagang bahan makanan. Dari sana, uang berpindah lagi ke tangan pelaku usaha lain. Rantai kecil itu berlangsung setiap hari, mengikuti kebutuhan pekerja yang terus datang dan pergi dari kawasan industri.
“Adanya IMIP ini sangat membantu kami Masyarakat, bukan hanya yang bekerja di Perusahaan, kami juga yang punya usaha dapat untung karena pembelinya itu karyawan IMIP,” kata Eka.
Di Bahodopi, cerita tentang usaha yang tumbuh dari kebutuhan pekerja tidak berhenti di warung makan. Beberapa kilometer dari sana, Barokah (42), menemukan jalan lain untuk menyambung ekonomi keluarganya.
Pada 2022, setelah menyelesaikan kontraknya sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Taiwan, Barokah kembali ke Morowali. Tabungan yang dibawanya pulang tidak dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari. Ia menggunakannya sebagai modal membuka usaha laundry di Desa Bahomakmur, kecamatan Bahodopi.
Barokah menyewa lahan berukuran sekitar 5 x 3 meter dengan biaya Rp1,5 juta per bulan. Pilihan usahanya sederhana, mencuci pakaian. Kebutuhan yang sederhana itu bertemu dengan kehidupan pekerja industri yang memiliki waktu terbatas. Sebagian besar pelanggan Barokah merupakan pekerja IMIP.
Pada awal usaha, Barokah mengerjakan hampir semuanya sendiri dengan bantuan dua orang saudaranya. Penghasilannya sekitar Rp400 ribu per hari. Kini, pelanggan semakin banyak. Pendapatannya dapat mencapai Rp3 juta per hari dan ia telah mempekerjakan 10 orang.
Dulu ia harus pergi ke Taiwan untuk mencari penghidupan. Kini, pekerjaan justru datang dari aktivitas ekonomi yang tumbuh di kampung halamannya.
“Bersyukur ada IMIP di Morowali. Kami bisa punya penghasilan sendiri, tidak harus mencari pekerjaan di luar seperti yang pernah saya lakukan jadi TKI ,” ujarnya Sabtu (12/9/2026).
Menangkap Peluang
Cerita serupa muncul dari usaha kuliner lain di Bahodopi. Bedanya, kali ini pelakunya adalah seorang anak muda yang sejak awal memilih membangun usaha sendiri ketimbang menjadi pekerja di kawasan industri.
Moh. Ahdiat (27), pendiri Solusi Kopie di Desa Keurea, membuka kedainya tahun 2021, tidak lama setelah menyelesaikan pendidikan sarjana. Saat itu, ia sempat mempertimbangkan untuk melamar pekerjaan di kawasan industri. Namun, pengalaman sebelumnya bekerja di sebuah kedai kopi skala kecil membuatnya memilih mencoba peruntungan melalui usaha sendiri.
“Sebelumnya saya pernah pengalaman kerja di kedai kopi, tapi skala kecil,” cerita Ahdiat seperti yang dilansir dari laman resmi PT IMIP.
Perjalanan usahanya tidak langsung berjalan mulus. Namun, seiring pertumbuhan kawasan industri dan bertambahnya pekerja, pasar yang tersedia bagi usaha kuliner juga ikut berkembang.
Kini, sekitar 80 persen pelanggan Solusi Kopie berasal dari kalangan pekerja kawasan IMIP.
Bagi Ahdiat, keberadaan ribuan pekerja di kawasan industri bukan hanya menciptakan lapangan pekerjaan di dalam perusahaan. Mereka juga menjadi bagian dari pasar bagi usaha-usaha yang tumbuh di luar kawasan industri. Makanan, kopi, tempat berkumpul, hingga berbagai kebutuhan harian menjadi ruang ekonomi yang ikut terbuka.
Jejak Uang Pekerja
Di Bahodopi, kebutuhan konsumsi dan jasa lainya muncul setiap hari, bahkan ketika sebagian besar wilayah lain mulai beristirahat. Roda ekonomi bergerak mengikuti pergantian shift. Salah satu orang yang ikut berada di dalam putaran itu adalah Hamid (41), pekerja di smelter nikel di kawasan IMIP.
Bagi Hamid, membeli makanan di warung sekitar kawasan industri sudah menjadi bagian dari rutinitas. Hampir tidak ada hari tanpa membeli makanan di luar.
“Sehari untuk makan saya bisa habis Rp50 ribu. Itu makan siang dan malam. Kalau pagi biasanya hanya sarapan seadanya dengan roti dan kopi,” ujarnya.
Setelah bekerja, Hamid juga lebih sering menggunakan jasa laundry ketimbang mencuci sendiri. Untuk pakaian yang tidak disetrika, tarifnya sekitar Rp 6 ribu per kilogram.
Pengeluaran itu belum termasuk kebutuhan lain seperti sabun dan perlengkapan mandi, pulsa dan paket data, bahan bakar kendaraan, hingga biaya perbaikan sepeda motor ketika mengalami kerusakan.
Dalam sebulan, Hamid memperkirakan pengeluaran untuk kebutuhan tersebut mencapai sekitar Rp3 juta. Ia masih harus membayar biaya kos sekitar Rp1,5 juta yang ditanggung bersama tiga orang temannya. Sementara sebagian penghasilannya disisihkan untuk ditabung. Salah satu tujuannya adalah membantu membangun rumah orang tuanya.
Bagi Hamid, uang yang ia keluarkan setiap hari mungkin hanya terlihat sebagai kebutuhan pribadi. Makan ketika lapar, membayar laundry ketika pakaian menumpuk, membeli pulsa ketika kuota habis, dan mengisi bahan bakar ketika kendaraan digunakan. Namun jika ribuan pekerja melakukan hal serupa setiap hari, kebutuhan-kebutuhan kecil itu berubah menjadi arus uang yang jauh lebih besar.
Setiap kebutuhan pekerja menciptakan transaksi. Dari transaksi-transaksi kecil tersebut, terbentuk rantai ekonomi yang menghubungkan pekerja dengan pelaku usaha, pedagang bahan baku, pemilik kos, hingga pekerja yang menggantungkan penghasilan dari usaha-usaha tersebut.
Besarnya pasar itu tidak lepas dari jumlah pekerja yang beraktivitas di kawasan industri.
Hingga akhir Agustus 2026, berdasarkan data Human Resources (HR) Departemen PT IMIP, jumlah tenaga kerja yang terserap di kawasan tersebut mencapai 98.266 orang. Sebagian besar pekerja berasal dari Pulau Sulawesi. Sebanyak 90.405 orang atau 92 persen tercatat berasal dari kawasan tersebut. Dari jumlah itu, 31.445 orang atau 32 persen merupakan penduduk Sulawesi Tengah, sementara 17.688 orang atau 18 persen berasal dari Kabupaten Morowali.
Khusus warga Kecamatan Bahodopi, jumlahnya mencapai 10.809 orang atau sekitar 11 persen dari total tenaga kerja. Sementara pekerja yang berasal dari luar Pulau Sulawesi tercatat 7.861 orang atau sekitar 8 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas industri tidak hanya menjadi tempat bekerja bagi tenaga kerja dari luar daerah, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat di sekitar kawasan untuk masuk ke dalam rantai ekonomi industri.
Head of Media PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari upaya perusahaan menghadapi kebutuhan tenaga kerja di tengah perkembangan industri pengolahan nikel.
“IMIP tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang berbagai jenjang pendidikan untuk bertumbuh dan berkarya. Komitmen kami meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat,” kata Dedy, Rabu (2/9/2026).
Pertumbuhan jumlah tenaga kerja itu berlangsung seiring dengan perkembangan kawasan industri. Pada 2020, tenaga kerja yang terserap di kawasan IMIP tercatat sebanyak 35.592 orang. Jumlah tersebut meningkat menjadi 51.542 orang pada 2021, kemudian 68.466 orang pada 2022.
Pada 2023, jumlahnya kembali bertambah menjadi 74.350 orang dan sekitar 83.000 orang pada 2024. Hingga Agustus 2026, jumlah tenaga kerja telah mencapai 98.266 orang.
Bagi IMIP, keberadaan masyarakat sekitar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan kawasan industri.
Dedy mengatakan hal tersebut telah menjadi bagian dari visi, misi dan nilai perusahaan, termasuk upaya memfasilitasi perkembangan usaha masyarakat lokal serta memberikan kontribusi bagi daerah.
“Sudah tertuang dalam visi, misi dan nilai perusahaan, bagaimana IMIP memfasilitasi perkembangan usaha masyarakat lokal dan memberi kontribusi nyata bagi daerah,” tegasnya.
Konsumsi Pekerja Rp5,9 Triliun Per Tahun.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Morowali, Gladius Alfonsus, menyebut berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), tingkat pengangguran terbuka (TPT) Morowali pada Agustus 2025 berada pada angka 2,81 persen. Angka itu turun 0,34 persen poin dibandingkan Februari 2024 yang tercatat 3,15 persen.
Pada Agustus 2025, jumlah angkatan kerja di Morowali mencapai 85.039 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 82.653 orang telah bekerja, sedangkan 2.386 orang masih berstatus pengangguran.
Jika dibandingkan dengan kondisi lima tahun sebelumnya, jumlah pengangguran juga mengalami penurunan. Pada 2020, angkatan kerja Morowali tercatat 57.727 orang, dengan 54.721 orang bekerja dan 3.006 orang masih menganggur. Di tengah angka tersebut, terdapat 17.688 warga Morowali yang tercatat bekerja di kawasan IMIP.
Bagi masyarakat sekitar, pekerjaan di kawasan industri tidak hanya berarti perubahan sumber pendapatan keluarga. Kehadiran ribuan pekerja juga menciptakan kebutuhan ekonomi baru di luar kawasan industri.
Hal itu terlihat dari hasil survei perputaran ekonomi di Kecamatan Bahodopi yang dilakukan tim Research and Support Departemen Secretariat General Affair PT IMIP. Survei tersebut menunjukkan mayoritas pekerja di kawasan industri berada pada rentang usia 26–35 tahun, dengan proporsi mencapai 56,4 persen dari total responden.
Sebanyak 98,4 persen responden mengaku mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan makanan dan minuman setiap hari. Rata-rata pengeluaran konsumsi pekerja mencapai sekitar Rp2,19 juta per orang setiap bulan. Jika dikalkulasikan, total pengeluaran bulanan karyawan di kawasan IMIP diperkirakan mencapai Rp492 miliar atau sekitar Rp5,9 triliun dalam setahun.
Angka tersebut menggambarkan besarnya aktivitas ekonomi yang muncul dari kebutuhan sehari-hari para pekerja. Uang yang diterima pekerja tidak seluruhnya berhenti di kawasan industri, tetapi ikut berputar melalui warung makan, rumah kos, transportasi, kios dan berbagai usaha yang menyediakan kebutuhan pekerja.
Sektor kuliner menjadi salah satu yang paling merasakan perputaran tersebut.
Saat ini, tercatat 7.643 unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) beroperasi di Kecamatan Bahodopi. Sebanyak sekitar 78 persen merupakan usaha mikro dan 22 persen usaha kecil. Jenis usahanya beragam, mulai dari kuliner, rumah kos dan kontrakan hingga jasa transportasi.
Menariknya, pekerja masih banyak mengandalkan pelaku usaha lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebanyak 57 persen responden menyatakan lebih sering berbelanja di warung atau kios lokal dibandingkan toko modern.
Kedekatan lokasi, harga yang relatif terjangkau serta hubungan sosial dengan penjual menjadi sejumlah alasan pekerja memilih berbelanja di usaha lokal.
Dengan jumlah pekerja yang mencapai puluhan ribu orang dan kebutuhan konsumsi yang berlangsung setiap hari, aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri pun berkembang mengikuti kebutuhan tersebut.
Kondisi ini menjadi perhatian Bank Indonesia Sulawesi Tengah. Dalam keterangan tertulisnya, BI menilai penguatan sektor ekonomi padat karya di sekitar kawasan industri padat modal seperti IMIP penting dilakukan agar manfaat ekonomi dari aktivitas industri dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Penguatan tersebut dapat dilakukan melalui sektor perdagangan, jasa logistik, konstruksi dan UMKM pendukung lainnya.
“Langkah ini bertujuan membantu memperluas distribusi manfaat ekonomi dari aktivitas industri. Selain itu, dapat membantu menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat lokal,” tulis BI Sulawesi Tengah.
Bagi pemerintah daerah, perkembangan industri pengolahan nikel juga menjadi bagian dari agenda hilirisasi untuk memberikan nilai tambah terhadap komoditas daerah.
Kepala Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Andi Irman, mengatakan pemerintah daerah akan terus mendorong iklim investasi yang kondusif serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat untuk mendukung hilirisasi industri.
“Selain pengelolaan potensi fiskal daerah, pemerintah mendukung kebijakan hilirisasi industri untuk memberikan nilai tambah komoditas daerah,” kata Andi.
Namun, besarnya aktivitas industri juga membuat kebutuhan untuk memperkuat sektor ekonomi lainnya menjadi semakin penting.
Dalam jangka panjang, perekonomian daerah tidak hanya membutuhkan industri pengolahan, tetapi juga diversifikasi melalui sektor pertanian, perikanan, pariwisata dan industri pengolahan skala menengah.
Daya Beli Pekerja dan Pertumbuhan Ekonomi
Dari dalam kawasan industri hingga warung kecil di pinggir jalan, aktivitas ekonomi Bahodopi akhirnya membentuk satu rangkaian. Pabrik membutuhkan pekerja. Pekerja membutuhkan makanan, tempat tinggal dan transportasi. Kebutuhan itu kemudian menciptakan pasar bagi masyarakat sekitar.
Di tengah terus bertambahnya tenaga kerja di kawasan IMIP, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menyediakan pekerjaan, tetapi bagaimana memastikan perputaran ekonomi yang lahir dari aktivitas industri dapat menciptakan ruang yang semakin luas bagi masyarakat lokal.
Dengan demikian, pertumbuhan kawasan industri tidak berhenti pada angka produksi dan investasi, tetapi juga terlihat dari seberapa jauh aktivitas tersebut mampu menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (Untad) Palu, Prof. Wahyuningsih, SE, M.Sc., Ph.D., mengatakan perkembangan UMKM di wilayah Morowali, khususnya di kawasan industri PT IMIP menunjukkan percepatan, baik dari sisi jumlah maupun kemampuan pelaku usaha.
Menurutnya, meningkatnya jumlah pendatang dan pekerja di kawasan industri turut mendorong perubahan tuntutan pasar. Pelaku UMKM tidak lagi hanya dituntut mampu menyediakan produk, tetapi juga meningkatkan keterampilan kewirausahaan dan kemampuan memanfaatkan teknologi.
“Perkembangan UMKM di Morowali kalau dari segi percepatannya ini luar biasa karena sangat signifikan. Pertambahan dari segi kuantitas maupun tentunya kualitas,” kata Wahyuningsih, Rabu (16/9/2026).
Menurut Wahyuningsih, salah satu indikator untuk melihat apakah pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri benar-benar terjadi adalah peningkatan pendapatan masyarakat. Indikator lainnya dapat dilihat dari daya beli dan jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor UMKM.
Dalam konteks Morowali, daya beli pekerja industri menjadi salah satu faktor yang ikut menggerakkan aktivitas ekonomi lokal. Pendapatan pekerja yang kemudian dibelanjakan untuk makanan, tempat tinggal, transportasi dan kebutuhan lainnya menciptakan permintaan bagi pelaku usaha di sekitar kawasan.
“Daya beli dari pembeli pekerja-pekerja itu yang kemudian men-drive daya beli masyarakat secara keseluruhan,” katanya.
Efek tersebut, menurut dia, dapat dilihat sebagai efek berantai dalam perekonomian. Ketika pekerja memiliki pendapatan dan daya beli lebih besar, pengeluaran mereka akan menciptakan permintaan baru. Pelaku UMKM kemudian memenuhi permintaan tersebut dengan membeli bahan baku dari usaha dan sektor ekonomi lainnya.
“UMKM ini kan dia hanya simpul. Misalnya industri kuliner, dia butuh beli ikan dari nelayan, butuh beli sayur dari petani, butuh beli ayam. Jadi bergerak semua ini,” jelasnya.
Dengan demikian, uang yang awalnya berasal dari pendapatan pekerja industri dapat mengalir ke berbagai lapisan ekonomi masyarakat, mulai dari pedagang, pelaku UMKM, petani, nelayan hingga penyedia jasa.
Wahyuningsih mengatakan pertumbuhan UMKM juga dapat menjadi salah satu indikator peningkatan kesejahteraan, meski tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran.
Menurutnya, peningkatan pendapatan masyarakat biasanya akan diikuti perubahan kebutuhan rumah tangga. Ketika kemampuan ekonomi meningkat, masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk membiayai pendidikan anak, meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan dan memenuhi kebutuhan lainnya.
“Secara keseluruhan akhirnya kesejahteraan itu meningkat dimulai dari salah satu aspek, yaitu ekonomi,” katanya.
Pada titik inilah, perputaran ekonomi yang muncul dari kawasan industri dapat menjadi lebih dari sekadar aktivitas konsumsi. Jika terhubung dengan rantai pasok lokal dan diikuti peningkatan kapasitas pelaku usaha, permintaan dari pekerja dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi masyarakat.***






