Hari Bumi 2026, Data Ilmiah Dorong Pemulihan Mangrove

Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah yang digelar di Gedung Serbaguna Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako (Untad), Selasa (22/4/2026).FOTO : ROA SULTENG

PALU, MERCUSUAR – Upaya memperkuat pengelolaan ekosistem berbasis ilmiah terus didorong melalui Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah yang digelar di Gedung Serbaguna Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako (Untad), Selasa (22/4/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan antara praktisi, akademisi, serta para pemangku kepentingan guna mendorong pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis data.

Dekan Fakultas Kehutanan Untad, Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Yusran, mengatakan seminar tersebut merupakan kolaborasi antara Relawan Orang dan Alam (ROA) bersama Fakultas Kehutanan Untad sebagai langkah strategis menghasilkan kajian yang komprehensif.

Menurutnya, hasil kajian yang dipaparkan tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga aplikatif untuk mendukung perumusan kebijakan.

“ROA bersama Fakultas Kehutanan Untad telah bekerja sama menyusun kajian spesies ini. Materi yang dipaparkan hari ini sangat penting karena mencakup analisis kondisi lapangan sekaligus rekomendasi teknis yang dapat menjadi dasar perumusan kebijakan rehabilitasi yang terukur dan berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Selain sebagai forum diseminasi hasil kajian, kegiatan ini juga menjadi wadah memperkuat jejaring kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan komunitas lokal. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar upaya rehabilitasi dan konservasi berjalan terintegrasi serta berkelanjutan.

Dalam seminar itu, Dr. Bau Toknok memaparkan materi bertajuk Kajian Spesies Ekosistem Mangrove dan Lahan Rehabilitasi Perhutanan Sosial di Desa Oncone Raya. Ia menjelaskan, hasil kajian menunjukkan kawasan mangrove di Oncone Raya memiliki luas sekitar 31,44 hektare. Namun, hanya 18,7 persen yang masih berupa vegetasi mangrove, sementara 50,3 persen telah beralih fungsi menjadi tambak dan 31 persen merupakan areal terbuka.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan tekanan cukup besar terhadap ekosistem mangrove sehingga dibutuhkan strategi rehabilitasi yang tepat dan berbasis data lapangan.

Dalam pengumpulan data, pendekatan yang digunakan tidak hanya mengukur aspek biofisik, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat melalui forum diskusi kelompok (focus group discussion/FGD), penggunaan enumerator lokal, serta penggalian pengetahuan tradisional masyarakat pesisir.

Selain itu, ia juga menjelaskan berbagai spesies mangrove beserta morfologinya sebagai dasar menentukan jenis tanaman yang sesuai untuk rehabilitasi.

“Sabuk pesisir yang sehat, masyarakat yang kuat,” tegasnya di akhir pemaparan.

Sementara itu, materi kedua mengenai Kajian Spesies Tahura Sulawesi Tengah dengan Pendekatan Etnobiologi dan Plot disampaikan Ir. Erika mewakili Dr. Ir. Sudirman Dg. Massiri. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pendekatan etnobiologi dan metode plot dalam pengelolaan kawasan Tahura Sulawesi Tengah sebagai lanskap konservasi strategis.

Ia menjelaskan, Tahura Sulawesi Tengah memiliki luas sekitar 5.195 hektare yang mencakup wilayah Kota Palu dan Kabupaten Sigi.

“Kawasan Tahura Sulawesi Tengah adalah aset strategis yang tidak tergantikan, sehingga pengelolaannya harus berbasis data ilmiah sekaligus memperhatikan pengetahuan lokal masyarakat,” ungkapnya.

Dalam pengelolaannya, kawasan Tahura dibagi ke dalam beberapa zonasi, yakni blok perlindungan, blok koleksi dan khusus, blok pemanfaatan, blok rehabilitasi, serta blok tradisional. Pembagian zonasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan arah pengelolaan kawasan, baik untuk perlindungan keanekaragaman hayati, pemanfaatan terbatas, maupun rehabilitasi ekosistem yang terdegradasi.

Ia menambahkan, pohon cendana merupakan salah satu spesies tanaman penciri yang terdapat di Tahura Sulawesi Tengah.

Seminar dipandu Madina Dwi yang memfasilitasi jalannya diskusi secara interaktif. Peserta yang hadir turut memberikan tanggapan, termasuk menyoroti tantangan implementasi hasil kajian di lapangan, seperti keterbatasan data, keberlanjutan program, serta perlunya penguatan kapasitas masyarakat lokal.

Kegiatan ini diinisiasi oleh ROA bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Untad dan didukung Yayasan KEHATI melalui program SOLUSI Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu di Indonesia, sebuah inisiatif hasil kerja sama Bappenas dan Pemerintah Jerman (BMUV).*/TIN

Pos terkait