JAKARTA, MERCUSUAR – PT Vale meluncurkan laporan perdana Research, Development & Innovation (R&D&I) Report yang merangkum strategi, investasi, tata kelola, kemitraan, serta berbagai inovasi yang dikembangkan perusahaan dalam mentransformasi industri pertambangan.
Laporan tersebut tidak hanya memuat rangkaian proyek teknologi, tetapi juga menggambarkan bagaimana riset, pengembangan, dan inovasi menjadi bagian penting dari strategi Vale untuk menjawab tantangan industri, mulai dari meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasional, menekan dampak lingkungan, hingga memperkuat kontribusi sektor pertambangan terhadap transisi energi.
Sepanjang 2025, Vale menginvestasikan US$685 juta atau sekitar Rp3,78 triliun untuk kegiatan riset, pengembangan, dan inovasi. Perusahaan juga mengelola lebih dari 350 proyek inovasi yang didukung oleh 16 pusat inovasi milik perusahaan.
Selain itu, Vale memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian melalui pendanaan beasiswa senilai lebih dari Rp38,4 juta untuk proyek-proyek R&D&I, serta investasi lebih dari Rp10 juta dalam pengembangan infrastruktur penelitian.
Head of Innovation Vale, Leandro Teixeira, mengatakan visi Mining of the Future atau pertambangan masa depan tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga pada perubahan menyeluruh dalam rantai nilai industri.
“Bagi kami, pertambangan masa depan berarti beroperasi dengan tingkat otonomi yang lebih tinggi melalui pemanfaatan data, kecerdasan buatan, dan solusi digital yang mampu meningkatkan kinerja sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Hal itu juga mencakup pengembangan model operasi baru, proses produksi yang lebih berkelanjutan, serta rantai pasok yang lebih tangguh,” ujarnya.
Menurut laporan tersebut, transformasi industri pertambangan dimulai sejak tahap eksplorasi mineral hingga proses produksi, transportasi melalui jalur kereta api, pelabuhan, dan pengiriman, sebelum akhirnya memasok industri baja dengan produk yang mendukung pengurangan emisi karbon.
AI Diterapkan di Seluruh Rantai Operasi
Salah satu sorotan utama dalam laporan itu adalah semakin luasnya penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di lingkungan operasional Vale.
Saat ini perusahaan telah mengembangkan lebih dari 45 solusi berbasis AI yang diterapkan pada kegiatan pertambangan, pengolahan mineral, pabrik pelet, jaringan kereta api, pelabuhan, pengiriman, pemantauan aset, eksplorasi mineral, hingga fungsi korporasi.
Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, memprediksi kondisi cuaca, mendukung operasi tambang, memantau aset strategis, mengoptimalkan armada kapal, mengurangi konsumsi bahan baku, meningkatkan efisiensi logistik, serta memperkuat aspek keselamatan kerja.
Beberapa inovasi yang telah dikembangkan antara lain MinAInteligente untuk meningkatkan efisiensi dan prediktabilitas operasi tambang, SabIA yang memanfaatkan AI generatif untuk pencarian data teknis eksplorasi mineral, PelotAInteligente guna mengoptimalkan proses peletisasi sekaligus mengurangi konsumsi gas alam, serta VESO, simulator yang mengintegrasikan data produksi, biaya, dan emisi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam upaya dekarbonisasi.
Vale juga terus memperluas penerapan teknologi otomatisasi di sektor pertambangan. Hingga 2025, lebih dari 90 unit alat berat otonom telah beroperasi di Brasil, meliputi truk tambang, mesin bor, dan peralatan di area penumpukan material.
Penggunaan teknologi tersebut memungkinkan aktivitas operasional dilakukan dari lokasi yang lebih aman, terhubung secara digital, serta berbasis analisis data.
Transformasi ini turut diiringi peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Sekitar 300 posisi pekerjaan telah mengalami perubahan, dengan para pekerja mendapatkan pelatihan untuk menjalankan peran baru dan berkolaborasi dengan kendaraan maupun peralatan otonom.
Salah satu contoh penerapan konsep tersebut adalah Tambang Capanema di Ouro Preto, Minas Gerais, yang kembali beroperasi setelah berhenti selama 22 tahun.
Tambang tersebut dirancang sebagai operasi yang sepenuhnya otonom, menerapkan sistem penambangan kering tanpa menggunakan air dalam proses pengolahan, tidak menghasilkan tailing maupun bendungan limbah, serta memanfaatkan kembali material bijih yang sebelumnya berada di tumpukan batuan sisa tambang.
Tingkatkan Praktik Pertambangan Sirkular
Laporan juga mencatat peningkatan praktik pertambangan sirkular yang dijalankan Vale.
Pada 2025, perusahaan berhasil memproduksi 26,3 juta ton bijih besi yang berasal dari sumber-sumber sirkular atau hasil pemanfaatan kembali material tambang. Jumlah tersebut setara sekitar 8 persen dari total produksi perusahaan, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Vale menargetkan kontribusi produksi dari sumber sirkular meningkat menjadi 10 persen pada 2030.
Melalui Circular Mining Program, perusahaan menjalankan lebih dari 100 inisiatif, termasuk pemanfaatan kembali batuan sisa dan tailing, produksi pasir berkelanjutan, pembangunan pabrik blok di Tambang Pico, serta pengembangan berbagai produk bernilai tambah dari material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
Pengembangan inovasi Vale tidak hanya dilakukan di area pertambangan, tetapi juga mencakup sektor logistik dan rantai pasok.
Perusahaan mengembangkan berbagai teknologi di pelabuhan, jaringan kereta api, dan armada pengiriman untuk meningkatkan keselamatan, efisiensi logistik, menekan emisi, dan meningkatkan prediktabilitas operasional.
Beberapa inovasi tersebut meliputi penggunaan drone untuk proses tambat kapal di Porto Norte, pemasangan panel surya pada lokomotif Kereta Api Carajás, sistem AIFleet, Ecoshipping, serta simulator VESO.
Di sektor industri baja, Vale juga mengembangkan produk yang mendukung upaya dekarbonisasi pelanggan. Salah satunya adalah briket bijih besi yang berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 10 persen dalam proses produksi baja. Sementara itu, konsep Mega Hubs diklaim mampu memangkas emisi hingga 70 persen dibandingkan metode produksi baja konvensional.TIN






