PALU, MERCUSUAR – Ditengah geliat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang terus tumbuh positif, tingkat kemiskinan di Sulteng pada Maret 2022 tercatat masih relatif tinggi yaitu sebesar 12,33 persen atau sekitar 388.360 jiwa, menurun dibandingkan Maret 2016 yang tercatat sebesar 14,45 persen.
Pertumbuhan Sulteng yang terus tumbuh positif bahkan peringkat ke dua secara nasional di tahun 2022 setelah Maluku Utara berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data dari Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Sulteng, ditinjau dari beberapa indikator yang digunakan dalam mengukur efek pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kesejahteraan, masih terdapat banyak ruang dalam meningkatkan dampak pertumbuhan ekonomi Sulteng terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurun sekitar 2,12 persen dalam enam tahun terakhir. Tingkat kemiskinan tersebut masih jauh berada di atas nasional yaitu 9,54 persen. Bahkan tingkat kemiskinan di Morowali yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir karena geliat industri pengolahan dan pertambangannya, masih tercatat tinggi yaitu 13,75 persen.
“Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Sulteng dan Kabupaten Morowali belum dapat menurunkan tingkat kemiskinan secara signifikan,” jelas Kepala BI Sulteng, Dwiyanto Cahyo Sumirat, saat mengadakan pertemuan dengan sejumlah wartawan di salah satu cafe di Kota Palu, Jumat (27/1/2023).
Sedangkan untuk tingkat ketimpangan yang digambarkan dengan rasio gini Sulteng pada Maret 2022 tercatat sebesar 0,308, menurun dibanding Maret 2016 (0,362).
“Namun demikian, Pemerintah Sulteng dalam RPJMD 2021-2026 menargetkan penurunan rasio gini berlanjut hingga mencapai 0,19 pada 2024,” jelasnya.
Anto juga menyebutkan, Gubernur Sulteng, Rusdi Mastura akan memerdayakan para petani di Sulteng untuk meningkatkan produksinya melalui penyertaan modal Perusahaan Daerah (Perusda). Hal ini diharapkan, akan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah geliatnya pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Morowali.
“Selama ini komoditas yabg dibutuhkan oleh industri pengolahan dan pertambangan di Morowali ambilnya dari luar karena pasokan kita tidak mampu memenuhi permintaan. Dengan adanya rencana tersebut, kita harap Sulteng bisa memenuhi permintaan agar pertumbuhan ekonomi di Morowali itu dirasakan oleh sebagaian besar masyarakat yang ada di Sulteng,” jelasnya.
Sementara itu dari sisi tenaga kerja, tercatat adanya penyerapan tenaga kerja sebanyak 28.655 tenaga kerja hingga September 2022, sebagian besar di antaranya berasal dari industri pengolahan. Kondisi tersebut sejalan dengan data BPS, yaitu jumlah tenaga kerja yang bekerja di industri pengolahan pada Agustus 2022 meningkat sebesar 32 ribu orang dibanding Agustus 2021.RES