PALU, MERCUSUAR – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah (Sulteng), Muhamad Irfan Sukarna mengatakan, ekonomi Sulteng pada Triwulan 1 tahun 2026 tumbuh sebesar 8,32% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 9,43% (yoy). Perlambatan tersebut mencerminkan moderasi pada sejumlah Lapangan Usaha (LU) utama, khususnya LU Industri Pengolahan serta LU Pertambangan dan Penggalian.
“Kinerja LU Industri Pengolahan tertahan oleh moderasi aktivitas produksi industri logam dasar berbasis nikel, sementara LU Pertambangan dan Penggalian melambat seiring penyesuaian kuota RKAB bijih nikel pada awal tahun,” katanya.
Hal itu dikemukakan Irfan Sukarna pada Seminar Posalia Sulteng Digifest bertema Artificial Intelligence, Digital Payments, and Innovations di Sriti Convention Hall, Rabu (12/8) siang. Dr. Suparman dari Untad bertindak sebagai moderator.
Dikatakan, selain itu, LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan turut melambat akibat pergeseran musim panen padi dari Triwulan Ike Triwulan II 2026. Namun demikian, perlambatan lebih dalam tertahan oleh perbaikan LU Konstruksi yang kembali tumbuh positif pada Triwulan I 2026.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I 2026 ditopang oleh peningkatan Konsumsi Pemerintah dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Konsumsi Pemerintah tumbuh meningkat tajam seiring low base effect akibat kebijakan efisiensi dan realokasi anggaran pada tahun sebelumnya, sementara PMTB kembali tumbuh positif sejalan dengan mulai meningkatnya aktivitas konstruksi.
“Di sisi lain, pertumbuhan tertahan oleh perlambatan Ekspor Barang dan Jasa yang sejalan dengan moderasi kinerja LU Industri Pengolahan, serta Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya,” katanya.
Sedangkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Sulawesi Tengah pada Triwulan I 2026 mengalami inflasi sebesar 2,83% (yoy), lebih rendah dibandingkan Triwulan IV 2025 yang sebesar 3,31% (yoy), tetap terkendali pada kisaran sasaran sebesar 2,5±1%.
Dalam buku Laporan Perekonomian Sulteng, Irfan Sukarna juga menyebutkan, penurunan inflasi pada Triwulan I 2026 tersebut terutama bersumber penurunan sumbangan tekanan inflasi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi sebesar 0,95% dibandingkan periode sebelumnya sebesar 1,74%.
Meredanya tekanan pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh komoditas pangan strategis. Lebih lanjut, Kelompok Transportasi merupakan kontributor terbesar kedua dengan terhadap melandainya tekanan inflasi pada Triwulan 1 2026 menjadi sebesar 0,01%, dibandigkan periode sebelumnya sebesar 0,17%.
Hal ini sejalan dengan penerapan insentif pemerintah terhadap biaya transportasi pada momen Ramadhan dan HBKN ‘Idul Fitri di tahun 2026. Sementara itu, kelompok pengeluaran lainnya relatif menunjukkan pergerakan melandai dan terkendali, didukung oleh sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Kenaikan Harga
Inflasi Sulawesi Tengah pada Triwulan II 2026 diperkirakan tetap terjaga pada batas atas sasaran inflasi nasional sebesar 2.50%-3.50% (yoy). Secara triwulanan, tekanan harga diperkirakan meningkat dibandingkan Triwulan 1 2026 seiring faktor cuaca El Nino dan potensi masih ters berlanjutkan konflik timur tengah dan peningkatan aktivitas ekonomi awal tahun.
Inflasi Volotile Food (VF) pada Triwulan II 2026 diperkirakan melandai seiring perbaikan stok. Meskipun menunjukkan yang melandai, risiko tekanan harga tetap perlu diwaspadai akibat potensi anomali cuaca El Nino lemah-moderat yang diprakirakan mencapai puncaknya pada awal Triwulan II 2026.
“Kondisi iklim kering ini berpotensi menjadi pemicu utama kenaikan harga pada berbagai bahan pangan utama Namun, laju inflasi VF secara kumulatif masih dapat ditekan lebih rendah seiring membaiknya tata kelola pasokan dan efektivitas intervensi ketahanan pangan di daerah,” paparnya.
Dijelaskan, pada komponen Administered Prices (AP), tekanan inflasi Triwulan II 2026 diperkirakan meningkat. Peningkatan pada kelompok in terutama didorong oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi, penyesuaian batas maksimal fuel surcharge penerbangan domestik.
Risiko imported inflation yang merambat pada biaya energi, bahan bak produksi, dan tarif logistik juga turut memberikan dorongan tambahan. Namun demikian peningkata inflasi AP dapat tertahan oleh insentif kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (pp DTP) untuk jasa angkutan udara, yang secara efektif mencegah lonjakan tarif secara struktural.
Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Sulawesi Tengah pada Triwulan 1 2026 tetap terjaga, ditandai oleh penyaluran kredit Bank Umum yang meningkat sebesar 15,36% (yoy) dan pertumbuhan DPK sebesar 9,78% (yoy).
Meskipun ekspansi ini memperketat likuiditas perbankan dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 167,23%, risiko kredit agregat masih relatif kecil dengan rasio Non Performing Loan (NPL) Gross yang terkendali pada level 1,83%.
Secara sektoral, industri pengolahan menjadi penggerak utama pertumbuhan kredit produktif. Di sisi lain, sektor konstruksi dan perdagangan merupakan sektor dengan tingkat kerentanan utama pada perbankan daerah karena kredit macet yang tinggi.
Secara spasial, pangsa kredit Kabupaten Banggai mengalami pertumbuhan tertinggi, sementara itu Kota Palu masih mendominasi pangsa kredit provinsi.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sulawesi Tengah pada Februari 2026 tercatat sebesar 2,95 persen, menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 3,02 persen. Penurunan sebesar 0,07 persen tersebut menunjukkan perbaikan kondisi pasar tenaga kerja dalam setahun terakhir.
Persentase penduduk miskin pada September 2025 tercatat sebesar 10,52 persen atau sekitar 345,38 ribu jiwa, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 11,04 persen atau 358,33 ribu jiwa. Secara tahunan, terjadi penurunan 0,52 persen yang mencerminkan perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Rasio Gini Sulawesi Tengah pada September 2025 sebesar 0,277, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 0,309. Penurunan ini mengindikasikan distribusi pengeluaran yang semakin merata secara tahunan.
Nilai Tukar Petani (NTP) pada Triwulan 12026 tercatat sebesar 98,25, lebih rendah jika dibandingkan dengan Triwulan IV 2025 yang sebesar 101,59, Penurunan ini menunjukkan adanya pelemahan pada daya beli petani, secara level NTP berada di bawah 100. Dengan demikian, para petani mengalami defisit dimana biaya yang dikeluarkan untuk produksi serta biaya kebutuhan sehari-hari lebih besar daripada nilai jual hasil panen mereka.
Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah diperkirakan berada pada kisaran 7,72 -8,52% (yoy). Kinerja tersebut masih ditopang oleh dominannya peran LU Industri Pengolahan berbasis nikel dan LU Pertambangan dan Penggalian dalam struktur ekonomi daerah.
Namun demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, terutama meningkatnya ketidakpastian global akibat tensi geopolitik, pengetatan kondisi keuangan global, serta moderasi pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang berpotensi memengaruhi permintaan eksternal terhadap produk berbasis nikel dan logam.
Selain itu, dinamika oversupply nikel global, risiko keterbatasan bahan baku, serta penyesuaian kuota penambangan bijih nikel juga berpotensi menahan laju pertumbuhan sektor utama Sulawesi Tengah pada tahun 2026.MAN/HAI






