Oleh: Ibnu Mundzir
Allahuma syaiban nafian…di Hari sabtu, 5 september 2026, dilapangan vatulemo, masyarakat Kota Palu melaksanakan sholat istisqa, atau salat memohon hujan, pelaksanaannya diikhtiari bukan semata hanya sebagai solusi “memohon hujan” semata, tetapi wujud kesadaran kita sebagai manusia bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan kekuasaan, teknologi, anggaran, dan ikhtiar manusia—ada saatnya kita harus sadar diri, menundukkan diri kita di hadapan Allah SWT memilih jalan yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Salat istisqa secara tidak langsung mengajarkan kita arti kerendahan hati yang mendalam, bahwa manusia, sehebat apa pun ilmu dan kekuasaannya, tetaplah hanya sekedar makhluk yang bergantung kepada Allah SWT.
Di tengah situasi kemarau seperti saat ini, ketika cuaca semakin memanas, tanah mulai kering, pepohonan kehilangan kesegarannya, dan air menjadi semakin berharga, kita diingatkan bahwa hujan itu bukanlah sekadar fenomena alam semata. Ia adalah rahmat Allah yang menghidupkan bumi dan menopang pri kehidupan manusia.
Karena itu, sholat istisqa sesungguhnya bukanlah sekedar ritual untuk meminta turunnya hujan. Ia adalah momentum untuk melakukan introspeksi bahwa sudahkah kita menjaga alam yang Allah amanahkan kepada kita? Sudahkah kita menggunakan air dengan bijak? Sudahkah kita memperlakukan lingkungan dengan penuh tanggung jawab?
Kota Palu, punya pengalaman bagaimana alam dapat berubah menjadi kekuatan yang luar biasa. Gempa, tsunami, likuefaksi, banjir, dan berbagai bencana telah mengajarkan kepada kita bahwa kesombongan manusia di hadapan alam tidak pernah memiliki tempat sedikitpun.
Maka ketika hari ini kita melaksanakan salat istisqa, sejatinya kita sedang mengatakan: “Ya Allah, kami datang bukan karena kami kuat, tetapi karena kami sadar bahwa kami lemah. Kami bukan pemilik bumi ini, kami hanya dititipkan untuk menjaganya.”
Dan mungkin, hikmah terdalam dari sholat istisqa bukan hanya agar langit menurunkan hujan, tetapi agar hati manusia terlebih dahulu “menurunkan hujan” berupa kesadaran, keinsafan, kasih sayang, dan kepedulian.
Sebab bisa jadi yang perlu kita sirami terlebih dahulu bukan hanya tanah yang kering, tetapi juga hati yang mulai kering dari rasa syukur dan kepedulian.
Salat istisqa, mengajarkan bahwa menghadapi persoalan kota tidak cukup hanya dengan pendekatan teknis. Pemerintah perlu bekerja, masyarakat perlu berikhtiar, para ilmuwan perlu memberikan pengetahuan, dan seluruh warga perlu menjaga lingkungan. Tetapi di atas semua ikhtiar itu ada kesadaran spiritual bahwa ikhtiar manusia dan kehendak Allah harus berjalan bersama.
Semoga dari salat istisqa di Kota Palu, bukan hanya hujan yang turun dari langit, tetapi juga rahmat yang turun ke bumi, ketenangan yang turun ke hati, dan kesadaran yang tumbuh dalam diri kita untuk menjadi manusia yang lebih bersyukur dan lebih bertanggung jawab menjaga ciptaan Allah.
Jika hujan adalah rahmat yang menghidupkan bumi, maka kesadaran adalah “hujan” yang menghidupkan peradaban.
Semoga Allah SWT menurunkan hujan yang bermanfaat, membawa keberkahan, menyuburkan tanah, memenuhi sumber-sumber air, dan menjadi rahmat bagi seluruh masyarakat Kota Palu…Wallahualam. ***
Penulis adalah ASN, Sekretaris DLH Kota Palu






