FKM Untad Luncurkan Gerakan Berani Magaya Lawan TB

Untad meluncurkan gerakan Berani Magaya, sebagai bagian dari puncak Dies Natalis ke-9 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad di Auditorium Untad, Sabtu (22/8/2026).

TONDO, MERCUSUAR — Universitas Tadulako (Untad) meluncurkan gerakan Berani Magaya (Berantas Infeksi TBC, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga), sebagai bagian dari puncak Dies Natalis ke-9 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad di Auditorium Untad, Sabtu (22/8/2026).

Gerakan tersebut melibatkan 1.073 mahasiswa dan 155 dosen dari tujuh perguruan tinggi di Sulawesi Tengah. Para mahasiswa akan berperan mendampingi pasien dan keluarga melalui edukasi, penguatan kepatuhan pengobatan, serta pencegahan penularan di masyarakat.

Peluncuran tersebut mendapat dukungan pemerintah pusat dengan hadirnya Wakil Menteri Dalam Negeri Komjen Pol (Purn.) Dr. H. Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan, serta Direktur Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI dr. Yanti Herman. Turut hadir Gubernur Sulteng Anwar Hafid, Wakil Gubernur Reny A. Lamadjido, Kepala LLDIKTI Wilayah XVI, pimpinan perguruan tinggi, serta jajaran sektor kesehatan.

Rektor Untad, Prof. Dr. Amar mengatakan, eliminasi TBC tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Perguruan tinggi, menurutnya, harus ikut menjadi bagian dari solusi melalui pendidikan, pendampingan, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Untad bersama konsorsium perguruan tinggi se-Sulteng, berkomitmen menjadikan kampus sebagai bagian dari solusi percepatan eliminasi TBC,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pendekatan yang berempati karena salah satu tantangan penanganan TBC adalah stigma terhadap pasien. Mahasiswa dan dosen yang terlibat diminta menjaga kerahasiaan pasien serta memberikan edukasi yang benar kepada keluarga dan masyarakat.

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, mengapresiasi komitmen Untad dan mengingatkan bahwa yang harus diberantas adalah infeksi TBC, bukan menjauhi penderitanya.

“Jadi yang kita berantas itu infeksi TB-nya, bukan menjauhi penderitanya. Saya berharap kita semua bisa memberi dukungan buat mereka agar semangat sembuh,” katanya.

Benjamin juga menyoroti kebutuhan tenaga ahli gizi yang masih besar. Ia mendorong perguruan tinggi meningkatkan kapasitas pendidikan bidang gizi untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid mengatakan, keterlibatan pemerintah pusat, perguruan tinggi, dan sektor kesehatan menunjukkan kuatnya kolaborasi dalam penanggulangan TBC. Ia menargetkan Sulteng bebas TBC dalam tiga tahun ke depan.

“Kita berkomitmen bahwa dalam tiga tahun ke depan Sulawesi Tengah bebas TBC. Kalau kita semua bersatu, saya yakin target itu bisa dicapai,” ujarnya.

Peluncuran Berani Magaya menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi kampus, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menuju target eliminasi TBC sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai kampus berdampak dalam menjawab persoalan kesehatan masyarakat. JEF

Pos terkait