Jangan Wariskan Prasangka dari Konflik Masa Lalu

Rektor UIN Datokarama, Lukman Tahir (tengah) bersama Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Inayah Rohmaniah (kiri) saat menghadiri Lokakarya LKLB, di Palu, baru-baru ini. FOTO: IMAM EL ABRAR/MS

PALU, MERCUSUAR – Pengalaman konflik komunal di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Poso, pada kurun 1998 sampai 2001 meninggalkan pelajaran mahal tentang rapuhnya kepercayaan sosial, ketika identitas agama bertemu dengan kepentingan politik, ekonomi, sosial, serta disinformasi.

Hal itu disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Prof. Dr. H. Lukman Thahir dalam Hybrid Upgrading Workshop (HUW) atau Lokakarya Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diadakan UIN Datokarama bersama Institut Leimena, di Palu, Minggu (20/9/2026).

Berdasarkan pengalaman pahit tersebut, menurut Lukman, pendidikan perlu diarahkan untuk membangun kompetensi generasi muda agar dapat hidup bahkan bekerja sama dalam masyarakat majemuk.

Ia menegaskan, keberagaman tidak bisa hanya dijelaskan secara deskriptif “kita berbeda”, melainkan sebagai kenyataan bahwa orang-orang yang berbeda itu, hidup dalam ruang sosial yang sama dan saling berhubungan satu sama lain.

“Keberagaman tidak dapat dikelola hanya dengan prinsip ‘saya tidak mengganggu Anda, dan Anda jangan mengganggu saya.’ Itu penting, tetapi belum cukup. Masyarakat majemuk membutuhkan kemampuan lebih tinggi untuk berjumpa, memahami, membangun kepercayaan, dan bekerja sama melampaui batas identitas,” tutur Lukman.

Ia juga menekankan, wilayah Sulteng tidak boleh hanya dibaca melalui sejarah konfliknya, tapi juga kemampuan masyarakatnya untuk pulih, berdialog, membangun kembali hubungan, dan menciptakan ruang kehidupan bersama.

“Di sinilah pendidikan khususnya pendidikan agama dan guru berperan strategis,” tegas Lukman.

“Pertanyaannya bagi kita sebagai pendidik, apa yang ingin kita wariskan kepada anak-anak kita: ingatan tentang siapa yang harus dicurigai, atau kemampuan untuk hidup bersama tanpa kehilangan identitas?” tandasnya.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Prof. Inayah Rohmaniyah mengatakan LKLB adalah upaya untuk menanamkan kecerdasan beragama kepada masyarakat. Guru saat ini berhadapan dengan generasi muda yang mempunyai cara berbeda dalam beragama sehingga pendidikan agama tidak bisa lagi ditanamkan secara konservatif dan normatif.

Inayah menambahkan, Program LKLB tidak hanya diikuti guru agama, namun guru dari semua mata pelajaran. Para guru yang merupakan alumni pelatihan dasar LKLB tersebut mengikuti rangkaian sesi untuk menyusun rancangan pembelajaran, modul, atau program sekolah berbasiskan nilai-nilai LKLB.

“LKLB ini sebenarnya membantu kita untuk menanamkan keberagaman dengan cara anak muda, salah satunya dengan bertemu langsung orang lain yang berbeda agama. Anak muda suka sesuatu yang pragmatis dan bisa langsung dirasakan, tidak terlalu rumit, sehingga perjumpaan menjadi penting,” jelas Inayah.

Lokakarya LKLB yang diadakan pada 18—20 September 2026 diikuti oleh 40 guru dan wakil atau kepala sekolah lintas agama dari berbagai wilayah di Provinsi Sulteng dan Sulbar. */IEA

Pos terkait