Kemarau Melanda Sulteng Hingga Akhir Tahun 

Forecaster BMKG Mutiara Sis Al Jufri Palu, Fathan Labanu saat memantau alat pengukur intensitas penyinaran matahari di kantor BMKG Mutiara Sis Aljufri, Palu, Selasa (11/8/2026).

BIROBULI UTARA, MERCUSUAR – Kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Sulteng perkirakan cerah dan kering. Minimnya pertumbuhan awan hujan turut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Hal ini disampaikan Forecaster BMKG Mutiara SIS Al Jufri Palu, Fathan Labanu, Selasa (11/8/2026). Ia mengatakan berdasarkan pantauan satelit dan radar cuaca, sejak awal Agustus pertumbuhan awan di hampir seluruh wilayah Sulteng tidak berkembang secara maksimal.

“Dari pantauan kami, hampir seluruh wilayah Sulawesi Tengah dalam kondisi cerah. Tidak ada pertumbuhan awan maupun awan-awan yang berpotensi menghasilkan hujan,” kata Fathan.

Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan wilayah Sulteng yang mulai memasuki musim kemarau. Berdasarkan perkiraan iklim BMKG, sejumlah wilayah di Sulteng telah memasuki musim kemarau sejak Juli, sementara pada Agustus hampir seluruh wilayah diperkirakan telah berada dalam periode tersebut.

Fathan juga menyebut adanya pengaruh fenomena El Nino yang diprediksi cukup kuat. Kondisi ini turut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan cuaca di sejumlah wilayah menjadi lebih kering.

Khusus Kota Palu, suhu udara saat ini berada pada kisaran 22 derajat Celsius pada malam hari hingga 36 derajat Celsius pada siang hari. Perbedaan suhu yang cukup signifikan tersebut membuat masyarakat diimbau lebih memperhatikan kondisi tubuh saat beraktivitas di luar ruangan.

Meski mencapai 36 derajat Celsius, Fathan mengatakan suhu tersebut masih tergolong normal untuk kondisi musim kemarau. Suhu 34 hingga 36 derajat Celsius juga masih kerap terjadi pada bulan-bulan sebelumnya.

“Kalau untuk rata-ratanya mungkin tidak terlalu. Suhu 36 derajat Celsius itu masih dalam tahap normal,” imbuhnya.

Namun, kondisi yang menjadi perhatian adalah tingkat kekeringan. Minimnya pertumbuhan awan menyebabkan kelembapan udara berkurang sehingga kondisi lingkungan terasa lebih kering.

“Kondisinya memang lebih kering karena tidak ada pertumbuhan awan, sehingga kelembapan juga sangat kurang. Jadi, memang kulit kita akan terasa lebih kering dibandingkan hari-hari biasanya,” jelas Fathan.

Kondisi cuaca kering tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko karhutla. Minimnya pertumbuhan awan hujan membuat pasokan hujan di sejumlah wilayah Sulteng berkurang. Fathan menyebut karhutla bahkan telah terjadi di beberapa wilayah. IKI

Pos terkait