PALU, MERCUSUAR — Grand Final Koko Cici Sulawesi Tengah 2026 menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperkuat promosi budaya, merawat kebinekaan, dan membangun toleransi di Sulawesi Tengah. Ajang tersebut digelar di Milenium Waterpark, Jumat (21/8/2026).
Enam pasang finalis mengikuti rangkaian penilaian hingga menyisakan tiga pasangan terbaik. Tiga pasangan tersebut kemudian menjawab pertanyaan dari dewan juri untuk menentukan Koko dan Cici Sulawesi Tengah 2026.
Dewan juri terdiri atas Linda Tindige, Wijaya Chandra, Marcelo Badillo, Suci Kamnis, dan Vidi.
Ketua Ikatan Koko Cici Sulawesi Tengah, Marcelo Badillo, meminta para finalis tidak menjadikan hasil grand final sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
“Jangan mengukur keberhasilan dengan hasil malam ini. Semua usaha kalian sudah menjadikan kalian pemenang. Walaupun belum menang, perjalanan kalian belum berakhir. Kalau kalian menang, perjalanan kalian baru dimulai,” ujarnya.
Menurut Marcelo, pemilihan Koko Cici Sulawesi Tengah telah dimulai sejak 2015 dan penyelenggaraan 2026 menjadi edisi kelima. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh sponsor dan pihak yang mendukung kegiatan.
Sementara itu, Pembina Koko Cici Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, mengatakan seluruh finalis merupakan putra-putri terbaik yang telah melewati proses seleksi dan pembinaan, termasuk penggemblengan mental serta pemahaman kebudayaan.
“Mereka adalah putra-putri terbaik yang telah mengalami proses seleksi, penggemblengan mental, kebudayaan, dan lain-lain, sehingga dapat men-support pariwisata Sulteng dan Kota Palu,” kata Wijaya.
Ia berharap siapa pun yang terpilih dapat membawa nama Sulawesi Tengah ke tingkat nasional. Menurutnya, Koko Cici tidak hanya bertugas mempromosikan budaya Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya merawat kebinekaan dan keberagaman di Sulawesi Tengah.
Wijaya mengungkapkan, Koko Cici Sulteng telah ada sebelum terbentuknya PSMTI Sulawesi Tengah. Gagasan penyelenggaraan pertama kali lahir dari semangat yang ditularkan almarhum Mahatir Muhammad.
Ajang yang pada awalnya ditujukan bagi generasi muda etnis Tionghoa tersebut kemudian berkembang menjadi lebih inklusif. Koko Cici generasi pertama di Sulawesi Tengah bahkan diisi perwakilan dari beragam etnis.
“Palu memiliki toleransi yang luar biasa. Kita bisa masuk apa saja, bisa diterima di mana saja. Orang Tionghoa bisa ikut pemilihan Randa Kabilasa,” ujarnya.
Wijaya mengajak generasi muda menjaga toleransi, kebersamaan, dan persatuan di Kota Palu. Ia juga mendorong anak muda mempelajari bahasa Mandarin yang dinilainya semakin penting dalam interaksi internasional.
Dalam hasil pemilihan, Koko Erick dan Cici Eugine ditetapkan sebagai Koko dan Cici Sulawesi Tengah 2026. Keduanya berhak mewakili Sulawesi Tengah pada pemilihan Koko Cici tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 2027.
Adapun posisi Wakil 1 diraih Koko Braxton dan Cici Alisa, sedangkan Wakil 2 diraih Koko Vincent dan Cici Priskilla.
Sejumlah gelar lainnya juga diberikan. Koko dan Cici Favorit diraih Koko Braxton dan Cici Eugine, Koko dan Cici Berbakat diraih Koko Raffi dan Cici Vanetta, Koko dan Cici Persahabatan diraih Koko Dimas dan Cici Ristifani, serta Koko dan Cici Sosial Media diraih Koko Rizal dan Cici Monica.
Melalui Koko Cici Sulawesi Tengah, para finalis diharapkan tidak hanya menjadi duta budaya, tetapi juga representasi generasi muda yang menjunjung keberagaman sekaligus ikut mempromosikan pariwisata dan kebudayaan Sulawesi Tengah. JEF







