Jembatan Garuda Buka Akses, Air Bersih Hadir Setelah 40 Tahun

Pangdam XXII/Palaka Wira Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar bersama Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase saat mencoba melintasi Jembatan Garuda di Desa Nambaru, Kecamatan Parigi Selatan, Parigi Moutong, Jumat (21/8/2026). FOTO: MUHAMMAD RIFKI/MS

PARIGI MOUTONG, MERCUSUAR – Kehadiran Jembatan Garuda di Desa Nambaru, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, membawa perubahan bagi aktivitas masyarakat, terutama mengangkut hasil perkebunan. Warga yang sebelumnya harus memikul hasil kebun untuk melewati sungai, kini dapat menggunakan sepeda motor sehingga biaya angkutan menjadi lebih ringan.

Kepala Dusun 5 Desa Nambaru, Wadin, mengatakan sebelum jembatan dibangun, warga harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk membawa hasil perkebunan dari lokasi kebun. Sebagian hasil kebun bahkan harus dipikul karena belum tersedia akses penghubung yang memadai.

“Karena adanya jembatan ini, sekarang warga bisa menggunakan sepeda motor untuk mengangkut hasil kebun dengan biaya yang lebih rendah karena cukup mengeluarkan biaya bahan bakar,” kata Wadin saat peresmian Jembatan Garuda di Desa Nambaru, Jumat (21/8/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut sebelumnya membuat pendapatan masyarakat dari hasil perkebunan menjadi berkurang. Biaya tenaga untuk mengangkut hasil kebun bisa mencapai Rp200 ribu.“Kalau awalnya, biaya tenaga sampai Rp200 ribu. Jadi, pendapatan mereka sangat tipis,” tambahnya

.Ia mencontohkan pengangkutan buah kelapa. Sebelum ada jembatan, kelapa harus dipikul dari lokasi perkebunan. Kini, hasil kebun tersebut dapat dibawa menggunakan sepeda motor dengan mengangkutnya dalam karung.Selain menekan biaya angkutan, keberadaan jembatan juga membuat warga lebih aman ketika menyeberangi sungai. Risiko tersebut terutama dirasakan saat debit air meningkat dan terjadi banjir.

Wadin mengatakan, kondisi sungai sebelumnya menjadi salah satu kendala masyarakat dalam menjalankan aktivitas pertanian. Ketika air sungai mulai meluap, warga terpaksa segera kembali ke rumah karena khawatir tidak dapat menyeberang dengan aman.Pembangunan jembatan tersebut, kata dia, merupakan hasil usulan masyarakat yang sebelumnya disampaikan kepada pemerintah melalui proposal. Setelah menunggu cukup lama, usulan itu akhirnya terealisasi pada 2026 melalui pembangunan jembatan gantung yang kini menjadi akses penting bagi warga.Wadin menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, TNI AD, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan jembatan tersebut.

“Untuk itu, manfaat jembatan gantung ini, kami sangat berterima kasih kepada pemerintah pusat,” ucapnya.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Nambaru, Budiman JR, mengatakan pembangunan jembatan tersebut telah dinantikan masyarakat selama sekitar 10 tahun.

“Jembatan ini sudah sekian tahun lama, sekitar 10 tahun lama kita menanti, dan alhamdulillah dalam beberapa waktu belakangan sudah terwujud,” katanya.

Menurut Budiman, jembatan menjadi akses penting bagi masyarakat karena selama ini mobilitas warga sangat terbatas, terutama ketika kondisi sungai tidak memungkinkan untuk diseberangi.Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, Presiden RI Prabowo Subianto, serta jajaran TNI AD yang telah membantu mewujudkan pembangunan jembatan tersebut.Budiman berharap masyarakat dapat menjaga dan merawat jembatan sebagai fasilitas bersama agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Kami mewakili seluruh masyarakat Desa Nambaru mengucapkan alhamdulillah syukur dengan adanya jembatan ini,” ucapnya lagi.

Sementara itu, Dandim 1306/Kota Palu Kolonel Inf. Yudhi Hendro Prasetyo mengatakan pembangunan jembatan merupakan bagian dari program pemerintah untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap infrastruktur dasar.Menurut dia, hingga saat ini pihaknya telah mengerjakan 11 jembatan yang tersebar di Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, dan Donggala.

Pembangunan jembatan dilakukan berdasarkan hasil pendataan dan skala prioritas, terutama di desa-desa yang benar-benar membutuhkan akses penghubung dan memiliki jumlah penerima manfaat yang cukup banyak.“Kita benar-benar mencari yang penerima manfaatnya cukup banyak. Kita utamakan itu, sehingga kita buat skala prioritas mana yang benar-benar masyarakat membutuhkan,” kata Yudhi.

Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan merawat jembatan yang telah selesai dibangun sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang.Pembangunan infrastruktur tersebut tidak hanya membuka akses transportasi, tetapi juga memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari serta mendukung peningkatan kualitas kehidupan warga.Jembatan Garuda di Desa Nambaru merupakan bagian dari pembangunan jembatan yang dilakukan Kodam XXIII Palaka Wira.

Secara keseluruhan, Kodam XXIII Palaka Wira membangun 106 Jembatan Garuda, masing-masing 53 jembatan di Sulawesi Tengah dan 53 jembatan di Sulawesi Barat.Jembatan-jembatan tersebut dibangun untuk menghubungkan antardesa sekaligus membuka akses masyarakat menuju kawasan pertanian dan perkebunan.

Warga bersama anaknya merasa senang usai mendapatkan sarana air bersih di Dusun 4, Desa Sibalago,Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parimo, Sulawesi Tengah, Jumat (21/8/2026). Foto : Muhammad Rifki/MS

40 Tahun Warga Sibalago Kesulitan Air Bersih

Dusun 4, Desa Sibalago, Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, akhirnya mendapat akses sarana air bersih setelah selama sekitar 40 tahun mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.Selama puluhan tahun, masyarakat di wilayah tersebut terpaksa mengandalkan sungai untuk mendapatkan air guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi itu menjadi perhatian dalam program pembangunan sarana air bersih yang dilakukan Kodam XXIII Palaka Wira di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.Kodam XXIII Palaka Wira membangun 90 titik sarana air bersih, terdiri atas 43 titik di Sulawesi Tengah dan 47 titik di Sulawesi Barat. Pembangunan tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih.

Di Dusun 4 Desa Sibalago, keberadaan sarana air bersih diharapkan dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap air sungai yang selama ini menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan mereka.Bagi masyarakat setempat, penyediaan sarana air bersih tidak sekadar menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga menjawab kebutuhan dasar yang telah dirasakan selama puluhan tahun.

Pembangunan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah bersama TNI AD dalam memperluas akses terhadap infrastruktur dasar, khususnya bagi masyarakat di wilayah yang selama ini belum mendapatkan layanan air bersih secara memadai.Dengan tersedianya sarana air bersih, warga Sibalago kini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air dengan lebih mudah dan layak, sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di wilayah tersebut. IKI

Pos terkait