PALU, MERCUSUAR – Ketua APINDO Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, mengajak mahasiswa STAH Dharma Sentana untuk melihat warisan megalitik Sulawesi Tengah bukan hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai aset strategis yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan, sekaligus sumber lahirnya entrepreneur muda.
Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar Nasional yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-18 STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah, Kamis (4/6/2026). Seminar yang mengusung tema “Sinergi Dunia Pendidikan, Keuangan, dan Pariwisata dalam Menciptakan Entrepreneur Muda Nusantara” itu menghadirkan Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, sebagai keynote speaker.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sulawesi Tengah, Putri Irnawati, Asisten Manager Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah, Endang Dwi Lestari Muris, serta arkeolog, Iksam Djorimi. Kehadiran para narasumber tersebut merepresentasikan sinergi antara dunia pendidikan, usaha, keuangan, dan pariwisata yang menjadi fokus seminar.
Dalam pemaparannya, Wijaya Chandra yang akrab disapa Ko Awi menyoroti besarnya potensi kawasan megalitik yang tersebar di Sulawesi Tengah sebagai jejak peradaban masa lalu yang masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurutnya, tinggalan megalitik yang ada di Sulawesi Tengah memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang sangat besar apabila dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
“Bagi adik-adik mahasiswa jurusan pariwisata, aset sejarah masa lalu melalui tinggalan megalitik di Sulawesi Tengah ini memiliki potensi besar, baik dari sisi sejarah, budaya maupun ekonomi untuk pengembangan pariwisata ke depan,” ujarnya.
Ko Awi menilai, pengembangan destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan objek wisata semata. Berbagai aspek pendukung seperti akomodasi, pelayanan (hospitality), ekonomi kreatif, hingga promosi digital juga harus dibangun secara terpadu.
“Kita diberkati dengan kekayaan peninggalan megalitik ini. Karena itu kita harus memanfaatkannya dan mengelolanya dengan baik, termasuk seluruh unsur pendukung destinasi tersebut,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemanfaatan teknologi dan media sosial untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Tengah kepada masyarakat yang lebih luas. Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini membuka banyak peluang bagi generasi muda untuk membangun usaha berbasis pariwisata.
Mengutip sebuah pepatah Tionghoa, Ko Awi mengatakan bahwa di balik setiap bahaya, tantangan, dan risiko selalu terdapat kesempatan yang dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mampu membacanya dengan tepat.
Pandangan tersebut mendapat dukungan dari arkeolog, Iksam Djorimi yang menilai masih banyak potensi kebudayaan Sulawesi Tengah yang belum tergarap secara maksimal. Karena itu, perguruan tinggi dan mahasiswa, khususnya dari bidang pariwisata, memiliki peran penting dalam mengembangkan dan mempromosikan kekayaan budaya daerah.
Menurut Iksam, peluang tersebut semakin terbuka setelah kawasan Megalitik Lore Lindu masuk dalam tentative list Warisan Dunia UNESCO pada 15 April 2025.
“Di sinilah peran perguruan tinggi sangat penting. Informasi dan kajian kesejarahan dapat menjadi daya tarik yang memperkuat posisi Sulawesi Tengah sebagai destinasi wisata budaya,” ujarnya.
Sementara itu, sebelumnya, Ketua Yayasan Dharmakerti, I Nyoman Kormek, SE., M.Si., dalam sambutannya, mengapresiasi kontribusi Wijaya Chandra yang menyumbangkan 200 eksemplar buku autobiografinya kepada STAH Dharma Sentana.
Menurut Kormek, sumbangan tersebut tidak hanya memperkaya literasi kampus, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa yang ingin menekuni dunia usaha.
“Kami berharap Ko Awi tidak hanya menyumbangkan buku, tetapi juga dapat terus berbagi pengalaman dan wawasan kepada mahasiswa mengenai dunia entrepreneurship. Pengalaman praktis seperti itu sangat dibutuhkan generasi muda saat ini,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan bahwa tema seminar sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini dalam mencetak generasi muda yang berjiwa entrepreneur dan mampu berkontribusi terhadap pembangunan bangsa.
Menurutnya, sektor pariwisata harus dikembangkan dengan tetap menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ia juga mendorong generasi muda untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki daerah masing-masing sebagai modal pembangunan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Melalui seminar tersebut, STAH Dharma Sentana berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menjadi pelopor dalam pengembangan pariwisata, pelestarian budaya, dan kewirausahaan berbasis potensi lokal Sulawesi Tengah. JEF






