MOROWALI, MERCUSUAR – Upaya menjaga produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan lokal di Morowali terus didorong melalui pengendalian hama yang ramah lingkungan. Salah satunya dilakukan PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali dengan merevitalisasi Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT).
Revitalisasi PHTT dilaksanakan pada 11–12 Agustus 2026, yang dipadukan dengan pelatihan konservasi burung hantu dan pembuatan Rumah Burung Hantu (Rubuha) pada 7–9 Agustus 2026. Kegiatan tersebut melibatkan petani di wilayah pemberdayaan dan merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale.
Program ini diarahkan untuk mendorong pertanian yang produktif sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Petani tidak hanya dibekali pengetahuan teknis pengendalian hama, tetapi juga didorong mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan rodentisida kimia.
Melalui pendekatan PHTT, pengendalian populasi tikus dilakukan dengan memadukan sejumlah metode, antara lain sanitasi lahan, penutupan lubang tikus, gropyokan atau perburuan tikus secara bersama-sama, serta pemanfaatan predator alami.
Salah satu predator alami yang diperkenalkan dalam program tersebut adalah burung hantu Tyto rosenbergii. Keberadaan burung hantu diharapkan membantu menekan populasi tikus secara alami sehingga penggunaan bahan kimia dalam pengendalian hama dapat dikurangi.
Manager Social Development Program Regional and Growth PT Vale, Lalu Nofa Setiawan Putra, mengatakan keberhasilan pembangunan masyarakat tidak hanya diukur dari peningkatan kapasitas ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat membangun sistem yang tangguh dan berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan bahwa kehadiran PT Vale mampu memberikan nilai tambah yang nyata bagi masyarakat. Pertanian merupakan salah satu sumber penghidupan utama di wilayah Morowali, sehingga penguatan kapasitas petani, perlindungan hasil panen, dan pemeliharaan keseimbangan lingkungan menjadi bagian penting dari upaya menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, revitalisasi PHTT juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali pengetahuan dan praktik lokal yang mulai ditinggalkan. Sanitasi pematang dan gropyokan, misalnya, telah lama dikenal masyarakat sebagai metode pengendalian tikus.
Namun, perubahan pola pertanian dan berkurangnya aktivitas kolektif di tingkat desa membuat sejumlah praktik tersebut tidak lagi dilakukan secara konsisten.
“Pengendalian hama tidak bisa dilakukan secara individual. Tikus tidak mengenal batas kepemilikan lahan. Karena itu, keberhasilannya sangat bergantung pada kerja bersama. Melalui program ini, kami ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa, sekaligus memperkuatnya dengan pendekatan yang lebih ilmiah dan terukur,” jelasnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena persoalan hama tikus tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Penurunan hasil panen dapat memengaruhi pendapatan keluarga, aktivitas ekonomi desa, hingga ketahanan pangan masyarakat.
Sebaliknya, produktivitas pertanian yang terjaga dapat membuka ruang bagi peningkatan kesejahteraan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga petani.
Sebagai tindak lanjut, sejumlah Rumah Burung Hantu yang telah dibuat dipasang di titik-titik lahan pertanian kelompok tani binaan. Pemantauan berkala juga akan dilakukan untuk mengetahui efektivitas metode pengendalian yang diterapkan sekaligus mengidentifikasi peluang pengembangannya di wilayah pemberdayaan lainnya.
Program tersebut menunjukkan bahwa solusi berkelanjutan tidak selalu harus bergantung pada teknologi kompleks. Penggabungan pengetahuan ilmiah, kearifan lokal, kerja gotong royong, dan pemanfaatan keseimbangan alam dapat menjadi pendekatan yang relevan dalam menjawab tantangan pertanian.
Melalui revitalisasi PHTT, PT Vale tidak hanya mendorong petani mengendalikan hama secara lebih ramah lingkungan, tetapi juga berupaya membangun fondasi pertanian yang lebih produktif, tangguh, dan adaptif terhadap tantangan di masa depan.TIN







