MOROWALI, MERCUSUAR — Universitas Tadulako (Untad) mendorong pemulihan budidaya rumput laut di Kabupaten Morowali melalui penerapan teknologi rekayasa lingkungan dan pengembangan produk olahan berbasis rumput laut.
Upaya tersebut dilakukan melalui program pengabdian kewilayahan bertajuk “Rekayasa Lingkungan dan Reka Cipta Rumput Laut sebagai Solusi Pemulihan Dampak Pertambangan di Kabupaten Morowali Mendukung Asta Cita” yang dilaksanakan pada 12 Agustus 2026, di Kantor Desa Moahino, Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali.
Program ini melibatkan tim yang terdiri dari akademisi Untad dan Unisa, yakni Dr. Ir. Zakirah Raihani Ya’la, M.Si., IPM.; Prof. Dr. Ir. Abdul Rahim, S.T.P., M.P., IPM., ASEAN Eng.; Dr. Ir. Dwi Sulistiawati, M.P.; serta Hartina, S.Pi., M.P.
Dr. Ir. Zakirah Raihani Ya’la, M.Si., IPM., menjelaskan bahwa program tersebut diarahkan untuk menjawab persoalan lingkungan yang berdampak terhadap aktivitas budidaya rumput laut, khususnya Kappaphycus alvarezii, di Kabupaten Morowali.

Dalam rancangan program, kerusakan kondisi perairan menjadi salah satu persoalan utama yang perlu direspons melalui rekayasa lingkungan. Karena itu, tim menawarkan teknologi budidaya Kappaphycus alvarezii di tambak sebagai alternatif terhadap ketergantungan masyarakat pada budidaya di perairan laut.
Teknologi tersebut dilakukan melalui rekayasa arus dan pengaturan salinitas. Pompa alkon digunakan untuk membentuk arus buatan, sedangkan salinitas dikendalikan melalui pengaturan pintu air.
Menurut TOR, teknologi budidaya adaptif tersebut merupakan hasil penelitian pada 2017–2018 yang menunjukkan bahwa Kappaphycus alvarezii dapat dibudidayakan di tambak dengan menggunakan pompa alkon sebagai pembentuk arus buatan dan pengelolaan salinitas.
“Teknologi ini diarahkan agar masyarakat memiliki alternatif lokasi budidaya ketika kondisi perairan laut tidak lagi mendukung,” demikian substansi pendekatan yang dikembangkan dalam program tersebut.
Selain rekayasa lingkungan, Zakirah dan tim juga mengembangkan pengolahan rumput laut menjadi produk bernilai tambah. Pengembangan tersebut mencakup pembuatan karaginan, pupuk cair, pupuk padat, pellet makanan ikan, agar-agar tepung, serta agar-agar lembaran.
Pendekatan ini sekaligus diarahkan untuk mengatasi persoalan rendahnya nilai tambah hasil rumput laut. Masyarakat tidak hanya didorong menjual bahan baku, tetapi juga memperoleh keterampilan untuk mengolahnya menjadi produk yang lebih mudah dipasarkan dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Dalam skema kegiatan, Kelompok Pembudidaya Pantofu menjadi salah satu mitra penerima manfaat teknologi budidaya Kappaphycus alvarezii di tambak. Sementara Kelompok Pengolah dan Pemasar GURAMI menjadi mitra untuk pengembangan berbagai produk olahan rumput laut.
Kelompok GURAMI diarahkan untuk mengembangkan produk seperti karaginan yang layak ekspor, pellet makanan ikan dari limbah rumput laut atau karaginan, pupuk organik cair dan padat dari rumput laut non-ekonomis, serta agar-agar berbentuk lembaran dan tepung.
Untuk mendukung proses produksi, tim juga memperkenalkan dan menyediakan berbagai peralatan pengolahan, antara lain mesin pencetak pellet, oven listrik bertekanan tinggi, panci stainless berukuran besar, bak fiber, kompor gas bertekanan tinggi, ember besar, serta timbangan digital berkapasitas hingga 100 kilogram.
Zakirah mengatakan pendekatan tersebut penting karena persoalan rumput laut tidak hanya berkaitan dengan produksi bahan baku, tetapi juga kemampuan masyarakat mengolah dan menciptakan nilai tambah.
Program pengabdian ini menargetkan peningkatan kualitas sumber daya manusia, keterampilan pengolahan rumput laut, produktivitas hasil perikanan, serta pendapatan masyarakat. Pengembangan keterampilan juga diarahkan kepada pemuda, perempuan, dan kelompok masyarakat lainnya sehingga rumput laut dapat menjadi sumber kegiatan ekonomi baru.
Melalui kombinasi rekayasa budidaya dan pengolahan pascapanen tersebut, tim Untad tidak hanya menawarkan solusi terhadap persoalan lingkungan, tetapi juga membangun rantai nilai rumput laut dari produksi hingga pengolahan.
Program ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan masyarakat Morowali beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas rumput laut melalui pemanfaatan teknologi yang relatif sederhana dan mudah diterapkan masyarakat. */JEF







