PALU, MERCUSUAR — Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Tengah menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp72,9 juta untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana. Bantuan hasil penggalangan dana pengurus dan anggota PSMTI serta APINDO Sulteng tersebut dihimpun secara spontan sejak 15 hingga 18 Agustus 2026, kemudian disalurkan melalui Kerukunan Keluarga Nusa Tenggara Timur (KKNTT) Sulteng.
Ketua PSMTI yang juga Ketua APINDO Sulteng, Wijaya Chandra, mengatakan dana dipilih agar penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak.
“Kami berpikir dana itu sangat diperlukan pada saat situasi bencana supaya bisa dibelanjakan atau disesuaikan dengan kebutuhan sahabat-sahabat kita di NTT yang terkena bencana,” katanya.
Wijaya mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas masyarakat Sulteng yang juga pernah menerima dukungan saat bencana Palu, Sigi dan Donggala pada 2018.
“Ketika masyarakat nasional, bahkan dunia, datang ke Sulawesi Tengah untuk sama-sama membangkitkan masyarakat pascabencana, demikianlah kita bisa membalas kebajikan dengan kebajikan,” ujarnya.
Menurut Wijaya, solidaritas tersebut menunjukkan bahwa perbedaan suku dan agama tidak menjadi penghalang untuk membantu sesama. Ia menyebut PSMTI juga beranggotakan masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk Arab, Kaili dan Bali.
“Kota Palu ini kecil, tetapi multi-etnis dan kita bisa bersatu atas nama kemanusiaan,” katanya.
Pembina KKNTT Sulteng, Pendeta Yewin Chandra, mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, kepedulian terhadap korban bencana harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar ungkapan keprihatinan.
“Banyak yang menyatakan prihatin, tetapi dalam praktik aplikasinya jarang. Di sinilah dimulai dari Sulawesi Tengah, untuk NTT dan untuk Indonesia,” ujarnya.
Yewin mengatakan KKNTT telah berkoordinasi dengan jaringan masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah terdampak. Dua titik yang disebut mengalami dampak cukup parah adalah Nagekeo dan Ruteng.
Bantuan akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, antara lain air bersih, tenda, logistik, serta susu bagi bayi usia tiga bulan, enam bulan dan satu tahun. Distribusi akan memanfaatkan wilayah yang tidak terdampak sebagai titik mobilisasi agar pengiriman lebih cepat dan efisien.
“Artinya, apa yang dipercayakan masyarakat Sulawesi Tengah dapat tersampaikan dengan lebih efektif,” katanya.
KKNTT juga akan mendokumentasikan penyaluran bantuan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada para donatur.
Yewin menilai bantuan tersebut bukan semata-mata soal besarnya nilai donasi, tetapi menunjukkan kepekaan dan solidaritas kemanusiaan.
“Hal-hal seperti ini bukan masalah nilainya, tetapi sensibilitas. Kemanusiaan bagi saya di atas segalanya, tentunya di bawah Tuhan,” ujarnya.
Ia berharap solidaritas yang dibangun dari Sulawesi Tengah tersebut menjadi bagian dari semangat gotong royong masyarakat Indonesia.
“Sabang sampai Merauke itu kita lakukan bersama dan dimulai dari Sulawesi Tengah untuk NTT dan untuk Indonesia,” katanya.
Dalam kesempatan itu, KKNTT Sulteng juga menyerahkan cinderamata berupa kain khas NTT kepada Wijaya Chandra yang diserahkan langsung Ketua KKNTT Sulteng, Agustinus Due Dopo.







