PALU, MERCUSUAR – Witan Sulaeman Akademi (WSA) hadir dengan misi yang lebih besar dari sekadar mencetak pemain sepak bola berbakat. Akademi yang baru diluncurkan di Kota Palu itu menargetkan lahirnya generasi muda yang disiplin, berkarakter, dan memiliki sikap positif di tengah masyarakat.
Penanggung Jawab sekaligus Direktur Witan Sulaeman Akademi, Kama Dg Sikki, mengatakan pembinaan di akademi tersebut dirancang untuk menyeimbangkan pengembangan kemampuan sepak bola dengan pembentukan karakter peserta didik.
“Kami ingin mencetak generasi muda yang memiliki disiplin, tanggung jawab, rasa hormat, kerja keras, serta akhlak dan attitude yang baik. Jadi bukan hanya soal kemampuan mengolah bola atau memenangkan pertandingan,” ujar Kama kepada Harian Mercusuar usai peluncuran Witan Sulaeman Akademi, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, manajemen dan jajaran pelatih berkomitmen mengembangkan tiga aspek utama dalam proses pembinaan, yakni skill (keterampilan), knowledge (pengetahuan), dan attitude (sikap) secara seimbang.
Ia menjelaskan, para peserta didik akan dibekali kemampuan teknik, fisik, mental, dan pemahaman taktik yang baik saat berada di lapangan. Namun di luar lapangan, mereka juga dituntut menghormati orang tua dan guru, menjaga etika pergaulan, serta memiliki kepedulian sosial.
“Nilai-nilai itu yang akan menjadi fondasi utama pembinaan di Witan Sulaeman Akademi,” katanya.
Pada tahap awal, WSA menargetkan pembinaan sekitar 150 peserta didik yang dibagi dalam tiga kelompok usia, yakni U-6 hingga U-9 tahun, U-10 hingga U-12 tahun, serta U-13 hingga U-17 tahun.
Untuk kelompok usia dini hingga U-12, pembinaan akan mengacu pada prinsip Grassroots Football yang direkomendasikan PSSI dengan fokus pada pengembangan keterampilan dasar, kreativitas bermain, kecintaan terhadap sepak bola, dan pembentukan karakter sejak usia dini.
Selain latihan rutin di lapangan, WSA juga menyiapkan program Class Room yang digelar setiap bulan. Program tersebut menjadi sarana pembelajaran dan evaluasi bagi peserta didik melalui pemutaran video latihan maupun pertandingan yang mereka jalani.
Kama menegaskan, keberhasilan pembinaan tidak dapat dilakukan akademi sendirian. Karena itu, pihaknya berharap dukungan penuh dari orang tua peserta didik.
“Pelatih hanya mendampingi anak-anak beberapa jam dalam sepekan, sementara pendidikan utama tetap berada di lingkungan keluarga. Karena itu kami mengajak seluruh orang tua menjadi mitra pembinaan yang aktif agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sehat, berprestasi, dan berkarakter,” pungkasnya. CLG






